Current Issues

Studi: Gadis Remaja Lebih Berisiko Alami Gangguan Makan Selama Pandemi

Dwiwa

Posted on February 21st 2022

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperingatkan adanya peningkatan gangguan makan dan tic (gerakan atau ucapan berulang di luar kendali) pada gadis remaja selama pandemi Covid-19.

Dilansir dari ABC News, studi baru ini menemukan proporsi kunjungan gawat darurat dengan gangguan makan dua kali lipat di antara gadis remaja dan untuk gangguan tic kurang lebih tiga kali lipat selama pandemi. Temuan ini semakin menggaungkan penelitian sebelumnya.

Dr. Nega Chaudhary, psikiater anak di Harvard Medical School dan kepala petugas medis di BeMe Health, mengatakan temuan ini serupa dengan apa yang dilihatnya di tempat praktik dan yang didengar langsung dari remaja.

“Banyak remaja dengan kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti depresi atau kecemasan mencatat gejala yang memburuk sejak pandemi, sementara yang lain tanpa kondisi yang didiagnosis sebelumnya tercatat memiliki gejala untuk pertama kalinya," ujar Chaudhary.

Dalam laporan mereka, para peneliti CDC mengatakan gangguan makan dapat dipicu oleh stres terkait pandemi, seperti kurangnya struktur dan rutinitas sehari-hari. Namun mereka mengatakan peningkatan kunjungan untuk gangguan tic adalah "atipikal" karena gangguan tic biasanya dimulai lebih awal pada masa kanak-kanak, dan lebih khas di antara laki-laki.

Para peneliti memperkirakan bahwa paparan tic parah di media sosial mungkin terkait dengan peningkatan kunjungan gangguan tic di kalangan gadis remaja. Mereka menyebutnya "TikTok Tics."

Jenis gangguan tic ini memiliki ciri yang berbeda dari sindrom Tourette, yang merupakan gangguan tic yang sering didiagnosis pada anak kecil. Selain itu, gangguan tic bisa dipicu oleh stres.

Pada tahun 2021, beberapa organisasi kesehatan anak di Amerika Serikat mengumumkan keadaan darurat nasional dalam kesehatan mental anak dan remaja. Dalam 10 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan masalah kesehatan mental anak dan remaja.

Bahkan pada 2018, bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua bagi remaja usia 10 hingga 24 tahun di negara tersebut. Masalah ini semakin memburuk dalam konteks pandemi terkait stresor, yang telah mengganggu keamanan dan stabilitas keluarga dan struktur kehidupan sehari-hari.

"Remaja di mana-mana telah terpukul lebih keras daripada kebanyakan kelompok oleh tekanan pandemi," kata Chaudhary. "Tidak heran jika kesehatan mental mereka menurun ketika dukungan mereka yang biasa - seperti struktur, rutinitas, dan koneksi teman sebaya - telah diambil paksa selama dua tahun terakhir."

Dalam laporan kedua yang dirilis Jumat, CDC menemukan penurunan kunjungan departemen darurat secara keseluruhan untuk alasan apa pun dalam dua tahun terakhir. Para ahli memperingatkan tingkat kunjungan gawat darurat yang lebih rendah bisa jadi karena orang takut mengunjungi pusat medis selama pandemi.

Namun terlepas dari penurunan keseluruhan, ada peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat karena alasan tertentu, seperti melukai diri sendiri, cedera senjata api, keracunan obat-obatan, dan kondisi kesehatan mental seperti gangguan makan, terutama pada gadis remaja.

"Beberapa remaja telah mengungkapkan bahwa selama masa ketidakpastian yang besar, mereka mendapati diri mereka mengubah pola makan sebagai upaya yang gagal untuk mendapatkan kembali rasa kontrol," kata Chaudhary. "Mereka sering menyadari bahwa itu terjadi, tetapi sulit untuk berhenti tanpa dukungan tambahan."

Gangguan makan mempengaruhi 9 persen dari populasi AS, dan akan mempengaruhi hampir 30 juta orang Amerika dalam hidup mereka, menurut National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders.

Orang tua, saudara kandung, dan teman-teman harus waspada terhadap tanda-tanda gangguan makan, yang dapat mencakup pembatasan asupan makanan serta makan berlebihan (binge eating) dan/atau menghilangkan makanan yang sudah dimakan dengan muntah atau minum obat pencahar atau lainnya (purging).

"Saya memuji para remaja yang mencari bantuan profesional, bahkan melalui kunjungan UGD," kata Chaudhary. “Saya berharap ada lebih banyak dukungan proaktif untuk remaja sehingga mereka bisa mendapat bantuan untuk kondisi kesehatan mental mereka sebelum menjadi berbahaya.” (*)

Foto: Pixabay/StockSnap

Artikel Terkait
Current Issues
Remaja Banyak Rasakan Kecemasan Saat Memulai Sekolah Tatap Muka

Interest
Selama Pandemi, Masalah Kesehatan Mental Remaja Naik Dua Kali Lipat

Current Issues
Lockdown Berdampak Negatif Pada Kesehatan Mental Remaja, Ada yang Ngalamin?