Collaboration

Masker Berperan Penting dalam Penyebaran Covid-19, Studi Ini Beri Bukti

Dwiwa

Posted on March 2nd 2022

Pelonggaran penggunaan masker di Amerika Serikat beberapa waktu lalu sedikit banyak membuat kita bertanya-tanya, kapan itu terjadi di Indonesia. Tetapi sebelum merasa iri dan gatal untuk melepas masker kalian, coba baca dulu hasil penelitian soal masker berikut.

Dilansir Medical Xpress, studi yang dilakukan tim peneliti internasional dari berbagai Universitas termasuk Chalmers University of Technology di Swedia, University of Padua dan University of Udine di Itali, dan University of Vienna di Austria menemukan jika masker memang memainkan peran penting dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam Journal of the Royal Society Interface ini, para peneliti berhasil menunjukkan bagaimana risiko penyebaran Covid-19 bisa berubah hanya dengan memakai masker atau tidak. Sejumlah faktor, seperti jarak antar individu, suhu, tingkat kelembaban, viral load, dan jenis pernapasan juga ikut diperhitungkan.

Hasilnya, ternyata orang yang berbicara tanpa masker bisa menyebarkan droplet yang terinfeksi hingga satu meter. Jika orang yang sama batuk, droplet bahkan bisa meluncur sejauh tiga meter dan saat bersin bisa sampai tujuh meter. Namun hanya dengan memakai masker, risiko penyebaran infeksinya berkurang signifikan.

“Jika kalian memakai masker bedah atau FFP2, risiko infeksi berkurang sedemikian rupa sehingga praktis dapat diabaikan – bahkan jika kalian berdiri satu meter dari orang yang terinfeksi,” ujar Gaetano Sardina, associate professor of Fluid Mechanics di Departemen Mekanika dan Ilmu Maritim di Chalmers University of Technology, yang merupakan salah satu peneliti dalam studi.

Sebagai informasi, masker FFP2 merupakan jenis masker yang setara dengan standar internasional lain yang lebih kita kenal sebagai KN95, N95, atau P2.

Virus, seperti SARS-Cov-2, menyebar melalui individu terinfeksi ke individu lain yang rentan melalui droplet berisi virus yang keluar saat berbicara, batuk, atau bersin. Droplet yang keluar dari kelenjar ludah disemburkan melalui udara yang dihembuskan.

Saat keluar dari mulut, tetesan ini bisa menguap, mengendap, atau tetap mengambang di udara. Droplet yang lebih besar dan lebih berat cenderung jatuh sebelum menguap. Sementara droplet yang lebih kecil berperilaku seperti aerosol yang menyemprot dan tetap mengambang di udara.

Hasil studi menunjukkan bahwa masker bedah dan FFP2 memberikan perlindungan yang sangat baik sehingga dapat mengurangi risiko infeksi secara signifikan. Asalkan dipakai dengan benar, risiko infeksi bisa diabaikan, bahkan pada jarak satu meter, terlepas dari kondisi lingkungan dan jika orang tersebut berbicara, batuk atau bersin.

“Studi ini membahas penularan langsung droplet dari Covid –jalur transmisi lain yang juga penting adalah rute tidak langsung dan rute airborne (lewat udara) di ruang berventilasi buruk. Saat ini kami sedang mengerjakan aspek ini dan hasil awal menunjukkan efektivitas masker juga bisa mencegah penyebaran penyakit melalui udara,” ujar Gaetano Sardina.

Jadi, masih berniat untuk melepas maskermu di masa pandemi saat ini? (*)

 

Foto: Pexels/Anna Shvets

Related Articles
Current Issues
Kebijakan Masker Dilonggarkan, Dimana Saja Masker Boleh Dilepas?

Current Issues
Apakah Masker Masih Bisa Melindungi Jika Hanya Kita yang Memakainya?

Current Issues
Kasus Covid-19 Makin Menggila, Yuk Ingat Lagi Cara Pakai Masker yang Benar