Current Issues

Jutaan Masker Sekali Pakai Dibuang Tiap Menit, Mengancam Air dan Ekosistem Laut

Dwiwa

Posted on February 24th 2022

Penggunaan masker sekali pakai meningkat tajam semenjak pandemi Covid-19. Sayangnya, meskipun penutup wajah berbasis plastik ini melindungi dari ancaman virus Corona, tetapi masker juga telah menjadi bencana bagi lingkungan.

Dilansir Business Insider, populasi global menggunakan sekitar 129 miliar masker sekali pakai setiap bulan, atau sekitar 3 juta masker per menit. Masker bekas ada di mana-mana hingga membuat ilmuwan dan pecinta lingkungan merasa khawatir dengan tsunami sampah.

Mereka meramalkan konsekuensi ekologis yang mengerikan dari limbah masker kita – terutama setelah masker masuk ke saluran air bumi. Kait elastis pada masker bisa membelit kura-kura dan hewan air lainnya. Belum lagi ancaman kesehatan tingkat mikroskopis ketika masker mulai hancur.

John Hocevar, direktur kampanye kelautan di Greenpeace USA kepada Kelli María Korducki dari Insider mengatakan jika industri plastik berperan dalam hal ini. Mereka bekerja keras meyakinkan pembuat kebijakan dan masyarakat jika plastik sekali pakai diperlukan untuk menjaga kita tetap aman. Dan upaya itu tampaknya berhasil.

Menurut laporan Organisation for Economic Co-operation and Development 2021, konsumsi global plastik sekali pakai telah meningkat hingga 300 persen sejak pandemi dimulai. Seandainya APD yang terjangkau dan bisa digunakan kembali tersedia pun, mungkin itu tidak cukup untuk memberikan dampak signifikan terhadap krisis limbah masker.

Kebutuhan untuk mengatasi limbah masker semakin meningkat selama pandemi. Sebuah studi pada Desember 2021 melaporkan  peningkatan 9.000 persen sampah masker di Inggris selama tujuh bulan pertama pandemi.

Kehadiran varian baru yang lebih menular seperti Delta dan Omicron membuat pejabat kesehatan mempromosikan masker dan respirator sekali pakai seperti KN95 dan N95 non-bedah. Bukan lagi model kain yang dapat digunakan kembali yang disebut kurang protektif.

Tetapi dii tahun ketiga Covid-19, penelitian bukan hanya menemukan dampak polusi masker di saluran air, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran baru. Sarper Sarp, seorang profesor teknik kimia di Swansea University di Wales, memimpin studi kontaminasi yang menguji sembilan masker sekali pakai yang ada di pasaran.

Setelah menenggelamkan masker ke dalam air dan membiarkannya di sana dalam periode singkat, Sarp dan timnya menemukan bahwa ada partikel mikro dan nanoplastik yang dilepaskan. Air lindi (leachate) masker tersebut – yaitu partikel yang mereka pancarkan ke dalam cairan – sama dengan semacam teh beracun.

Masker juga ditemukan mengeluarkan nanopartikel silikon dan logam berat seperti timbal, kadmium, tembaga, dan bahkan arsenik. Masker melepaskan ratusan, dan terkadang ribuan, partikel beracun – partikel yang berpotensi mengganggu seluruh rantai makanan laut dan mencemari air minum.

Adanya nanopartikel silikon menjadi perhatian khusus. Silikon adalah bahan umum dalam produk perawatan kesehatan, mudah disterilkan dan dirawat. “Tetapi ketika dalam ukuran nano, itu cerita yang sama sekali berbeda,” ujar Sarp.

Partikel mikroplastik dihasilkan oleh semua jenis plastik sekali pakai, dari botol air hingga tas belanjaan. Meskipun tidak ideal untuk ekosistem laut, Sarp menjelaskan partikel ini dapat disaring secara signifikan oleh sistem pencernaan dan paru-paru kita.

Tetapi nanopartikel – dari plastik, silikon atau bahan lain – berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus dinding sel dan merusak DNA, memengaruhi bentuk kehidupan manusia dan non-manusia dalam tingkat sel.

Penelitian terbaru tentang nanopartikel silikon, khususnya, telah menunjukkan bahwa jika sebuah partikel sangat kecil dalam skala nano dapat bertindak hampir seperti bom karsinogenik yang kecil. Kalikan itu dengan minimal beberapa ratus per masker, dengan laju 50.000 masker yang dibuang per detik.

Sejumlah upaya sebenarnya telah dilakukan untuk mengurangi dampak limbah masker. Di Inggris, jaringan supermarket Morrisons telah menyiapkan tempat pengumpulan masker dalam kemitraan dengan ReWorked, sebuah perusahaan yang berencana mendaur ulang masker yang dibuang orang.

Di Kanada, layanan daur ulang plastik khusus yang disebut TerraCycle mengumpulkan dan memproses masker, selain produk plastik sekali pakai yang tidak dapat didaur ulang secara tradisional, melalui No Waste Boxes khusus langganan.

Solusi potensial lainnya adalah  masker reusable yang menawarkan perlindungan tingkat N95. Di AS, sebuah kelompok yang sebagian besar berasal dari fakultas teknik MIT telah bekerja sama untuk membentuk Teal Bio, sebuah startup alat pelindung diri yang bertujuan membuatnya jadi reusable,  membagikan respirator bergaya N95 yang dapat digunakan kembali ke tangan petugas kesehatan pada akhir musim semi.

CEO Tony Casciano mengatakan masker diperkirakan bisa digunakan selama setahun. Pengguna hanya perlu mendisinfeksi setelah digunakan dengan tisu alkohol atau pembersih rumah sakit standar, dan kemudian mengganti filter setelah shift mereka. Filter dapat terurai secara hayati dan sebagian besar terdiri dari apa yang Casciano gambarkan sebagai "wol khusus" yang terbuat dari "domba unik".(*)

Foto: Pixabay

Related Articles
Current Issues
Ada Varian Omicron, Apakah Masker Kain Masih Efektif? Ini Kata Ahli

Current Issues
CDC Sebut Masker Ini Paling Ampuh untuk Mencegah Penyebaran Omicron

Current Issues
Apakah Jenggot Bisa Mempengaruhi Risiko Penularan Covid-19?