Current Issues

Studi: Banyak Efek Samping Vaksin Covid-19 Disebabkan Efek Nocebo

Dwiwa

Posted on January 22nd 2022

Salah satu alasan yang sering dilontarkan orang enggan divaksin adalah adanya kekhawatiran terhadap efek samping, terutama vaksin Covid-19. Tetapi menurut data baru dari meta-analisis komprehensif menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan.

Dilansir dari ABC News studi dari Beth Israel Deaconess Medical Center menemukan bahwa sejumlah besar efek samping yang dilaporkan oleh pasien setelah menerima suntikan vaksin dapat dikaitkan dengan efek plasebo versi negatif atau nocebo.

Para peneliti memeriksa 12 uji coba keamanan vaksin, yang melibatkan ribuan orang. Penelitian itu membandingkan tingkat efek samping yang dilaporkan antara mereka yang menerima suntikan plasebo dan mereka yang menerima suntikan nyata.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa setelah suntikan pertama, dua pertiga subjek mengalami efek samping seperti sakit kepala dan kelelahan, yang menurut para peneliti disebabkan oleh efek plasebo. Hal yang mengejutkan, hampir seperempat subjek -beberapa yang menerima suntikan plasebo - mengalami efek samping seperti lengan yang sakit, juga disebabkan oleh efek plasebo.

Apa itu nocebo?

Efek plasebo terjadi ketika orang mengantisipasi perawatan medis akan memiliki efek tertentu, sedemikian rupa sehingga mereka merasakan hasil yang mereka perkirakan setelah mendapat perawatan. Umumnya ini bersifat positif.

Sementara efek nocebo ini bisa dibilang sebagai efek plasebo versi negatif. Jadi substansi yang sebenarnya tidak menimbulkan rasa sakit membuat seseorang jadi merasa sakit karena kepercayaan atau persepsi terhadap suatu hal.

Menurut Dr. William Schaffner, profesor kedokteran pencegahan dan penyakit menular di Vanderbilt University, ini adalah fenomena yang terkenal di kalangan ilmuwan dan penting untuk diselidiki ketika mengembangkan vaksin dan obat-obatan.

"Setelah disuntik, orang-orang sekarang lebih sadar bahwa mereka mungkin telah mendapatkan vaksin. Mereka lebih mungkin memberi tahu dokter tentang berbagai hal," kata Schaffner. "Jangan pernah meremehkan kekuatan pikiran manusia."

Para ahli mengatakan efek plasebo adalah contoh kuat dari hubungan antara pikiran, tubuh, dan keadaan kita.

Dalam penelitian tersebut, jumlah efek samping yang disebabkan oleh efek plasebo menurun menjadi sekitar setengahnya setelah orang yang diteliti menerima suntikan kedua. Frekuensi efek samping lebih rendah di antara penerima plasebo setelah suntikan kedua. Sementara pada penerima vaksin, pada suntikan kedua justru efek samping yang dilaporkan meningkat.

Menurut The Guardian, secara keseluruhan, para peneliti menghitung bahwa sekitar dua pertiga dari efek samping umum yang dilaporkan dalam uji coba vaksin Covid didorong oleh efek nocebo, khususnya sakit kepala dan kelelahan, yang banyak tercantum di daftar selebaran vaksin Covid sebagai reaksi merugikan paling umum setelah suntikan.

Para peneliti mencatat satu peringatan bahwa penelitian yang diperiksa mencakup fase uji klinis yang berbeda, dan hasilnya tidak distandarisasi secara keseluruhan.

Menurut para ahli, hasil dari studi ini bisa membantu mengatasi keraguan masyarakat terhadap vaksin. Apalagi di tengah munculnya varian Omicron yang lebih menular yang telah memicu lonjakan kasus di sejumlah negara.

Para ahli yang diwawancarai oleh ABC News mengatakan bahwa jika lebih banyak orang tahu bahwa mengalami efek samping dari vaksin Covid-19 tidak sesering yang mereka kira, lebih banyak orang mungkin terdorong untuk divaksinasi.

"Ketika orang dipersenjatai dengan informasi, mereka lebih mudah untuk mengidentifikasi dan mengelola gejala mereka," kata Dr. Simone Wildes, dokter penyakit menular di South Shore Health. "Ini mungkin juga membantu mereka yang enggan divaksinasi." (*)

Pexels/Gustavo Fring

Related Articles
Current Issues
Negara-negara Ini Sudah Berikan Vaksin Covid-19 Booster untuk Remaja

Current Issues
Dosis Vaksin Keempat Naikkan Antibodi, Tapi Tak Cukup Ampuh Lawan Omicron

Current Issues
Jangan Terjebak dengan Covid-19 “Ringan”, Gejalanya Tak Seenteng Kedengarannya