Sport

Pabrik Sprinter Hebat Ibu Kota

Mainmain.id

Posted on February 1st 2022


DKI Jakarta punya satu event hebat. Berlangsung setiap bulan selama kurang lebih 15 tahun terakhir. Namanya Kejuaraan Atletik Pelajar Bulanan (KAPB). Rutin diadakan oleh sekelompok dosen dan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Turnamen ini berhasil melahirkan atlet nasional seperti Emilia Nova dan Bayu Kertanegara.

KAPB berlangsung sejak 2007. Digelar di pekan ketiga atau keempat setiap bulannya. Kejuaraan ini digagas oleh Mustara, dosen UNJ yang kini menjabat Ketua PASI DKI Jakarta. Mustara bergerak berlandaskan keprihatinan atas prestasi tim atletik DKI Jakarta yang kurang menggigit di pelbagai multievent. Baik di level pelajar maupun senior.

Dengan jumlah penduduk DKI Jakarta yang luar biasa, Mustara yakin muncul atlet hebat dari cabang olahraga atletik. Tentu saja proses itu tidak instan, serta tidak mudah. Secara perjahan ia mencoba mengikis stigma DKI Jakarta yang sering mentransfer atlet dari daerah lain demi berprestasi di multievent. Jalan satu-satunya hanya memproduksi atlet sendiri. Inilah alasan utama digelarnya KAPB.

"Kami belajar dari Jamaika. Bagaimana sebuah negara kecil berhasil mendunia berkat atletik. Ternyata Jamaika memiliki lomba lari yang diadakan setiap minggu di tiap distrik. Kami mengkajinya di kampus, lalu kami terapkan di Jakarta," cerita Mustara.

Mustara pun bergerak pada 2007. Ia menggandeng mahasiswa-mahasiswanya untuk membantu kegiatan ini. Supaya mereka medapatkan pengalaman langsung di lapangan. Baik sebagai staf panitia maupun menjadi wasit dan juri. Para mahasiswa ini juga diajarkan bagaimana menjadi penyelenggara sebuah event atau kejuaraan.

Meski bertajuk kejuaraan atletik, KAPB hanya melombakan disiplin sprint saja. Tentu saja Mustara dan timnya sempat mendapatkan banyak pertanyaan dan komentar bernada miring. Namun mereka bergeming. KAPB terus mereka gulirkan setiap bulannya. Anggarannya swadaya. Beruntung mereka berbasis di kampus. Sehingga ada beberapa item pengeluaran yang bisa diminimalisasi.

Karena hanya melombakan nomor sprint, serta dari level SD hingga SMA, membuat peserta KAPB kian hari makin membludak. Ada banyak atlet dari cabang olahraga lain yang ambil bagian di kejuaraan ini. Dalam sekali gelaran KAPB bisa diikuti hingga 400 atlet. Biaya pendaftarannya pun sangat murah, hanya Rp15.000 saja. Selain untuk biaya pelaksanaan, dana hasil pendaftaran juga digunakan sebagai hadiah untuk para pemenang.

Karena konsisten digelar tiap bulan, serta kualitas yang makin terjaga, membuat peminat KAPB tidak hanya dari wilayah DKI Jakarta saja. Pelbagai pelajar dari kota-kota di provinsi lain pun ikut ambil bagian. "Silahkan turun di KAPB bagi yang datang dari luar Jakarta. Namun kami hitung sebagai peserta eksebisi," jelas Mustara.

KAPB makin meroket setelah salah satu atlet potensialnya, Betharia Hana Sahulata menembus tim DKI Jakarta yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON). Dia tampil di nomor estafet 4×100 meter putri dan berhasil membawa pulang medali perak di PON XVIII di Riau. KAPB turut andil menghasilkan atlet-atlet hebat untuk DKI Jakarta kala ibu kota menjadi yang terbaik di cabang olahraga atletik di PON XIX 2016 di Jawa Barat (Jabar). Pada saat itu DKI Jakarta mendulang 15 emas, 3 perak, dan 2 perunggu dari atletik.

Tak sekadar menjadi juara umum di PON 2016, DKI Jakarta juga melambungkan nama Emilia Nova yang merebut emas di nomor 100 meter gawang, Saptalomba, dan 4 × 100 meter estafet. Tidak hanya berprestasi di ajang PON, Emilia juga tertaji di multievent internasional. Emilia meraih perak di Asian Games 2018. Lalu mendapatkan emas di SEA Games 2019 di Manila.

"Sejak awal kami tidak mengincar hasil instan. Kami sudah memprediksi sekitar delapan hingga sepuluh tahun baru bisa menghasilkan juara nasional dan Asia Tenggara," terang Andri Paranoan, Pembina KAPB.

Andri sudah terjun di KAPB sejak masih kuliah. Waktu itu ia tercatat sebagai salah satu mahasiswa Mustara. Kini ia sudah sukses. Andri telah menjadi dosesn di Akademi Olahraga Prestasi Nasional. Selain itu, ia juga menjabat Sekretaris Umum (Sekum) PASI DKI Jakarta. "Ke depan kami ingin membuat Emil-Emil yang lain. Menemukan seperti Emil itu tak mudah. Seratus banding satu, bahkan seribu banding satu," ungkap Andri.

Sementara Mustara memiliki planning lebih besar. Ia ingin meniru langkah Jamaika dengan mengadakan lomba di tingkat kampung. Ide itu sempat berjalan pada Januari dan Februari 2020. Namun terhenti karena Covid-19. Ia ingin menghidupkan lagi gelaran tersebut pada tahun ini. Namun skalanya akan diperluas. Tidak hanya berkutat di Jakarta saja. Mustara ingin ada lebih banyak lomba atletik, khususnya sprint, di provinsi lainnya.

Syaratnya pun tak sulit. Menurut Mustara, hajat ini bisa dilangsungkan di lapangan sepak bola yang tersedia di desa atau kampung. Masalah jarak tak harus menjadi patokan utama. Yang penting adalah menumbuhkan minat di masyarakat kepada olahraga atletik. "Yang perlu ditata adalah atmosfer kompetisinya. Saya yakin mendapat bibit atlet bagus dari kejuaraan antar kampung," terangnya. (*)

Foto: @lutvialparis

Artikel Terkait
Sport
Bapak Atletik Indonesia Berpulang

Sport
Mengenal Erriyon Knighton, Remaja yang Pecahkan Rekor Lari Usain Bolt

Sport
Bob Hasan, 44 Tahun Mengabdi untuk Atletik Indonesia