Interest

Studi: Perubahan Iklim Bisa Perburuk Alergi

Dwiwa

Posted on March 17th 2022

Ada kabar kurang menyenangkan nih buat kalian yang punya riwayat alergi. Pasalnya, sebuah studi mengungkap jika perubahan iklim telah memperpanjang durasi dan keparahan musim alergi dan akan meningkatkan emisi serbuk sari sebanyak 40 persen di Amerika Serikat selama beberapa dekade mendatang.

Dilansir dari Yahoo News, studi yang dilakukan para peneliti di University of Michigan menemukan ketika suhu global terus meningkat karena kelebihan gas rumah kaca di atmosfer, tanaman memproduksi lebih banyak serbuk sari.

“Suhu berdampak pada lamanya musim dingin dan musim semi dan sangat terkait dengan waktu musim serbuk sari, termasuk tanggal mulai, tanggal emisi puncak, tanggal akhir, dan durasi,” kata studi yang diterbitkan Selasa di Nature Communications tersebut.

Menurut studi, pada 2100, emisi serbuk sari awal musim semi akan dimulai 10 hingga 40 hari lebih awal. Sementara musim tanam untuk musim panas dan gugur gulma dan rerumputan akan diperpanjang lima hingga 15 hari kemudian.

Penelitian itu juga menyebutkan jika peningkatan tahunan emisi serbuk sari di seluruh dunia bisa mencapai 250 persen pada akhir abad ini. Tetapi itu bisa dicegah jika manusia mulai membatasi polusi udara, membatasi emisi gas rumah kaca dan memperlambat kenaikan suhu global.

Sementara perhitungan terbaru menunjukkan seberapa buruk musim alergi bisa terjadi karena perubahan iklim, hubungan antara keduanya sudah lama terjalin. Di situs webnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat bahwa alergi merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang serius.

“Orang dengan penyakit pernapasan seperti asma mungkin lebih sensitif terhadap serbuk sari. Paparan serbuk sari telah dikaitkan dengan serangan asma dan peningkatan penerimaan rumah sakit untuk penyakit pernapasan, ”kata CDC. Mereka menambahkan jika biaya medis yang terkait dengan serbuk sari melebihi USD 3 miliar setiap tahun, dengan hampir setengah dari biaya tersebut terkait dengan obat resep.

“Konsentrasi serbuk sari yang lebih tinggi dan musim serbuk sari yang lebih lama juga dapat membuat orang lebih sensitif terhadap alergen. Ini dapat memicu episode asma pada individu dengan asma dan mengurangi pekerjaan produktif dan hari-hari sekolah,” tambah CDC.

Sebuah studi 2010 oleh National Wildlife Federation memaparkan mekanisme kausal mengapa perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak bersin, mata gatal, dan hidung meler.

“Pemanasan global yang tidak terkendali akan memperburuk alergi pernapasan bagi sekitar 25 juta orang Amerika. Ragweed - pemicu alergen utama dari fall hay fever - tumbuh lebih cepat, menghasilkan lebih banyak serbuk sari per tanaman, dan memiliki kandungan alergen yang lebih tinggi saat peningkatan kadar karbon dioksida, ”kata penelitian.

Penelitian itu menjelaskan jika musim tanam yang lebih lama dengan iklim yang lebih hangat memungkinkan tanaman ragweed lebih besar sehingga menghasilkan lebih banyak serbuk sari di musim gugur. Alergi musim semi terhadap serbuk sari pohon juga bisa menjadi lebih buruk.

“Suhu yang lebih hangat dapat memungkinkan perluasan habitat yang signifikan yang cocok untuk pohon ek dan hickories, yang merupakan dua spesies pohon yang sangat alergi. Mengubah kondisi iklim bahkan dapat memengaruhi jumlah alergen jamur di udara,” jelas studi tersebut.(*)

Foto: Pexels/Edward Jenner

Related Articles
Interest
Polusi Udara dan Perubahan Iklim Bikin Alergi Jadi Memburuk

Interest
Pemanasan Global 1,5 Derajat Celcius Bisa Jadi “Bencana" Bagi Kesehatan

Interest
Separuh Sampah Plastik Sekali Pakai di Dunia Berasal dari 20 Perusahaan