Interest

KKN ITS Dorong Pengomposan Sampah Organik Melalui Budidaya Cacing

Dwiwa

Posted on March 30th 2022


Tim KKN ITS beserta komunitas BSIS dalam proses pengenalan vermicomposting

Tim Kuliah Kerja Nyata Pengabdian kepada Masyarakat (KKN Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendorong pengolahan sampah organik di komunitas Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS). Pengolahan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode vermicomposting - pembuatan kompos melalui budidaya cacing.

Dilansir dari ITS News, ketua tim KKN Abmas, Vely Kukinul Siswanto ST MT MSc, menjelaskan jika ide ini digagas karena melihat banyaknya sampah organik yang berada di BSIS. Metode vermicomposting ini bukan hanya mempercepat pembentukan kompos, tetapi juga berguna bagi tanaman.

Vely menambahkan, cacing juga berpotensi menjadi bahan baku ternak serta industri obat dan kosmetik. Sebab, vermicomposting dapat menghasilkan dua macam produk utama yakni biomassa cacing dan kascing (bekas cacing).

“Jadi ide kita untuk vermicomposting tidak hanya untuk kompos, tetapi nanti cacing-cacing tersebut juga bisa dijual lagi untuk pakan burung dan lain-lain,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota ini menjelaskan bahwa kegiatan KKN dibagi dalam dua agenda utama. Agenda pertama adalah kegiatan pengomposan sampah organik dengan melakukan pengujian serta pemantauan terhadap proses vermicomposing. Lalu, yang kedua melakukan edukasi terkait proses pengomposan bersama komunitas BSIS.

Sampah organik yang diolah sebagai kompos kali ini berupa kulit pisang dan sisa sayuran. Komposisi dari varian sampah ini juga telah dilakukan uji pendahuluan di dalam laboratorium dengan mempertimbangkan kadar air, kandungan c-organik, serta perbandingan karbon dan nitrogen dalam varian sampah.

Sedangkan untuk kegiatan edukasi dilaksanakan lewat penyuluhan secara daring melalui Zoom Meeting. Sebagian besar peserta berasal dari komunitas BSIS yang telah mempunyai pengetahuan dasar terkait pembuatan kompos. Jadi tim KKN ITS tinggal mempertajam ilmu yang telah dimiliki peserta.

Agar kualitas kompos yang dihasilkan baik, Vely memberikan edukasi terkait metode vermicomposting secara mendalam. Mulai dari jumlah cacing, jenis sampah yang digunakan, zat kimia yang dimasukkan, serta ukuran temperatur dan suhu yang diperlukan.

“Di situ ada standarnya dan kita buat alat atau tempat untuk melakukan pengomposan sehingga sangat memengaruhi kualitas kompos tadi,” jelasnya.

Di sisi lain, tim KKN ITS juga menyerahkan reaktor untuk pengomposan kepada masyarakat. Reaktor tersebut berupa komposter berbentuk kotak dengan berbahan dasar rangka dari kayu, kemudian dilapisi dengan karung sak bekas. Desain reaktor yang menggunakan kain berlubang pada bagian luar serta paranet di bagian atas ini memiliki kelebihan. “Reaktor dapat memberikan sirkulasi udara dan penambahan oksigen yang baik untuk cacing,” paparnya.

Berdasarkan uji laboratorium, kandungan unsur hara pada tanah hasil pengomposan tinggi. Ini artinya hasil pengolahan sampah organik menggunakan vermicomposting dari kegiatan kolaborasi KKN ITS dan dosen Politeknik Perkalan Negeri Surabaya (PPNS) ini menghasilkan kualitas kompos yang sangat baik.

Perempuan kelahiran 2 Mei itu berharap agar kelak gagasan dari tim KKN ITS ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi lingkungan, tetapi juga mampu mempertahankan ekonomi masyarakat. “Jadi tidak hanya mengenai pemahaman saja, tetapi kita juga memberikan alat komposternya sehingga masyaraka bisa aktif untuk bisa melakukan pengolahan sampah secara mandiri,” ungkapnya.(*)

Foto: ITS News

Artikel Terkait
Interest
Inovatif, Mahasiswa ITS Manfaatkan Limbah Rumen Jadi Energi Listrik Alternatif

Interest
Mahasiswa ITS Rancang Waste House Untuk Sarana Pengolahan Kompos Terintegrasi

Interest
Mahasiswa ITS Konversikan Getaran Kendaraan Jadi Energi Listrik dengan RSV-P