Current Issues

Rusia dan Ukraina Perang? Ada Masalah Apa Sih?

Jingga Irawan

Posted on February 24th 2022

Kabar sedih datang dari dua negara besar di Eropa Timur, Ukraina dan Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya tak diberi kesempatan untuk melindungi diri sendiri dengan cara lain, sehingga memutuskan untuk menyatakan perang terhadap Ukraina pada Kamis, (24/2).

Hubungan kedua negara tersebut memang tak sepenuhnya membaik pasca runtuhnya Uni Soviet di era Perang Dingin yang berakhir di tahun 1991.

Setelah Soviet jatuh, Ukraina secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai negara merdeka. Sejak itu, negara tersebut telah membentuk hubungan yang lebih erat dengan Uni Eropa dan NATO. Rusia melihat hubungan ini sebagai ancaman ekonomi dan strategis untuk keamanan negara sendiri.

Lagi-lagi masalah politik dan kekuasaan, Putin telah mengklaim kalau Rusia dan Ukraina memiliki budaya yang sama dan bagian dari "peradaban Rusia" yang juga mencakup negara tetangga Belarusia. Ukraina menolak klaimnya.

Ukraina mengalami dua revolusi pada 2005 dan 2014, keduanya menolak supremasi Rusia dan mencari jalan untuk bergabung dengan Uni Eropa dan NATO. Putin akhirnya marah dengan prospek pangkalan NATO di sebelah perbatasannya.

Rusia dan Ukraina akhirnya terlibat berbagai konflik besar. Seperti masalah jual-beli sumber daya alam pada tahun 2009, pihak Rusia yang diduga berusaha singkirkan kelompok Tatar, penggulingan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang pro terhadap Rusia, hingga pencaplokan wilayah Krimea milik Ukraina yang dilakukan oleh Rusia pada tahun 2014. Semua karena sentimen antara "Timur" dan "Barat."

Apa yang diinginkan Putin?

Dalam esai panjang yang ditulis pada Juli 2021, Putin lagi-lagi menyebut Rusia dan Ukraina sebagai "satu orang," dan menuduh Barat (sekutu AS) telah merusak Ukraina dan menariknya keluar dari “pertemanan” Rusia melalui "perubahan identitas yang dipaksakan."

Pesan itu ditampilkan sepenuhnya dalam pidato Putin yang emosional dan penuh keluhan kepada bangsanya. Ia juga mengumumkan keputusannya untuk mengakui Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk, serta meragukan kedaulatan Ukraina sendiri.

Upaya Putin untuk membawa Ukraina kembali ke wilayah Rusia telah mendapat reaksi, dengan beberapa survei pendapat baru-baru ini menunjukkan kalau mayoritas penduduk Ukraina sekarang mendukung keanggotaan aliansi militer yang dipimpin AS.

Pada bulan Desember 2021, Putin memberi AS dan NATO daftar tuntutan keamanan. Yang utama di antara daftar tersebut adalah jaminan bahwa Ukraina tak akan pernah masuk NATO dan aliansi tersebut mengurangi pengaruh militernya di Eropa Timur.

Apa itu NATO?

NATO ( The North Atlantic Treaty Organization) adalah aliansi militer yang dibentuk pada tahun 1949 oleh 12 negara, termasuk AS, Kanada, Inggris, dan Prancis.

Ada satu keistimewaan saat menjadi anggota NATO. Seluruh anggota setuju untuk saling membantu jika terjadi serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota. So, jika AS diserang, maka Inggris dan kawan-kawan akan angkat senjata.

Ukraina memang bukan anggota NATO, tetapi dia adalah "negara dekat.” Ini berarti ada kesempatan kalau Ukraina mungkin diizinkan untuk bergabung dengan aliansi itu nantinya.

Namun keputusan Rusia untuk menyerang Ukraina hari ini lebih rumit dari yang dibayangkan. Sejak Oktober 2021 hingga Januari 2022, kedua pihak meningkatkan kekuatan militer di perbatasan Ukraina Timur.

Berikut merupakan garis waktu dari momen-momen penting yang mengarah pada keputusan Vladimir Putin menyerang Ukraina dan para pemimpin dunia yang bersatu dalam mengutuk Rusia:

7 Desember: Presiden AS Joe Biden memperingatkan Rusia tentang sanksi ekonomi Barat jika menyerang Ukraina. Dalam pertemuan virtual dua jamnya dengan Putin, Biden menyuarakan keprihatinan mendalam Amerika Serikat dan sekutu Eropa kami tentang eskalasi kekuatan Rusia di sekitar Ukraina.

17 Desember: Rusia mengajukan tuntutan keamanan yang terperinci termasuk jaminan yang mengikat secara hukum bahwa NATO akan menghentikan aktivitas militer apa pun di Eropa timur dan Ukraina.

10 Januari: Diplomat AS dan Rusia gagal mempersempit perselisihan di Ukraina, dan pembicaraan selanjutnya juga tak membawa dampak besar.

17 Januari: Mantan presiden Ukraina Petro Poroshenko kembali untuk menghadapi dakwaan dalam kasus makar. Pasukan Rusia mulai tiba di Belarus, di utara Ukraina, untuk latihan bersama.

24 Januari: NATO menempatkan pasukan dalam keadaan siaga dan memperkuat Eropa timur dengan lebih banyak kapal dan jet tempur. Australia dan Inggris mendahului Amerika dalam mendesak warganya untuk meninggalkan Ukraina.

26 Januari: AS memberikan tanggapan tertulis terhadap tuntutan keamanan Rusia, mengulangi komitmen terhadap kebijakan "pintu terbuka" NATO sambil menawarkan evaluasi atas keprihatinan Moskow.

28 Januari: Putin mengatakan tuntutan keamanan utama Rusia belum ditanggapi tetapi Moskow siap untuk terus berbicara.

2 Februari: Amerika Serikat mengatakan akan mengirim 3000 tentara tambahan ke Polandia dan Rumania untuk membantu melindungi sekutu NATO di Eropa timur dari dampak krisis.

4 Februari: Putin, di Olimpiade Musim Dingin Beijing, memenangkan dukungan Tiongkok atas permintaannya agar Ukraina tak diizinkan bergabung dengan NATO.

7 Februari: Presiden Prancis Emmanuel Macron melihat beberapa harapan untuk resolusi diplomatik terhadap krisis yang sedang berlangsung bertemu Putin di Kremlin.

9 Februari: Biden mengatakan "segalanya bisa menjadi buruk dengan cepat" ketika Departemen Luar Negeri AS menyarankan orang Amerika di Ukraina untuk segera pergi. Negara-negara lain juga mendesak warganya untuk pergi.

14 Februari: Zelenskiy mendesak warga Ukraina untuk mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan secara serempak pada 16 Februari, tanggal yang menurut beberapa media Barat dapat diinvasi Rusia.

15 Februari: Rusia mengatakan beberapa pasukannya kembali ke pangkalan setelah latihan di dekat Ukraina dan mengejek peringatan Barat tentang invasi. Amerika Serikat dan NATO menolak klaim Rusia bahwa mereka telah menarik pasukan kembali dari perbatasan Ukraina. Parlemen Rusia meminta Putin untuk mengakui dua wilayah memisahkan diri yang didukung Rusia di Ukraina timur.

18 Februari: Duta Besar AS untuk Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa, Michael Carpenter, mengatakan Rusia mungkin telah mengumpulkan antara 169.000-190.000 personel di dan dekat Ukraina

19 Februari: Pasukan nuklir strategis Rusia mengadakan latihan yang diawasi oleh Putin.

21 Februari: Macron mengatakan Biden dan Putin pada prinsipnya telah menyetujui pertemuan mengenai Ukraina. Kremlin mengatakan Putin akan menandatangani dekrit yang mengakui dua wilayah yang memisahkan diri di Ukraina timur sebagai entitas independen segera.

22 Februari: Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Linda Thomas-Greenfield, menolak pengumuman Putin “sebagai omong kosong” bahwa ia menempatkan pasukan Rusia di daerah-daerah separatis di Ukraina timur sebagai penjaga perdamaian, dengan mengatakan kehadiran mereka “jelas merupakan dasar bagi Rusia untuk membuat alasan agar bisa menyerang lebih lanjut ke Ukraina.”

23 Februari: Negara-negara Barat, termasuk Australia, memukul Rusia dengan larangan bepergian dan sanksi keuangan sebagai tanggapan atas apa yang disebut para pemimpin dunia sebagai penyerangan kedaulatan Ukraina.

24 Februari: Televisi Rusia menyiarkan pidato dari Putin sebelum pukul 6 pagi waktu Moskow, di mana dia berkata: “Rusia tak diberi kesempatan untuk melindungi dirinya sendiri dengan cara lain. Saya telah memutuskan untuk melakukan operasi militer khusus.”(*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Awas! Banyak Video Menyesatkan Terkait Konflik Ukraina Beredar di Media Sosial

Tech
Warga Ukraina Punya App Khusus, Bisa Lapor ke Pemerintah Jika Ada Tentara Rusia

Current Issues
Akhirnya! WHO Izinkan Penggunaan Darurat Vaksin Pfizer-BioNTech