Interest

Tradisi-Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Indonesia

Dwiwa

Posted on March 31st 2022

Warga di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menggelar perang ketupat di Pantai Pasir Kuning untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan.

Seluruh umat Muslim di dunia sedang mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadan, termasuk di Indonesia. Selain disambut dengan gembira, ternyata ada banyak tradisi unik yang dilakukan masyarakat Indonesia jelang Ramadan.

Penasaran apa saja tradisi unik yang ada di Indonesia? Berikut beberapa ulasannya.

 

1. Munggahan dan Kuramasan, Tradisi Masyarakat Sunda

Bagi masyarakat Sunda, tradisi munggahan dan kuramasan jelang Ramadan pasti sudah tidak asing. Dalam bahasa Sunda, unggah itu berarti naik. Ini dimaknai sebagai naik ke bulan suci yang derajatnya lebih tinggi.

Menurut Good News from Indonesia, tradisi munggahan dilakukan setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur, membersihkan diri dari hal buruk selama setahun ke belakang dan mengharapkan agar terhindar dari perbuatan kurang baik selama puasa.

Tradisi ini biasa dilakukan sehari hingga semingu sebelum bulan Ramadan. Dalam tradisi ini, masyarakat akan berkumpul bersama keluarga, teman, atau kerabat untuk makan bersama atau botram, saling bermaafan, dan berdoa bersama untuk kelancaran ibadah puasa. Untuk menu yang disajikan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Sementara kuramas jika diartikan dalam bahasa Sunda artinya keramas. Tradisi kuramasan sendiri bukan hanya sekadar keramas, tetapi diartikan sebagai mandi besar atau mandi taubat untuk membersihkan diri secara keseluruhan dan bersiap menyambut Ramadhan.

Tradisi ini biasanya dilakukan sehari sebelum memasuki Ramadan. Dahulu tradisi ini dilakukan beramai-ramai di aliran sungai. Tetapi saat ini, dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing karena tidak semua orang memiliki akses ke sungai bersih di dekat tempat tinggalnya.

 

2. Perlon Unggahan, Tradisi Masyarakat Adat Bonokeling

Perlon unggahan merupakan sebuah tradisi menyambut Ramadan yang dilakukan oleh masyarakat adat keturunan Kyai Bonokeling, tokoh pemuka agama di Banyumas yang sosoknya masih misterius hingga saat ini. Menurut Good News from Indonesia, tradisi ini digelar oleh warga dari dua desa berbeda di Jawa Tengah, yakni Desa Pekuncen di Banyumas, dan saudara masyarakat adat di Desa Adiraja, Cilacap.

Dalam pelaksanaannya, ada ribuan orang dari kedua desa yang terlibat. Acaranya dimulai sejak matahari muncul dengan melakukan caos bekti, yakni memberi salam penghormatan kepada tetua yang paling dihormati. Selanjutnya prosesi napak tilas perjalanan Ki Banokeling di mana masyarakat dari Desa Adiraja di Cilacap akan berjalan kaki sejauh puluhan kilometer menuju Desa Pakuncen di Banyumas.

Semua pria segala usia terlibat dalam perjalanan ini sambil memanggul wadah berisi sesaji berupa hasil panen dari ladang dan hewan ternak sebagai persembahan dan rasa syukur. Ketika mereka tiba hingga tengah malam, Desa Pekuncen diramaikan dengan nyanyian tembang-tembang Jawa, yang berisi pujian-pujian yang dipanjatkan pada Kyai Bonokeling.

Esoknya, hewan ternak akan disembelih oleh para pria sebagai wujud persembahan yang dibawa dari Desa Adiraja. Sementara itu, para perempuan akan memasuki makam Kyai Bonokeling dengan berbalut kemban putih. Mereka membasuh anggota badan satu per satu, mulai dari kaki, tangan, wajah, sambil mengucap doa atau mantra yang dipercaya membawa keberkahan.

Kemudian hasil bumi dimasak bersama secara masal untuk dimakan bersama di sekitar area makam Kyai Bonokeling. Setelah proses ziarah selesai, seluruh anggota masyarakat adat Bonokeling akan makan bersama di sekitar makam Kyai Bonokeling. Baru esok harinya warga yang berasal dari Cilacap kembali ke daerah asal dengan berjalan kaki.

 

3. Bebantai, Tradisi Masyarakat Merangin Jambi

Jelang bulan suci Ramadan, masyarakat di Kabupaten Merangin, Jambi biasanya akan melakukan tradisi bebantai. Seperti namanya, tradisi ini memang merupakan kegiatan memotong kerbau untuk menyambut bulan Ramadan.

Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun selama bertahun-tahun. Kegiatan ini menjadi cara masyarakat untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dan bisa melaksanakan puasa sebulan penuh selama Ramadan.

Kerbau yang digunakan dalam kegiatan ini berasal dari individu, perkumpulan masyarakat, dan pengurus masjid. Jumlah kerbau yang dipotong pun bervariasi, bahkan bisa mencapai ratusan ekor. Setelah disembelih dan didoakan, daging selanjutnya diolah bersama-sama untuk selanjutnya dibagikan.

Bebantai kemudian dilanjutkan dengan makan busamo (makan bersama-sama). Lalu ada juga tradisi beduen (memanjatkan doa menghadapi puasa Ramadhan) dan melepas ayam (kegiatan berdizikir dengan tujuan mendapatkan kesehatan dan terhindar dari bala bencana selama puasa Ramadan).

 

4. Suro’, Tradisi di Tengah Masyarakat Makassar

Suro’ baca atau dikenal sebagai suru maca merupakan tradisi yang dilakukan oleh umat Muslim dari Makassar, Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat suku Bugis. Ini merupakan tradisi hasil akulturasi antara ajaran Islam sebelum masuk ke Makassar dengan budaya lokal.

Suro’ sendiri dalam bahasa bugis bearti meminta atau memohon, sementara Baca berarti membaca. Jika didefinisikan, suro’ baca merupakan usaha seseorang untuk meminta orang lain yang dipercayai mempunyai ilmu agama lebih tinggi dan baik untuk membacakan doa-doa kesyukuran.

Mirip seperti tradisi menyambut ramadhan umumnya, ada beberapa makanan khusus yang disediakan. Di antaranya opor ayam, ayam goreng tumis, nasi ketan dua warna hitam dan putih, gula merah yang dicairkan, onde-onde tradisional, pisang, dan sebagainya.

Saat acara digelar, akan ada “Pa’ baca” (pembaca doa) yang merupakan orang khusus di sekitar tempat penyelenggara. Mereka biasanya adalah kalangan orang tua yang oleh masyarakat bugis dipredikatkan sebagai “To Macca”, yang artinya orang pintar.

To Macca ini akan membacakan doa di depan makanan yang sudah disiapkan tuan rumah. Penyajian makanan dilakukan di atas kappara atau nampan dan dikelilingi dupa-dupa yang ditancapkan pada gelas yang berisi beras.

 

5. Perang ketupat, tradisi dari Tempilang, Kepulauan Bangka Belitung

Tradisi unik lainnya datang dari kecamatan Tempilang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setiap menyambut Ramadan, masyarakat di wilayah ini akan melakukan perang ketupat atau yang dikenal dengan Ruah Tempilang.

Tujuan dari kegiatan ini adalah  untuk meminta keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ketupat memiliki makna persatuan, kesadaran, dan kegotongroyongan. (*)

 

Foto: Antara/Diskominfo Bangka Belitung

Artikel Terkait
Interest
Mulai Bingung Mau Buka Pakai Apa? Jajanan Khas Ramadan di Indonesia Bisa Dicoba

Interest
Ramadan 2020: Wajib Ibadah di Rumah hingga Manasik Haji Online

Interest
Jangan Diskip, Olahraga Selama Ramadhan Punya Banyak Manfaat Loh!