Current Issues

Pernah Kena Covid-19 Memang Bisa Lebih Kebal, tapi Tetap Lebih Aman Vaksin

Dwiwa

Posted on January 21st 2022

Penelitian baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan pejabat kesehatan di California dan New York menunjukkan bahwa kasus Covid-19 sebelumnya melindungi orang dari infeksi lebih baik daripada vaksinasi selama gelombang Delta musim panas dan musim gugur lalu.

Dilansir dari NBC News, temuan yang diterbitkan Rabu di Morbidity and Mortality Weekly Report CDC, tampaknya bertentangan dengan pesan kesehatan masyarakat yang mendorong vaksinasi.

Tetapi para ahli berpendapat bahwa suntikan tetap merupakan cara teraman untuk melindungi dari konsekuensi paling mengerikan akibat Covid. Bahkan selama puncak gelombang Delta musim panas lalu, hampir semua pasien Covid yang dirawat di rumah sakit tidak divaksinasi.

"Vaksin terus mengurangi risiko seseorang tertular virus yang menyebabkan Covid-19 dan sangat efektif untuk mencegah penyakit parah," kata Benjamin Silk, salah satu penulis studi dan ahli epidemiologi penyakit menular di CDC, saat dihubungi wartawan.

Penelitian baru ini didasarkan pada analisis infeksi Covid-19 di antara lebih dari 1,1 juta orang dewasa di California dan New York dari Mei hingga November tahun lalu.

Kerangka waktu itu terbatas pada periode ketika varian Delta yang sangat menular mulai meningkat, dan kekebalan di antara mereka yang mendapatkan vaksinasi paling awal berkurang. Selain itu, suntikan booster belum tersedia secara luas. Dengan demikian, temuan tersebut tidak dapat diterapkan pada lonjakan varian Omicron saat ini.

"Omicron telah mengubah banyak hal," kata Dr. Paul Sax, ahli penyakit menular di Brigham and Women's Hospital dan Harvard Medical School. Dia menambahkan jika varian Omicron telah menyebabkan tingkat infeksi ulang dan breakthrough infection yang jauh lebih tinggi.

CDC diperkirakan akan merilis penelitian tentang bagaimana vaksin dan booster melawan Omicron akhir pekan ini.

Studi dari para peneliti di CDC, California Department of Public Health, New York State Department of Health dan New York City Department of Health and Mental Hygiene ini menemukan bahwa orang yang telah terinfeksi Covid-19 lebih terlindungi terhadap infeksi ulang selama gelombang Delta. Daripada mereka yang tidak pernah terinfeksi tetapi telah divaksinasi.

Perlindungan paling kuat terhadap varian Delta terlihat pada orang yang telah divaksinasi dan sebelumnya pernah didiagnosis dengan virus SARS-Cov-2 – kadang-kadang disebut sebagai "kekebalan hibrida".

"Meskipun epidemiologi Covid-19 mungkin berubah dengan munculnya varian baru, vaksinasi tetap menjadi strategi teraman untuk mencegah infeksi SARS-Cov-2 dan komplikasi terkait," tulis para penulis penelitian.

Kasus dan tingkat rawat inap tertinggi di antara orang-orang tanpa kekebalan, yakni mereka yang tidak pernah didiagnosis dengan Covid dan tidak pernah divaksinasi. Selain itu infeksi Covid-19 datang dengan risiko yang mengerikan. Pada akhir masa studi, lebih dari 130.000 orang di California dan New York telah meninggal karena penyakit tersebut.

Namun, menurut Dr. Jeffrey Klausner, seorang profesor kedokteran dan kesehatan masyarakat di Keck School of Medicine dari University of Southern California, temuan yang menunjukkan kekebalan yang kuat setelah infeksi mungkin penting untuk kebijakan kesehatan masyarakat di masa depan.

"Tidak seorang pun yang peduli dengan kesehatan masyarakat akan mengatakan bahwa lebih baik terinfeksi daripada divaksinasi ketika kita memiliki vaksin yang aman," kata Klausner. "Tetapi dalam hal kebijakan, ini mendukung semua penelitian klinis dan data lain yang menunjukkan bahwa kekebalan setelah infeksi itu nyata, tahan lama." (*)

Foto: Pixabay/iXimus

Related Articles
Current Issues
Penelitian WHO: Remdisivir Nyaris Tidak Berguna Cegah Kematian Akibat Covid-19

Current Issues
Bagaimana Cara Hidup Berdampingan dengan Virus Corona?

Current Issues
Waduh, Cuma 50 Persen Warga Amerika Serikat yang Mau Divaksin