Current Issues

Studi: Pasien Covid-19 Mungkin Lebih Berisiko Terkena Masalah Kesehatan Mental

Dwiwa

Posted on February 18th 2022

Isolasi sosial, stres ekonomi, kehilangan orang terkasih, dan perjuangan lain selama pandemi telah berkontribusi pada meningkatnya masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Tetapi apakah orang yang terpapar covid-19 meningkatkan risiko mengembangkan masalah kesehatan mental?

Dilansir The New York Times, sebuah studi baru berskala besar mengungkap jika itu bisa terjadi. Studi yang dipublikasikan Rabu di dalam jurnal BMJ menganalisis catatan hampir 154 ribu pasien Covid dalam sistem administrasi kesehatan veteran dan membandingkan pengalaman mereka pada tahun setelah sembuh dari infeksi awal dengan kelompok orang yang tidak terpapar virus.

Penelitian itu mencakup hanya pasien yang tidak memiliki diagnosa atau perawatan kesehatan mental selama setidaknya dua tahun sebelum terinfeksi virus Corona. Ini membuat para peneiti untuk fokus pada diagnosis dan pengobatan psikiatris yang terjadi pasca infeksi.

Hasilnya, orang yang mengalami Covid-19 39 persen lebih mungkin didiagnosis dengan depresi dan 35 persen lebih mungkin didiagnosis dengan kecemasan selama berbulan-bulan setelah infeksi dibanding orang tanpa Covid di periode yang sama.

Pasien Covid 38 persen lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan stres dan penyesuaian dan 41 persen lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan tidur daripada orang yang tidak terinfeksi.

“Tampaknya ada diagnosis kesehatan mental yang jelas di bulan-bulan setelah Covid,” ujar Paul Harrison, seorang profesor psikiatri di Univeritas Oxford yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Dia mengatakan, hasil studi tersebut menggemakan gambaran yang muncul dari studi lain, termasuk studi yang pernah dia tulis pada 2021. Penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet Psychiatry pada 2020 juga menemukan jika 20 persen orang yang terinfeksi virus Corona didiagnosisi dengan gangguan kejiwaan seperti kecemasan, depresi, dan insomnia dalam waktu 90 hari.

Kemunculan studi ini pun semakin memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu tentang Covid yang membuat orang lebih berisiko mengalami kondisi kesehatan mental yang lebih umum.

Data tidak menunjukkan bahwa sebagian besar pasien Covid-19 akan mengalami gejala kesehatan mental. Hanya antara 4,4 persen dan 5,6 persen dari mereka dalam penelitian ini menerima diagnosis depresi, kecemasan, atau gangguan stres dan penyesuaian.

“Untungnya, ini bukan epidemi kecemasan dan depresi. Tetapi itu tidak sepele,” ujar Harrison.

Temuan lain dalam studi ini adalah  pasien Covid 80 persen lebih mungkin untuk mengembangkan masalah kognitif seperti kabut otak, kebingungan dan kelupaan daripada mereka yang tidak memiliki Covid. Mereka 34 persen lebih cenderung mengembangkan gangguan penggunaan opioid, mungkin dari obat yang diresepkan untuk rasa sakit, dan 20 persen lebih mungkin untuk mengembangkan gangguan penggunaan zat non-opioid termasuk alkoholisme.

Setelah memiliki Covid, 55 persen peserta lebih cenderung mengambil antidepresan yang diresepkan dan 65 persen lebih cenderung mengambil obat anti-kecemasan yang diresepkan daripada yang tidak memiliki covid.

Secara keseluruhan, lebih dari 18 persen dari pasien Covid menerima diagnosis atau resep untuk masalah neuropsikiatri pada tahun berikutnya, dibandingkan dengan kurang dari 12 persen dari kelompok non-Covid. Pasien Covid 60 persen lebih cenderung jatuh ke dalam kategori tersebut daripada orang yang tidak memiliki Covid.

Studi ini menemukan bahwa pasien yang dirawat di rumah sakit untuk Covid lebih mungkin didiagnosis dengan masalah kesehatan mental daripada mereka yang memiliki infeksi virus Corona yang kurang serius. Tetapi orang-orang dengan infeksi awal ringan masih berisiko lebih besar daripada orang tanpa covid.

"Beberapa orang selalu berpendapat bahwa 'Oh, yah, mungkin orang-orang depresi karena mereka perlu pergi ke rumah sakit dan mereka menghabiskan seperti seminggu di ICU," kata penulis senior penelitian, Dr. Ziyad Al-Aly, Ketua penelitian dan pengembangan di VA St. Louis Health Care System dan peneliti kesehatan masyarakat klinis di Washington University di St. Louis.

"Pada orang yang tidak dirawat di rumah sakit untuk Covid-19, risikonya lebih rendah tetapi tentu saja signifikan. Dan kebanyakan orang tidak perlu dirawat di rumah sakit, jadi itu benar-benar kelompok yang mewakili kebanyakan orang dengan Covid-19. "

Tim juga membandingkan diagnosa kesehatan mental untuk orang-orang yang dirawat di rumah sakit karena Covid dengan mereka yang dirawat di rumah sakit karena alasan lain.

"Apakah orang-orang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung atau kemoterapi atau kondisi lainnya, kelompok Covid-19 menunjukkan risiko yang lebih tinggi," kata Al-Aly.

Studi ini melibatkan catatan medis 153.848 orang dewasa yang positif virus Corona antara 1 Maret 2020, dan 15 Januari 2021, dan bertahan selama setidaknya 30 hari. Mereka kemudian diamati hingga 30 November 2021. Karena itu awal pandemi, sangat sedikit yang divaksinasi sebelum terinfeksi.

Penelitian tersebut mengungkapkan jika peserta yang terlibat sebagian besar pria kulit putih yang lebih tua, sehingga hasilnya mungkin tidak akan sama pada kelompok lain. Al-Aly mengatakan timnya berencana untuk menganalisis apakah vaksinasi berikutnya mengubah gejala kesehatan mental masyarakat, serta masalah medis pasca-Covid lainnya yang telah mereka pelajari. (*)

 

Foto: Pixabay/TotalShape

Artikel Terkait
Current Issues
Peneliti: Tingkat Kecemasan dan Depresi di Kalangan Mahasiswa Terus Melonjak

Current Issues
Stres Akibat Covid-19 Dapat Berdampak Pada Kebugaran Fisik

Current Issues
Studi: Depresi dan Kecemasan Berkepanjangan Bisa Terjadi Pada Kasus Covid Parah