Current Issues

Secangkir Jawa Yang Mengubah Dunia

Hening Swastika

Posted on October 1st 2018

Alkisah, ada sebuah biji tanaman dari daratan Abyssinia, Ethiopia yang disebut-sebut mampu menyegarkan tubuh. Jika diolah akan menghasilkan cairan hitam seperti jelaga dan rasanya pahit. Oleh karena khasiatnya yang mampu membuat orang terjaga semalam suntuk, tanaman itu dikembangbiakkan ke dataran tinggi di Yaman agar bisa diperdagangkan secara eksklusif ke luar Arab lewat pelabuhan Mocha, Yaman.

Perdagangan ekslusif ini akhirnya tak berlaku kala seorang peziarah asal India berhasil menumbuhkan tanaman ini di India Selatan. Hingga kemudian Belanda mendengar akan khasiatnya, mereka pun mencoba membudidayakan tanaman ini semakin jauh dari daerah asalnya.

Adalah Jenderal Adrian van Ommen yang mungkin tak pernah menduga kalau biji yang ia bawa ke Batavia mampu mengubah dunia. Berasal dari Etiopia lalu menyebar ke Asia Selatan, biji tanaman yang dalam bahasa Turki disebut kahveh itu kemudian menjadi komoditas dagang krusial di Nusantara.

Masyarakat Nusantara sendiri mengenalnya sebagai kopi. Diserap dari bahasa Belanda yang didapat ketika para meneer-meneer itu menduduki negara ini. Meski dalam sistem pengadaannya menyisakan sejarah kelam, pada akhirnya kopi menjadi bagian kehidupan kita yang membudaya dan tak terpisahkan.

Ketika dibawa ke Batavia, kopi ditanam di kawasan bernama Kedawung yang kini kita kenal sebagai Pondok Kopi, Jakarta Timur. Sayang, banjir menggagalkan tumbuh kembangnya dan membuat penanamannya dipindah ke kawasan lain yang lebih tinggi. Tanah Priangan pun menjadi salah satu solusi kawasan agar kopi bisa berkembang.

Selain memindah tempat berkebun, bibit yang digunakan pun didatangkan langsung dari Malabar, kota yang saat itu terkenal sebagai produsen kopi dunia, dalam bentuk stek. Beruntung, uji coba tersebut berhasil. Biji kopi pertama yang berjenis Arabika (Coffea arabica) tumbuh baik dan membuat Belanda mampu mengekspor kopi dari Jawa ke Eropa sejak 1711. Keberhasilan Arabika tumbuh di Jawa ini pula yang menjadikan Jawa sebagai kebun kopi pertama di Asia Tenggara. Produksinya mengalahkan yang ada di Yaman, dan kepopulerannya membuat bule-bule Eropa mengganti istilah kopi dengan a cup of Java.

Berhasilnya uji coba di Priangan membuat Belanda meluaskan area penanaman kopi ke penjuru Nusantara lainnya. Mulai dari Mandailing, Lintong, Sidikalang, hingga Gayo. Sampai sekarang, kawasan-kawasan tersebut masih bertahan sebagai daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia.

Puncak keemasan ‘Java’ bertahan hingga 1870. Sebelum akhirnya hama karat daun Hemileia vastatrix menyerang kebun kopi di Priangan dan kebun-kebun lain di Nusantara. Belanda pun segera mendatangkan jenis lain untuk menggantikannya. Yakni Liberika (Coffea liberica) yang digadang-gadang lebih tahan hama dari pada Arabika. Ia ditanam di beberapa daerah Jawa dan Sumatera.

Namun karena rasanya terlalu asam, minat pasar terhadap Liberika sangat rendah. Selain itu, di perkebunan pun ia masih saja tak tahan hama. Belanda lantas kembali memutar otak dengan mendatangkan jenis Robusta (Coffea canephora) pada 1907 yang diyakini lebih tahan hama dan lebih mudah berproduksi. Syukurlah, sampai detik ini hasil Robusta dari Indonesia mampu mendominasi ekspor kopi Nusantara.

Ketika akhirnya kopi mencapai Inggris, banyak kedai kopi bermunculan. Kopi menjadi teman yang asyik dinikmati sambil berbincang, sebagaimana yang pernah terjadi saat kopi masih terkenal di jazirah Arab sana. Namun, tak ada yang sadar bahwa dari perbincangan-perbincangan itu muncul pertukaran ide yang mengarah ke perubahan sosial politik di Benua Biru.

Mengingat peran media massa tidak semasif saat ini, kedai kopi saat itu bisa dibilang corong bagi sebuah berita agar viral dari mulut ke mulut. Banyak politisi yang gentar akan obrolan warung kopi kala itu. Salah satu yang menghasilkan dampak adalah terjadinya Revolusi Prancis sebagaimana dikutip dari Michelet oleh Mark Pendergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World (Historia.id, 7 Oktober 2011).

Secangkir ‘Java’ juga sempat membuat Inggris dan Cina berperang, lalu memicu revolusi Amerika Serikat. Diawali dari penyakit sampar yang merebak di Batavia, muncullah penelitian yang mengatakan bahwa kebiasaan minum kopilah yang membuat penyakit ini mewabah. Diketahui mereka yang minum teh tidak tertular sama sekali. Sehingga, teh pun kembali menjadi barang dagangan yang laris manis mengalahkan kopi dan rempah-rempah.

Inggris lalu berusaha memonopoli pasar teh yang sempat terlupakan sampai harus berperang dengan Cina. Dan begitu sukses menguasai pasar, Amerika yang saat itu ada di bawah tekanan Inggris berontak dengan membuang kotak-kotak teh milik Inggris lewat peristiwa Boston Tea Party. Sejarawan Unhas Dias Paradadimara mengatakan, masyarakat Amerika menolak minum teh dan lebih memilih kopi sebagai simbol dimulainya revolusi  (Historia.id, 17 Februari 2016). Dan semangat revolusi itu membuat masyarakat Amerika sampai hari ini lebih memilih kopi dari pada teh.

Nah, kalau kamu, minum kopi sebagai simbol apa nih?

Related Articles
Current Issues
Mengenal Cascara, Kulit Buah Kopi yang Belakangan Nge-hype jadi Minuman

Current Issues
Vaksin Covid-19 Buatan Indonesia Mungkin Tersedia Pada 2021

Current Issues
Ketika Anak Muda Sumbawa Bertaruh Nyawa Demi Upah dari Joki Kuda