Current Issues

Ilmuwan Prediksi Akan Ada Varian yang Lebih Mengkhawatirkan Setelah Omicron

Dwiwa

Posted on January 16th 2022

Varian virus Covid-19 Omicron telah membuat banyak pihak khawatir. Salah satunya karena kemampuannya yang menyebar lebih cepat dibanding yang lain. Tetapi para ilmuwan memperingatkan jika kemampuan luar biasa yang dimiliki Omicron menandakan jika itu tidak akan menjadi versi terakhir dari virus Covid-19 yang mengkhawatirkan dunia. Bahkan disebut ada yang lebih mengkhawatirkan.

Dilansir dari Associated Press (AP) setiap infeksi memberi kesempatan virus untuk bermutasi, dan Omicron memiliki keunggulan melebihi pendahulunya. Varian ini menyebar lebih cepat meskipun hadir ketika dunia telah memiliki kekebalan baik dari vaksin atau infeksi sebelumnya.

Itu artinya lebih banyak inang bagi virus untuk bisa berkembang lebih lanjut. Para ahli tidak tahu seperti apa varian berikutnya atau bagaimana mereka memengaruhi pandemi. Tetapi mereka mengatakan tidak ada jaminan varian setelah Omicron akan menyebabkan sakit yang lebih ringan atau vaksin yang ada bisa melawannya.

“Semakin cepat Omicron menyebar, semakin banyak peluang untuk mutasi. Ini berpotensi menghasilkan lebih banyak varian,” ujar Leonardo Martinez, epidemiologis penyakit menular di Universitas Boston.

Sejak diidentifikasi peterngahan November, Omicron telah menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia. Studi menunjukkan varian ini setidaknya dua kali lebih menular dari varian Delta dan setidaknya empat kali lebih menular dari versi asli virus.

Omicron juga lebih mungkin menginfeksi kembali individu yang pernah terpapar Covid-19 dan menyebabkan breakthrough infection pada orang yang divaksinasi dibanding dengan varian Delta. Meski orang yang tidak divaksinasi juga tidak luput dari serangan Omicron.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat rekor 15 juta kasus Covid-19 baru pada minggu antara 3 sampai 9 Januari. Angka ini meningkat 55 persen dibanding minggu sebelumnya.

Mudahnya varian Omicron menyebar meningkatkan kemungkinan virus akan menginfeksi dan berlama-lama di dalam tubuh orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Itu memberinya banyak baktu untuk mengembangkan mutasi yang lebih kuat.

“Semakin lama dan persisten infeksi, tampaknya menjadi tempat berkembang biak yang paling mungkin untuk varian baru. Hanya ketika penyebaran infeksi sangat luas yang akan memberikan kesempatan itu terjadi,” ujar Dr. Stuart Campbell Ray, seorang ahli penyakit menular di Johns Hopkins University.

Karena Omicron tampaknya menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada Delta, perilakunya memicu harapan bahwa ini bisa menjadi awal tren yang pada akhirnya membuat virus lebih ringan seperti flu biasa.

Para ahli mengatakan ada kemungkinan hal itu bisa terjadi mengingat virus tidak menyebar dengan baik jika mereka membunuh inangnya dengan sangat cepat. Tetapi virus tidak selalu menjadi kurang mematikan dari waktu ke waktu.

Ray mencontohkan jika sebuah varian juga bisa mencapai tujuan utamannya – mereplikasi – jika orang yang terinfeksi awalnya menunjukkan gejala ringan, menyebarkan virus dengan berinteraksi dengan orang lain, kemudian mereka menjadi sangat sakit.

“Orang-orang bertanya-tanya apakah virus berevolusi menjadi lebih ringan. Tetapi tidak ada alasan khusus untuk itu. Saya tidak berpikir kita dapat yakin bahwa virus akan menjadi kurang mematikan dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Ada banyak kemungkinan jalan untuk evolusi. Hewan berpotensi untuk menjadi inang dan melepaskan varian baru. Anjing dan kucing peliharaan, rusa, dan cerpelai yang dibesarkan di peternakan hanyalah beberapa dari hewan yang rentan terhadap virus. Virus-virus ini berpotensi bermutasi di dalam tubuh mereka dan melompat kembali ke manusia.

Rute potensial lainnya adalah dengan sirkulasi Delta dan Omicron, orang mungkin mendapatkan infeksi ganda yang dapat menghasilkan sesuatu yang Ray sebut “Frankenvariants”, hibrida dengan karakteristik kedua jenis varian tersebut.

Ketika varian baru berkembang, ilmuwan mengatakan masih sangat sulit untuk mengetahui dari fitur genetik mana ini mungkin muncul. Misalnya, Omicron memiliki lebih banyak mutasi daripada varian sebelumnya, sekitar 30, pada protein spike yang memungkinkannya menempel pada manusia. Tetapi varian yang disebut IHU yang diidentifikasi di Prancis dan dipantau oleh WHO memiliki 46 mutasi dan tampaknya tidak banyak menyebar.

Untuk mencegah kemunculan varian baru, ilmuwan menekankan untuk terus menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan mendapatkan vaksin. Meskipun Omicron memiliki kemampuan lebih baik dalam menghindari sistem imun dibanding Delta, ahli mengatakan vaksin masih memberikan perlindungan dan suntikan booster sangat mengurangi penyakit serius, rawat inap, dan kematian.

Para ahli juga mengatakan jika virus tidak akan menjadi endemik seperti flu jika vaksinasi global lambat. Dalam konferensi pers baru-baru ini, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa melindungi orang-orang dari varian di masa depan – termasuk mereka yang mungkin sepenuhnya resisten terhadap suntikan saat ini – tergantung dari berhentinya ketidakadilan vaksin global.

Tedros mengatakan dia berharap melihat 70 persen dari setiap negara divaksinasi pada pertengahan tahun. Berdasarkan statistik John Hopkins University, saat ini, ada lusinan negara dimana kurang dari seperempat populasi sudah mendapat vaksinasi penuh.(*)

Foto: Pixabay/olga_art

Artikel Terkait
Current Issues
Dirjen WHO Khawatir Terjadi “Tsunami Kasus” Akibat Varian Omicron dan Delta

Current Issues
Varian Omicron Telah Tersebar di Dunia, Sejumlah Negara Batasi Perjalanan

Current Issues
Ilmuwan: Infeksi Sebelumnya Hanya Memberi Sedikit Kekebalan Terhadap Varian Baru