Entertainment

Casting Gal Gadot dalam ‘Cleopatra’ Disebut Whitewashing, Benarkah?

Jingga Irawan

Posted on April 3rd 2022

Film biografi Cleopatra yang akan dibintangi Gal Gadot memicu kontroversi. Beberapa pihak menggambarkan pemilihan aktor dalam film itu sebagai "whitewashing."

So, apa sih whitewashing itu? Apakah benar pemilihan Gal Gadot sebagai Cleopatra termasuk di dalamnya? 

Pertama, whitewashing memiliki banyak makna. Tapi dalam konteks ini, terutama di industri film, whitewashing yang dimaksud merupakan sebuah fenomena di mana orang kulit putih bertindak seolah-olah dia orang non kulit putih.

Namun menurut Screenrant, menyebut casting Gal Gadot sebagai whitewashing sedikit keliru. Tak hanya pada identitas Gal Gadot, tetapi juga Cleopatra sendiri. Meskipun industri film masih membutuhkan perbaikan, casting Gal Gadot sebagai Cleopatra bukanlah contoh dari whitewashing.

Industri film memiliki sejarah panjang dalam memilih aktor kulit putih dalam peran non-kulit putih, sehingga menjadi rasisme institusional yang bertahan hingga hari ini. Film klasik seperti Lawrence of Arabia, The Ten Commandments, dan Breakfast at Tiffany's  adalah contoh di mana aktor kulit putih yang memainkan karakter non-kulit putih.

Contoh yang lebih baru termasuk Gods of Egypt, The Last Airbender, dan Avengers: Age of Ultron, membuktikan kalau kegemaran industri film untuk whitewashing masih tumbuh subur.

Casting Gal Gadot sebagai Cleopatra dalam film yang akan datang menimbulkan kontroversi setelah diumumkan. Beberapa pihak merasa itu adalah contoh terbaru dari masalah whitewashing industri film. Banyak orang berpendapat aktris Timur Tengah akan menjadi pilihan yang lebih cocok untuk peran Ratu Mesir. 

Sayangnya, secara historis, Cleopatra adalah seorang wanita Yunani keturunan Makedonia kulit putih (seperti semua penguasa Ptolemy) yang pemerintahannya mendahului invasi Arab ke Mesir. Lebih jauh lagi, Gal Gadot adalah seorang aktris Israel keturunan Ashkenazi, menjadikan klaim "whitewashing" sebagai contoh kesalahpahaman dan bisa menghapus identitas Yahudinya.

Apa Kontroversi Whitewashing Cleopatra yang Salah?

Cleopatra memerintah sebagai Ratu Mesir dari tahun 52 hingga 30 SM, tetapi dia bukan dari etnis Mesir. Ia disebut memiliki latar belakang Makedonia-Yunani dengan kemungkinan sedikit keturunan Persia.

Ada teori kalau ibunya mungkin keturunan Mesir atau Afrika, tetapi etnisnya tak diketahui. Ayah Cleopatra adalah keturunan dari Jenderal Alexander Agung Ptolemy I Soter, seperti semua aturan Alexandria, Mesir, dan saudara Cleopatra, sejauh para peneliti tahu, semuanya Makedonia-Yunani.

Casting aktris Arab sebagai Cleopatra bukannya tak cocok, tetapi lebih sedikit tak akurat secara historis, karena penjajahan Arab-Mesir dimulai berabad-abad setelah Cleopatra meninggal. Sementara Gal Gadot juga bukan orang Mesir, perannya sebagai Cleopatra bukan whitewashing.

Darah Ashkenazi Gal Gadot berasal dari nenek moyangnya yang menjadi penduduk asli Levant tetapi pindah ke Eropa, di mana mereka secara sistematis ditindas selama beberapa generasi. Yahudi Ashkenazi ditindas di Eropa karena mereka bukan "putih", jadi menyebut casting whitewashing Gal Gadot adalah isu sensitif dari sejarah panjang antisemitisme Eropa.

Memang praktik whitewashing yang berbahaya di industri film masih menjadi masalah yang mencolok, tetapi peran Gal Gadot sebagai Cleopatra bukanlah bagian dari masalah, karena dia adalah seorang aktris Levantine yang memerankan tokoh sejarah Yunani.(*)

Artikel Terkait
Interest
Ternyata Ritual Skincare dan Makeup Sudah Ada Sejak Zaman Mesir Kuno

Entertainment
Sebelum Main ‘Fast & Furious’, Gal Gadot Pernah Audisi Jadi Bond Girl

Entertainment
‘Wonder Woman 3’ Direncanakan Mulai Syuting Tahun Depan