Tech

Mengapa Banyak Orang Terjerat Penipuan Online?

Dwiwa

Posted on March 1st 2022

Tidak peduli seberapa ahlinya kalian dengan teknologi, penipuan online dan skema phising ada di luar sana, menunggu kesempatan untuk menipu dan mencuri data pribadimu. Sayangnya, beberapa dari penipuan ini cukup bagus sehingga sering tidak disadari.

Dilansir Yahoo Life, Federal Trade Commision (FTC) – lembaga perlindungan konsumen AS - mengatakan penipuan sering kali tampak seperti dikirim dari perusahaan dan bisnis yang kamu percaya. FTC menerima lebih dari 2,1 juta laporan penipuan dari orang-orang pada tahun 2020 saja, dengan penipuan online paling umum terjadi.

Tetapi, mengapa ada begitu banyak orang yang tertipu dengan penipuan online? Menurut para ahli, hal itu dikarenakan penipuan yang dilakukan cukup bagus.

“Orang umumnya terjerumus ke penipuan online karena komunikasi awal cenderung terlihat seperti berasal dari organisasi terpercaya seperti bank, jejaring sosial yang sebenarnya, atau sekelompok teman,” ujar Tom Kelly, presiden dan CEO platform privasi konsumen IDX kepada Yahoo Life.

Dia menambahkan jika cara penipu mendekati korban semakin kreatif. Mereka menggunakan sosial media untuk mengetahui apa yang kamu suka dan tidak suka dan menggunakan kontak dalam ponsel, daftar teman, dll untuk mengirim email palsu yang berpura-pura sebagai seseorang yang kita kenal.

Pakar teknologi keamanan siber Chuck Brook, Presiden Brooks Consulting International,  mengatakan penipuan online juga semakin canggih dalam daya tarik dan grafik. Biasanya dirancang dengan personalisasi yang berasal dari rekayasa sosial. Banyak penipuan juga menargetkan orang tua yang mungkin lebih mudah percaya pada apa yang mereka lihat dan baca online.

“Phising adalah cara paling umum untuk membuat mereka masuk dalam jebakan,” ujar Brooks. “Yang diperlukan hanyalah membuka email yang terinfeksi malware atau mengklik tautan.”

FTC menjelaskan jika penipuan online mungkin tampak seperti email yang dikirim dari perusahaan yang kita kenal atau percaya. Bisa juga sebuah pesan yang menceritakan sebuah kisah untuk mengelabui kita agar mengklik tautan atau membuka lampira.

Ketika dikirim dalam bentuk email, pesan ini mungkin mengatakan bahwa mereka telah melihat aktivitas mencurigakan atau upaya login, mengklaim bahwa ada masalah dengan akun atau informasi pembayaran kalian, dan meminta untuk mengonfirmasi data pribadi, misalnya sebagai syarat untuk mendaftar pengembalian dana pemerintah atau mendapat kupon untuk barang gratis.

Sekali lagi, mereka umumnya meminta kalian untuk mengklik tautan atau membuka lampiran untuk “memperbaiki” situasi. Jika kalian mengikutinya, itu bisa menjadi awal dari jebakan penipuan online.

Bagaimana menghindarinya? Hal terpenting adalah kita harus selalu waspada dengan setiap pesan yang masuk ke email atau sosial media.

“Saran terbesar saya adalah tidak mengklik apa pun yang terlihat mencurigakan atau terasa aneh. Penting juga untuk mengamankan akun dengan mematikan privasi dan opsi berbagi lokasi. Mengaktifkan fitur seperti autentikasi dua faktor di semua akun juga membantu menambahkan lebih banyak keamanan,” ujar Kelly.

Brooks juga menyarankan agar kita waspada dan menggunakan prinsip kebersihan dunia maya untuk meningkatkan kewaspadaan, seperti memeriksa validitas pengirim email dan dengan mempertimbangkan setiap pengirim yang tidak dikenal sebagai ancaman potensial.

Selain itu kalian mungkin juga bisa menambahkan software resmi dan terpercaya untuk membantu melindungi dari serangan kejahatan siber. Secara keseluruhan, Brook merekomendasikan untuk waspada bahwa penipuan online bisa dan memang terjadi.

“Selalu waspada terhadap phising karena masih merupakan alat pilihan yang digunakan oleh penjahat dunia maya,” ujarnya. (*)

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Tech
Awas Phishing! Jangan Tertipu Nonton Spider-Man: No Way Home Online Gratis

Tech
Biar Nggak Terkecoh, Begini Cara Gampang Mengenali Phising

Interest
Waspada Modus Penipuan Pretexting yang Incar Data Pribadi Kamu