Current Issues

Covid-19 di Indonesia Makin Menggila, Kebiasaan Ini Bikin Kamu Lebih Berisiko

Dwiwa

Posted on February 12th 2022

Jumlah kasus Covid-19 mengalami lonjakan yang cukup signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, angkanya selalu menembus lebih dari 40 ribu kasus per hari. Kenaikan ini tentu membuat kita harus semakin waspada dan lebih berhati-hati dalam menjalani berbagai aktivitas agar tidak tertular Covid-19.

Pasalnya, berbagai studi telah mengungkap jika meskipun kita sudah mendapatkan vaksinasi penuh, bahkan mungkin booster, tetapi varian baru Omicron masih bisa menginfeksi. Penelitian lain juga menjelaskan jika perlindungan yang ditawarkan oleh vaksin terhadap Omicron juga lebih rendah.

“Vaksin tidak 100 persen efektif, karena jumlah orang yang divaksinasi penuh naik, jumlah breakthrough infection juga akan naik. Meski begitu, risiko infeksi tetap lebih besar pada orang yang tidak divaksinasi,” jelas Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) seperti dilansir dari Eat This, Not That!.

Lalu kebiasaan seperti apa sih yang bikin kita jadi lebih berisiko?

 

1. Perjalanan yang tidak penting

Meskipun pemerintah masih memberlakukan sejumlah aturan cukup ketat bagi pelaku perjalanan, tetapi itu tidak berarti jika itu seratus persen aman. Tidak sedikit orang yang mendapatkan hasil PCR atau antigen negatif  saat akan berangkat bisa menjadi positif ketika tiba di tempat tujuan.

Tentu ini berarti kita benar-benar harus menghindari perjalanan yang tidak penting. Namun jika terpaksa harus bepergian, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk melindungi diri.

“Hindari permukaan yang sering disentuh, jaga kebersihan tangan dimanapun, gunakan masker, jaa jarak, prosedur boarding yang terkontrol, mencoba menghindari kontak tatap muka dengan penumpang lain, tidak membuka masker saat penerbangan, untuk makan dan minum, terlepas dari jika memang sangat diperlukan,” ujar David Powell, dokter dan penasihat medis Asosiasi Transportasi Udara Internasional seperti dilansir Eat This, Not That!.

Perlindungan terbesar yang bisa kamu berikan untuk diri sendiri adalah dengan divaksinasi dan mendapatkan booster.”

 

2. Tidak memakai masker di dalam ruangan

Sudah divaksin tidak berarti terlindungi 100 persen. Itu artinya, protokol kesehatan lain seperti memakai masker, jaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas tetap harus dilakukan.

Dr Inci Yildirim Ph.D, spesialis penyakit menular pediatrik dan vaksinolog Yale Medicine menjelaskan jika memakai masker itu seperti memakai tabir surya.

“Jika kamu berada dalam kerumunan yang ramai, berpotensi ada orang yang tidak divaksinasi, gunakan masker dan jaga jarak. Jika tidak divaksinasi dan memenuhi syarat untuk vaksin, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mendapatkan vaksinasi,” ujarnya.

 

3. Memiliki kondisi kesehatan yang mendasari

Menurut Klinik Cleveland ada beberapa orang yang berisiko besar tertular Covid-19. Di antaranya adalah orang yang tinggal atau baru saja berkunjung ke daerah yang memiliki kasus aktif tinggi dan pernah melakukan kontak dekat dengan orang yang terkonfirmasi atau diduga terkonfirmasi.

Selain itu, orang di atas usia 60 tahun yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya atau memiliki sistem kekebalan yang lemah juga memiliki risiko besar.

 

4. Kelebihan berat badan

Menurut CDC, memiliki obesitas atau hanya kelebihan berat badan meningkatkan risiko terjadinya keparahan dan perawatan rumah sakit akibat Covid-19.

“Kami telah mempelajari bahwa obesitas adalah faktor risiko untuk Covid-19 parah, yang meliputi perawatan rumah sakit, perlu perawatan intensif, dukungan ventilator, dan meningkatkan kematian,” ujar Ali Aminian, MD, Direktur dari Bariatric and Metabolic Institute di Klinik Cleveland.

 

5. Merokok atau vape

CDC mengatakan jika merokok dapat membuat risiko tertular Covid-19 lebih besar. “Kami melihat kasus Covid-19 yang lebih buruk pada perokok,” ujar Panagis Galiatsatos, ahli penyakit paru-paru di Johns Hopkins Bayview Medical Center.

Dia menjelaskan jika paru paru, yang menjadi garis depan sistem kekebalan kita, berinteraksi dengan lingkungan setiap kali bernapas. Ketika kita menghirup asap rokok, kuman atau alergen, paru-paru bisa teriritasi, dan iritasi itu membuat sistem kekebalan tubuh terlepas untuk melawan iritasi.

Infeksi virus Corona jauh lebih kuat dari pada itu, artinya respon gejala yang diberikan juga akan diperkuat. (*)

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Cegah Peningkatan Omicron, Masyarakat Diminta Tak Lakukan Perjalanan Luar Negeri

Current Issues
Varian Delta Masih Menyebar, Amankah Orang yang Sudah Divaksin Bepergian?

Current Issues
"Covid-19 Ringan" Tak Selalu Ringan, Ini Tips Pemulihan dan Isolasi di Rumah