Current Issues

4 Hal Ini Bisa Bikin Kamu Lebih Berisiko Terkena Long Covid

Dwiwa

Posted on January 29th 2022

Infeksi virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 memang tidak selalu berakhir parah. Tetapi bagi yang mengalami gejala ringan sekalipun, misalnya batuk atau kehilangan penciuman, bisa berlangsung dalam waktu cukup lama atau yang disebut dengan long Covid.

Para ahli pun terus mencari tahu mengapa virus ini bisa membuat orang yang terinfeksi mengalami masalah berkepanjangan tetapi pada sebagian lainnya bisa kembali pulih setelah beberapa hari.

Dilansir Bestlife, sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Cell mengungkap ada empat faktor yang bisa diidentifikasi sejak awal yang kemungkinan berkaitan dengan peningkatan risiko long Covid.

Para peneliti mengikuti dan menganalisis lebih dari 200 pasien selama dua hingga tiga bulan setelah diagnosis Covid awal mereka. Menurut para ilmuwan, ada hubungan pada empat faktor berbeda dan gejala yang menetap, tidak peduli apakah infeksi awal muncul secara ringan atau berat.

Keempat faktor itu adalah diabetes tipe 2, reaktivasi virus Epstein-Barr, tingkat RNA virus korona di darah, dan keberadaan autoantibodi tertentu.

 

1. Diabetes tipe 2

Menurut studi tersebut, ada korelasi signifikan antara diabetes tipe 2 dengan pasien yang mengalami long Covid. Tetapi para peneliti juga mencatat bahwa dalam penelitian yang melibatkan jumlah pasien yang lebih banyak, diabetes mungkin menjadi salah stau dari beberapa kondisi medis yang dapat meningkatkan risiko long Covid, seperti halnya penyakit penyerta lain yang juga meningkatkan risiko penyakit parah.

 

2. Reaktivasi virus Epstein-Bar

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), virus Epstein-Barr adalah salah satu virus manusia yang paling umum yang menginfeksi kebanyakan orang pada beberapa titik dalam hidup mereka, biasanya saat masih muda.

Menurut penelitian, beberapa pasien long Covid tampaknya memiliki virus Epstein-Barr yang diaktifkan kembali saat terinfeksi virus Corona.

Avindra Nath, MD, kepala bagian infeksi sistem saraf di National Institute of Neurological Disorders and Stroke yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada The New York Times bahwa ini bukanlah temuan yang tidak biasa, seperti penyakit lain yang membangkitkan kembali virus ini.

Reaktivasi Epstein-Barr telah dikaitkan dengan beberapa kondisi yang menyerupai masalah long Covid, seperti sindrom kelelahan kronis dan multiple sclerosis.

 

3. Tingkat RNA virus Corona dalam darah

Tingkat RNA virus Corona dalam darah pada awal infeksi pasien adalah indikator utama viral load. Menurut penelitian, viral load yang tinggi ditemukan terkait dengan perkembangan long Covid. Karena itu, beberapa peneliti mengatakan mungkin bermanfaat untuk memberi orang obat antivirus segera setelah diagnosis untuk membantu mencegah gejala yang berkepanjangan.

“Semakin cepat seseorang dapat menghilangkan virus, semakin kecil kemungkinan mengembangkan virus persisten atau autoimunitas, yang dapat mendorong long Covid,” ujar Akiko Iwasaki, PhD, seorang ahli imunologi di Yale, yang tidak terlibat dalam studi, kepada The New York Times.

 

4. Keberadaan atoantibodi tertentu

Menurut Jim Heath, PhD, peneliti utama studi dan presiden Institute for Systems Biology (sebuah organisasi penelitian biomedis nirlaba di Seattle), kepada The New York Times mengatakan jika faktor yang paling berpengaruh tampaknya adalah keberadaan autoantibodi tertentu yang secara keliru menyerang jaringan dalam tubuh. Menurut penelitian, autoantibodi ini muncul pada dua pertiga kasus long Covid yang diidentifikasi.

Studi lain yang baru-baru ini dilakukan oleh Ceras-Sinai dan diterbitkan dalam Journal of Translational Medicine pada 30 Desember juga menemukan bahwa autoantibodi spesifik muncul di tubuh penderita long Covid, berbulan-bulan setelah mereka “sepenuhnya pulih” dari infeksi virus.

“Kami menemukan sinyal aktivitas autoantibodi yang biasanya terkait dengan peradangan kronis dan cidera yang melibatkan sistem organ dan jaringan seperti sendi, kulit, dan sistem saraf,” ujar Susan Cheng, MD, penulis senior studi ini dan direktur Institute for Research on Healthy Aging di Department of Cardiology di Smidt Heart Institute dalam sebuah pernyataan. (*) 

 

Foto: Pixabay/Cassiopeia_Arts

Artikel Terkait
Current Issues
Sekolah Dibuka Januari 2021, 7 Hal Ini Harus Dilakukan Sekolahmu

Current Issues
Pedoman Baru CDC Akui Covid-19 Menular Melalui Udara

Current Issues
Jangan Asal Pilih Masker Kain, Harus Sesuai SNI Agar Efektif Cegah Covid-19