Interest

Kekebalan Hibrida Tawarkan Perlindungan Lebih Lama Terhadap Infeksi Ulang Covid

Dwiwa

Posted on February 17th 2022

Dalam beberapa bulan terakhir, kekebalan hibrida alias kekebalan yang didapat pasca orang terinfeksi Covid-19 plus kekebalan dari vaksin, ramai diperbincangkan. Pasalnya, kekebalan hibrida (hybrid immunity) disebut memberikan perlindungan yang lebih baik dibanding dengan pasca infeksi atau pun vaksin saja.

Dilansir CNN, dua studi baru yang diterbitkan Rabu di New England Journal of Medicine juga mengungkap jika vaksin mRNA Covid-19 dari Pfizer-BioNTech memberikan lapisan perlindungan tambahan terhadap infeksi ulang. Selain itu, ini juga dapat meningkatkan daya tahan kekebalan dari waktu ke waktu.

Salah satu penelitian, yang dilakukan di Israel, menemukan bahwa di antara orang yang pulih dari infeksi Covid-19, infeksi ulang empat kali lebih sering terjadi pada mereka yang tidak menerima vaksin daripada yang menerimanya usai infeksi primer.

Namun, penelitian yang melibatkan lebih dari 149 ribu orang dengan riwayat infeksi Covid-19, juga menemukan bahwa efektivitas vaksin Pfizer lebih rendah pada orang dewasa di atas 65 tahun. Vaksin ini 82 persen efektif di antara orang berusia 16 hinga 64 tahun dan hanya 60 persen efektif di antara orang berusia 65 tahun ke atas. Penelitian ini dilakukan antara 1 Maret 2021 hingga 26 November 2021, termasuk saat lonjakan varian virus Corona Delta di Israel.

Studi tersebut juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam efektivitas vaksin jika orang yang sebelumnya terinfeksi menerima satu dosis atau dua dosis. Temuan ini menjadi bukti pendukung dari penelitian lain yang menunjukkan satu dosis cukup dalam melindungi penyintas Covid-19 dari infeksi ulang.

Ronen Arbel, peneliti utama dalam studi ini dan peneliti hasil kesehatan di Clalit Health Services di Israel, percaya bahwa lebih banyak negara harus mengadopsi kebijakan seperti yang diterapkan Kementerian Kesehatan Israel pada Maret 2021. Mereka merekomendasikan satu dosis vaksin untuk penyintas Covid-19 yang diberikan tiga bulan setelah infeksi primer.

 “Jika kalian sembuh dari Covid-19, itu seperti mendapat vaksinasi primer,” kata Arbel kepada CNN. “Kalian harus divaksinasi, tapi sekali saja sudah cukup. Ini seperti booster.”

Studi baru kedua, yang dilakukan di Inggris, menunjukkan bahwa kekebalan lebih tahan lama dan bertahan lebih lama pada orang yang telah pulih dari infeksi Covid-19 sebelum menerima vaksin Pfizer.

Di antara peserta yang sebelumnya tidak terinfeksi, dua dosis vaksin dikaitkan dengan penurunan 85 persen risiko infeksi dua bulan setelah vaksinasi. Namun, jumlah itu akan turun menjadi 51 persen enam bulan setelah divaksinasi.

Sebaliknya, mereka yang divaksinasi setelah sembuh dari Covid-19 mempertahankan lebih dari 90 persen perlindungan lebih dari setahun setelah infeksi primer dan lebih dari enam bulan setelah vaksinasi.

Studi di Inggris ini menggunakan data dari studi SIREN pada petugas kesehatan. Lebih dari 35 ribu peserta diamati antara 7 Desember 2020, dan 21 September 2021, dan menjalani tes PCR untuk Covid-19 setiap dua minggu.

Hasilnya, di antara orang yang sebelumnya terinfeksi, risiko infeksi ulang adalah 86 persen lebih rendah daripada risiko infeksi primer pada orang yang tidak divaksinasi. Tetapi, perlindungan ini turun menjadi 69 persen lebih dari setahun setelah infeksi, menunjukkan bahwa infeksi primer saja tidak memberikan kekebalan yang tahan lama.

Shane Crotty, virologis dan profesor di Center for Infectious Disease and Vaccine Research di La Jolla Institute for Immunology mengatakan kekebalan hibrida memungkinkan tubuh membuat antibodi yang lebih beragam untuk menetralisir varian yang lebih beragam. Ini juga terjadi dengan vaksinasi penuh dan booster, tetapi terjadi lebih cepat dengan infeksi yang diikuti dengan vaksinasi.

“Kekebalan hibrida mendapat banyak bonus tambahan. Salah satunya, yang ditunjukkan oleh penelitian ini, adalah daya tahan. Daya tahannya cukup kuat,” ujar Crotty.

Meskipun kedua penelitian menambah bukti yang berkembang bahwa kekebalan hibrida dapat menawarkan peningkatan perlindungan terhadap infeksi Covid-19 di masa depan, keduanya tidak termasuk data dari lonjakan varian Omicron yang sangat menular.

“Risiko keseluruhan untuk terinfeksi ulang jauh lebih tinggi dengan Omicron dibandingkan dengan Delta. Apakah vaksin melindungi (melawan Omicron)? Kami dapat berhipotesis bahwa itu benar, tetapi kami belum memiliki datanya,” kata Arbel. (*) 

 

Ilustrasi: Pixabay/Alexandra_Koch

Related Articles
Current Issues
Studi: Omicron Dapat Menghindari Sistem Kekebalan Lebih Baik dari Delta

Current Issues
Seberapa Sering Kita Bisa Terinfeksi Virus Corona?

Current Issues
Kabar Baik, Studi Ungkap Kemungkinan Omicron Sebabkan Long Covid Lebih Rendah