Current Issues

"Covid-19 Ringan" Tak Selalu Ringan, Ini Tips Pemulihan dan Isolasi di Rumah

Dwiwa

Posted on January 18th 2022

Jumlah kasus Covid-19 pada orang yang divaksinasi terus bertambah. Di Amerika, jutaan orang ini harus berurusan dengan “Covid ringan”. Mereka yang termasuk dalam kategori itu adalah yang tidak terlalu mengalami masalah dan tak perlu mendapatkan perawatan rumah sakit. Namun mereka tetap punya gejala Covid-19.

Kasus di Amerika Serikat memang telah melonjak tajam, sehingga fokus rumah sakit diperuntukkan bagi mereka yang paling sakit. Sementara yang lainnya harus melakukan perawatan diri di rumah dan merasakan Covid ringan menjadi pengganggu utama dalam aktivitas harian.

Di Indonesia, kasus Omicron –varian virus Corona yang lebih menular – juga terus mengalami lonjakan. Hal ini membuat pemerintah memutuskan jika pasien Omicron - yang sebelumnya harus isolasi terpusat di RSDC Wisma Atlet Kemayoran atau rumah sakit rujukan, ke depan mungkin akan diperbolehkan untuk isolasi mandiri di rumah jika tidak bergejala atau hanya ringan. Tetapi hal ini bakal disertai dengan pengawasan ketat dan juga layanan telemedicine.

Meskipun banyak yang bilang Covid-19 saat ini “ringan”, tetapi Dr. William Schaffer, profesor kedokteran di Vanderbilt University, Amerika Serikat dan direktur medis National Foundation for Infectious Disease mengatakan jika itu mungkin tidak seringan seperti orang bayangkan. Penyakit ini masih akan dapat mengganggu aktivitas dari orang yang terpapar.

Lalu apa yang harus dilakukan jika kita harus isolasi Covid-19 di rumah atau sedang merawat orang tersayang yang juga terpapar?

Dilansir dari ABC News, Dr. Jay Bhatt dari Family Christian Health Center di Chicago merekomendasikan untuk banyak istirahat, cukupi cairan, dan dapatkan pereda nyeri yang dijual bebas sesuai petunjuk.

"Mayoritas pengobatan Covid ringan hingga sedang ditujukan untuk menghilangkan gejala," tambah Bhatt, seorang dokter penyakit dalam dan geriatri.

Dia menambahkan, bagi sebagian orang tindakan lain yang membantu termasuk berbaring tengkurap alih-alih telentang untuk meningkatkan aliran oksigen saat beristirahat, mengonsumsi seng untuk membatasi replikasi virus dan mendapatkan vitamin C untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Selain berbagai tindakan yang sudah disebutkan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menekankan untuk tetap berhubungan dengan dokter dan melaporkan jika gejalanya memburuk. Beberapa dengan virus mungkin memerlukan obat-obatan tertentu atau cairan IV.

Bhatt mengatakan orang tua atau siapa pun dengan penyakit penyerta – misalnya diabetes, obesitas, asma, gagal jantung, penyakit paru-paru kronis dan HIV - harus segera menghubungi dokter mereka setelah mengalami gejala ringan.

"Itulah hal-hal yang kemudian membuat orang masuk rumah sakit," Bhatt memperingatkan.

Sementara itu, Dr. Michael Henry – yang sudah divaksinasi penuh dan mendapat booster – juga masih bisa terpapar Covid-19. Dia merasakan sejumlah gejala seperti sakit tenggorokan, kelelahan, batuk, hingga mengalami sesak napas.

Meskipun dia tidak sampai perlu mendapat perawatan di rumah sakit, tetapi pemulihan yang dialami spesialis pengobatan nyeri dan rehabilitasi di Sacramento, California ini juga tidak mulus seperti jalan tol, terutama karena saat berjalan jadi lebih sulit.

Henry yang masih terus memulihkan diri pun memberikan pesan dua kata bagi orang-orang yang tidak ingin dirawat di rumah sakit. “Dapatkan vaksin,” katanya.(*)

Foto: Pixabay/Rdzyna

Related Articles
Current Issues
Dirjen WHO Khawatir Terjadi “Tsunami Kasus” Akibat Varian Omicron dan Delta

Current Issues
Moderna Mulai Uji Coba Vaksin Covid-19 untuk Omicron Pada Orang Dewasa

Current Issues
Booster 91 Persen Lindungi dari Risiko Terburuk Covid-19, Ayo Vaksin!