Current Issues

Agar Lebaran Aman, Jaga Kondisi dengan Cegah Penularan Covid-19

Dwiwa

Posted on April 13th 2022

Selama beberapa minggu terakhir, kondisi Covid-19 di Indonesia sudah mulai membaik sejak lonjakan ketiga akibat varian Omicron. Perbaikan secara komprehensif terlihat dari sisi kasus positif, kasus aktif, kematian, pemulihan, Bed Occupancy Rate (BOR), hingga positivity rate.

Dilansir covid19.go.id, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menegaskan di masa perbaikan ini, setiap individu bertanggungjawab untuk tidak memberi ruang penularan sedikitpun dengan mencegah penularan. Upaya ini perlu dilakukan oleh semua pihak, termasuk masyarakat hingga semua wisatawan asing yang berniat untuk tinggal, beraktivitas, serta berpartisipasi dalam masyarakat.

"Untuk itu, kuncinya adalah tidak memberi ruang sama sekali untuk terjadinya penularan, agar tidak ada yang tertular lagi," ujar Wiku dalam International Press Briefing, Selasa (12/4) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Tanggung jawab pencegahan penularan yang harus diterapkan setiap individu tersebut setidaknya mencakup 4 hal. Mulai dari disiplin protokol kesehatan (Prokes) 3M hingga berpartisipasi aktif dalam program vaksinasi khususnya booster.

Selain itu, usahakan untuk selalu memeriksakan diri atau tes Covid-19 jika bergejala atau setelah beraktivitas yang berisiko tinggi seperti perjalanan jarak jauh dan aktivitas di lokasi ramai. Lakukan juga isolasi diri jika teridentifikasi positif.

Jika tanggung jawab tersebut dilaksanakan, setiap individu berarti ikut menjaga perbaikan kondisi Covid-19 yang saat ini terjadi di Indonesia. Sementara itu, dari tren kasus nasional dapat diamati terjadinya perbaikan pada 6 indikator penanganan.

Pertama, tren kasus positif mingguan nasional telah turun selama 7 minggu berturut-turut paska puncak gelombang ketiga. Pemerintah juga terus menekan angka kasus di provinsi penyumbang kasus positif terbesar dalam 7 hari terakhir, yakni DKI Jakarta (3.895 kasus), Jawa Barat (2.318 kasus), Banten (1.256 kasus), Jawa Tengah (1.227 kasus), dan Jawa Timur (873 kasus).

Kedua, kasus aktif nasional juga menurun signifikan selama 6 minggu terakhir. Persentase kasus aktif nasional sekitar 1 persen jauh di bawah rata-rata dunia sekitar 8 persen. Meski begitu, masih ada 2 provinsi dengan peningkatan kasus aktif mingguan, yakni Papua (naik 84) dan Papua Barat (naik 15).

"Kasus aktif harus dijaga agar tetap rendah, dengan menghindari penambahan orang positif seminimal mungkin, dan mencari obat untuk orang yang terinfeksi," lanjut Wiku.

Ketiga, angka kematian selama 5 minggu berturut-turut mengalami tren penurunan. Sayangnya, persentasenya masih lebih tinggi dari rata-rata dunia. Perhatian lebih harus diberikan pada 5 provinsi penyumbang kematian terbesar dalam 7 hari terakhir, yakni Jawa Timur (81 kasus), Jawa Tengah (47 kasus), Jawa Barat (35 kasus), DKI Jakarta (30 kasus), dan Daerah Istimewa Yogyakarta (27 kasus).

Keempat, tren pemulihan kembali meningkat. Saat ini persentasenya sekitar 7 persen lebih tinggi dari rata-rata dunia. Per 10 April 2022, 5 Provinsi dengan persentase pemulihan tertinggi berasal dari Papua Barat (98,5 persen), DKI Jakarta (98,4 persen), Banten (98,3 persen), Maluku (98,2 persen), serta Sulawesi Selatan (98,1 persen).

Kelima, tingkat BOR Nasional turun signifikan dari 40 persen saat puncak ketiga, kini hanya tinggal sekitar 4 persen. Namun 5 provinsi angka BOR-nya masih di atas angka nasional. Yakni, Nusa Tenggara Timur, 8,8 persen, DI Yogyakarta, 8,29 persen, Sulawesi Tengah, 7,87 persen, Kalimantan Tengah, 7,71 persen, dan Kalimantan Utara, 7,47 persen.

Keenam, positivity rate atau jumlah orang terdeteksi positif dari hasil testing, menunjukkan tren penurunan signifikan. Sayangnya, penurunan ini seiring penurunan testing. Pada Januari tahun lalu, positivity rate yang rendah terjadi pada cakupan testing yang tinggi dengan angkanya melebihi 200 ribu orang per hari. Dibandingkan saat ini, jumlah orang yang diperiksa hanya di bawah 100 ribu.

Berdasarkan 6 indikator tersebut, perbaikan di segala aspek dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya penularan.

"Saya tekankan lagi, ini bisa dilakukan dengan kesadaran yang tinggi dari setiap masyarakat untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M, kesadaran untuk diuji, dan kesadaran isolasi diri jika positif," imbuh Wiku.

Selain itu, Pemerintah Daerah yang perlu memperbaiki indikator juga harus terus memantau dan meningkatkan kedisiplinan masyarakatnya. Seiring terus mengupayakan pengendalian posko aktif (giat posko) dan PPKM mikro, serta memastikan ketersediaan fasilitas kesehatan memadai.

Selain itu, jumlah orang yang divaksinasi di Indonesia juga semakin banyak. Cakupan dosis pertama telah mencapai 94,88 persen, dosis kedua mencapai 77,62 persen, dan dosis booster sudah mencapai 13,27 persen. Pencapaian vaksinasi ini disumbangkan seluruh provinsi di Indonesia, dimana 12 provinsi diantaranya berhasil melampaui target dosis lengkap vaksinasi. (*) 

 

Ilustrasi: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Masih Ada Ribuan Desa dan Kelurahan Tak Patuh Protokol Kesehatan

Current Issues
Varian Delta Masih Menyebar, Amankah Orang yang Sudah Divaksin Bepergian?

Current Issues
Cegah Peningkatan Omicron, Masyarakat Diminta Tak Lakukan Perjalanan Luar Negeri