Current Issues

Sempat Disebut Kesalahan Lab, Ini Fakta Varian Deltacron yang Kini Diakui WHO

Dwiwa

Posted on March 14th 2022

Nama Deltacron sempat menjadi perbincangan hangat di awal 2022. Awalnya, varian ini sempat dianggap sebagai kesalahan laboratorium. Tetapi baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi Deltacron sebagai varian baru dari virus SARS-CoV-2.

Dilansir dari Health, hibrida varian Omicron dan Delta ini sudah beredar di Eropa, termasuk di Prancis, Denmark, dan Belanda. Maria Van Kerkhover, PhD, pimpinan teknis Covid-19 di WHO mengatakan sejauh ini pengamatan menunjukkan tingkat deteksi yang sangat rendah untuk varian ini.

Organisasi Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) pun telah mengonfirmasi keberadaan Deltacron. Dalam situs webnya mereka menyediakan data dari Institut Pasteur Prancis dan menyebutnya sebagai bukti kuat pertama untuk Deltacron.

Melalui Twitter Van Kerkhove mnyebutkan jika varian hibrida bukanlah sesuatu yang tidak biasa. Hal ini pun sudah diprediksi, terutama karena sirkulasi Omicron dan Delta yang intens.

Apa itu virus rekombinan?

Dokter Amesh A. Adalja, sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security mengatakan virus rekombinan adalah virus yang memiliki bagian dari dua virus atau lebih sebagai bagian dari materi genetiknya sebagai akibat dari infeksi lebih dari satu strain.

Ketika organisme terinfeksi dengan dua jenis virus, hal itu memungkinkan virus untuk bercampur dan menghasilkan virus baru. Menurut Adalja, pada kasus Covid-19, virus rekombinan bukan sesuatu yang unik.

Thomas Russo, MD, profesor dan kepala penyakit menular di Universitas di Buffalo di New York mengatakan Deltacron kemungkinan dihasilkan dari satu orang yang terinfeksi dengan dua jenis Covid-19 pada saat yang sama. "Kedua virus perlu berada di tubuh mereka pada saat yang bersamaan," katanya.

Sama seperti Adalja William Schaffner, MD, spesialis penyakit menular dan profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt, mengatakan kepada Health jika ini bukan hal yang aneh. "Ini sangat, sangat umum pada virus influenza—mereka bergabung kembali sepanjang waktu," katanya.

Kapan Deltacron Ditemukan?

Laporan Deltacron pertama kali beredar pada awal Januari setelah Leondios Kostrikis, seorang ahli virologi di Siprus, mengatakan timnya telah menemukan apa yang tampak seperti kombinasi varian Delta dan Omicron, Bloomberg melaporkan. Dia adalah orang pertama yang secara terbuka memberi label Deltacron.

Tetapi penelitian Kostrikis ini mendapat penolakan, baik di pers maupun di media sosial. Menurut Nature, para ilmuwan bahkan mengklaim Kostrikis telah membuat kesalahan di labnya ketika mempelajari Deltacron.

"Orang-orang mengatakan pada saat itu bahwa itu adalah kontaminan di laboratorium, tetapi, tampaknya sekarang, mungkin tidak," kata Dr. Russo.

Berapa Banyak Kasus Yang Telah Dilaporkan?

Jumlah pastinya belum dilaporkan, tetapi Deltacron telah muncul di berbagai lokasi di seluruh dunia. Sebuah studi pracetak baru yang diterbitkan minggu ini mengumumkan ada tiga kelompok kasus dari apa yang penulis sebut "Deltamicron" di Prancis selatan.

Para peneliti dibalik studi pracetak lainnya, yang ditinjau oleh USA Today, mengurutkan 29.719 sampel positif Covid-19 yang dikumpulkan di seluruh AS dari 22 November 2021 hingga 13 Februari 2022. Mereka menemukan dua infeksi yang melibatkan versi Deltacron yang berbeda.

Selain itu, mereka mengidentifikasi 20 orang yang telah terinfeksi Delta dan Omicron dan satu pasien yang telah terinfeksi Delta, Omicron, dan Deltacron, menurut USA Today.

Apakah Lebih Berbahaya atau Menular Dibandingkan Strain Covid-19 Lainnya?

Russo mengatakan ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang Deltacron saat ini. Misalnya, kasus Deltacron tidak sebanyak kasus gelombang Delta dan Omicron, tetapi mungkin ada lebih banyak infeksi Deltacron daripada yang diketahui.

“Sangat sedikit yang teridentifikasi sejak awal Januari, sehingga tidak memiliki keunggulan selektif,” kata Dr Russo. Dengan kata lain, jika itu akan menjadi lebih menular daripada Omicron, yang sekarang menjadi strain dominan Covid-19 di banyak bagian dunia, itu mungkin sudah menyebar sekarang.

Namun, Schaffner mengatakan saat ini sangat sulit untuk mengatakan apakah Deltacron berbahaya.  "Masih relatif baru," katanya. "Sepertinya vaksin saat ini masih akan melindungi dari varian Deltacron. Tapi seberapa luas penyebarannya dan apakah itu bisa menghasilkan penyakit yang lebih parah-masih terlalu awal."

Van Kerkhove juga mengungkap hal sama. Dia menambahkan bahwa para ilmuwan saat ini sedang mempelajari varian tersebut.

"Kami belum melihat perubahan epidemiologi, perubahan keparahan, tetapi ada banyak penelitian yang sedang berlangsung," katanya.

Pengingat Bahwa Pandemi Belum Berakhir

Meskipun dalam beberapa hari terakhir banyak negara sudah mulai melakukan banyak pelonggaran pembatasan, termasuk Indonesia, Covid-19 masih menjadi pandemi global. Dokter memperingatkan bahwa virus tersebut akan terus bermutasi.

“Karena SARS-CoV2 terus beredar, akan selalu menghasilkan varian baru,” kata Dr. Adalja. Tetapi kabar baiknya, vaksin yang saat ini tersedia masih bisa melindungi kita dari penyakit parah, rawat inap, dan kematian.

Ilustrasi: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Ahli: Suntikan Booster untuk Negara Kaya Tidak Akan Mengakhiri Pandemi

Current Issues
Studi: Vaksin Covid-19 Moderna Melindungi dari Varian Delta

Current Issues
Varian Omicron Mungkin Lebih Menular, Tetapi Vaksin Masih Memberi Harapan