Interest

Mahasiswa ITB Ciptakan Depression Test, Alat Deteksi Stres Lewat Urine

Dwiwa

Posted on April 22nd 2022

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan sebuah alat deteksi stres sederhana bernama “Depression Test”. Alat yang dibuat oleh mahasiswa ITB yang tergabung dalam kelompok Pekan Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta ini bisa mendeteksi gejala stres melalui pemeriksaan urin.

Dilansir dari laman ITB, kelompok ini diketuai oleh Maha Yudha Samawi (Biologi, 2019) dan beranggotakan Alifia Zahratul Ilmi (Teknik Biomedis, 2019) dan Gardin Muhammad Andika Saputra (Teknik Material, 2019). 

Terkait penggunaan urine pada Depression Test, Gardin menjelaskan bahwa sederhananya orang yang mengalami stres pastinya akan mengalami perubahan konsentrasi pada beberapa zat dalam air kencing mereka. 

“Jadi kami memanfaatkan fase ini. Karena senyawa-senyawanya mengalami perubahan karakter spesifik kalau sudah dikasih sinyal. Dari sana, kami bisa mendeteksi orang yang mengikuti percobaan ini sudah sampai tahap depresi atau belum,” jelas Gardin. 

Inovasi ini sendiri merupakan pengembangan tugas yang dikerjakan Yudha saat menjalani Tahap Persiapan Bersama di SITH ITB. Proses pembuatannya pun dimulai saat masa pandemi. 

Adanya berbagai kendala yang menghadang di masa pandemi, membuat progres pembuatan alat ini cukup lambat dan belum selesai 100 persen. Selain itu, Gardin mengungkapkan bahwa alat yang mereka ciptakan berkaitan dengan lomba, jadi banyak hal-hal tidak terduga yang terjadi. 

“Tapi dari proses ini kita bisa belajar lebih jauh tentang ke depannya sampai rasanya habis presentasi itu kaya kami habis selesai sidang,” cerita Gardin.

Selama proses perancangan, berbagai kendala juga dihadapi oleh kelompok ini. Kendala utamanya adalah transisi waktu. Pasalnya, proposal untuk inovasi ini dibuat saat mereka masih TPB, namun alatnya baru bisa dibuat saat tahun kedua perkuliahan yang di mana waktu tersebut banyak diisi oleh kegiatan orientasi atau ospek jurusan. 

Selain itu, mereka juga merasa saat itu wawasan yang dimiliki masih dasar. Ditambah lagi, pandemi membuat kegiatan ini tak bisa dilakukan di laboratorium yang akhirnya menghambat proses pengambilan data dan analisis.

Untungnya permasalahan itu akhirnya berhasil diatasi. Hal terpenting untuk bisa melanjutkan penelitian adalah menyempatkan waktu untuk melakukan diskusi, menguatkan komitmen, mengatur skala prioritas, dan mengetahui sistem kerja di jurusan kuliah masing-masing untuk dapat mengatur waktu.

Selain itu, pembagian tugas yang efisien juga menjadi kunci sukses dari pengembangan alat ini. Mereka membagi Pembagian tugas sesuai dengan jurusan kuliah setiap anggotanya. 
Yudha bertugas membuat planning dan mengatur urusan sumber daya. Gardin bertugas untuk urusan administrasi dan pembuatan laporan. Sementara Alifia dari Teknik Biomedis bertugas untuk membuat desain arduino, desain grafis, dan presentasi.

Hasilnya, alat yang mereka rancang ini memiliki akurasi di angka 90 persen. Hasil alat ini dikalibrasi dengan tes BDI (Beck Depression Inventory) yang saat ini umum digunakan di kedokteran jiwa. Sehingga terdapat 3 level penderita depresi, yakni rendah, sedang, dan berat.

“Kami berharap alat ini akan ada disetiap fasilitas kesehatan indonesia. Jadi orang yang memiliki masalah mental jadi lebih mudah untuk mengatasi dan menanggulanginya sehingga orang tersebut tidak perlu melalui berbagai hal rumit yang menghambat kesembuhannya,” tegas Gardin.(*)

Foto: Laman ITB

Artikel Terkait
Interest
Gagas Sarang Lebah Buatan, Mahasiswa ITB Sabet Perunggu di Ajang ASVF 2022

Interest
Optimalkan Aplikasi MRT Jakarta, Mahasiswa ITB Raih Juara di Kancah Nasional

Interest
Keren, Mahasiswa ITB Gagas Aplikasi Mitigasi Bencana Tsunami