Interest

Batik Lasem Yang Bikin Kesemsem

Hening Swastika

Posted on October 2nd 2018

Selain batik keraton, yang identik dengan warna natural dan motif berulangnya, Indonesia juga memiliki ragam batik pesisir yang cenderung berwarna cerah dan bermotif luwes. Seperti batik Cirebon, batik Madura, dan batik Pekalongan.

Namun, ada satu jenis batik pesisir yang sebenarnya sudah lebih dulu terkenal. Bahkan di awal abad ke-20, batik pesisir yang satu ini menjadi batik premium nan mahal. Hanya para sosialita saja yang mampu menggunakan kain ini. Ia bernama Batik Tiga Negeri. Apakah kalian pernah mendengarnya? 

Lahir di Lasem, sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah, membuat batik ini kaya akan pengaruh banyak budaya. Di antaranya budaya Jawa (Solo), Belanda (Pekalongan), dan Tionghoa (Lasem). Ketiganya tergambarkan lewat motif pada kain. Atas perpaduan ketiga budaya itulah, batik ini lantas dinamai Batik Tiga Negeri. 

Unsur budaya pecinan merupakan kekhasan Lasem yang terwakilkan oleh motif bunga teratai dan motif fauna seperti burung hong (burung pembawa keberuntungan), naga, atau liong. Sedangkan unsur budaya Jawa, yang terinspirasi dari Solo, terwakilkan oleh ornamen kawung, watu krecak, juga parangan. Nah, di bagian manakah pengaruh budaya Belanda yang tampil pada Batik Tiga Negeri? Jawabannya ada pada pengaruh Pekalongan, yang terkenal dengan Batik Belanda-nya. Terwakilkan dengan motif-motif yang terinspirasi dongeng Eropa dan motif buketan (dari kata bouquet yang berarti seikat bunga).

Pengaruh ketiga kota di atas ternyata juga mencakup warna pada Batik Tiga Negeri. Merah, atau dikenal sebagai merah getih pitik (darah ayam), mewakili Lasem sebagai kota pecinan. Biru indigo yang dipengaruhi warna kesukaan wanita-wanita Belanda mewakili Pekalongan, dan cokelat soga yang khas Jawa mewakili Solo.

Tak tanggung-tanggung, demi bisa mewakilkan ketiganya secara utuh, proses pewarnaan pun harus dilakukan di masing-masing kota tersebut. Warna merah dicelup di Lasem, biru di Pekalongan atau Kudus, dan cokelat di Solo atau Yogyakarta.

Wah, ribet juga ya. Apa nggak bisa dilakukan di Lasem saja?

Tidak bisa. Itu adalah proses yang tidak bisa ditawar untuk menciptakan Batik Tiga Negeri. Bila pewarnaan tidak dilakukan di masing-masing kota itu, konon, batik yang dihasilkan tidak akan indah karena warna yang diharapkan tidak keluar. Bila dijelaskan menurut sains, pengaruh mineral air di masing-masing daerah itulah yang mempengaruhi tampilan warna tersebut.

Dengan proses pewarnaan batik yang bisa memakan waktu hingga tiga bulan, ditambah sulitnya menemukan pebatik yang bisa mengerjakan dengan baik, membuat banyak produsennya memilih tutup. Tak terkecuali produksi Tjoa Giok Tjiam, yang sudah membuat Batik Tiga Negeri sejak 1910.

FYI, batik Tiga Negeri yang memiliki identitas ‘Tjoa’ pada kainnya merupakan batik produksi Lasem terbaik yang pernah ada. Diduga, identitas itu datang dari kedua pencipta batik Tiga Negeri, Tjoa Tjoen Kiat dan Tjoa Siang Swie.

Mungkin, Batik Tiga Negeri tidak lagi dikenali generasi muda saat ini. Namun kisahnya yang merangkum keberagaman dan toleransi, harusnya tetap lestari sebagai bukti betapa multikulturalnya Nusantara kita.

Related Articles
Current Issues
Media China Klaim Batik Sebagai Budaya Negaranya, Yuk Cari Tahu Kebenarannya!

Opinion
Kenapa Pilih Brand Luar, Kalau Yang Lokal Sudah Mengglobal?

Interest
Penasaran dengan Rumah Otis di 'Sex Education'? Tenang, Kalian Bisa Sewa Kok