Current Issues

Belum Membaik, Bumi Masih Mengalami Suhu Ekstrem Tahun 2021

Jingga Irawan

Posted on January 14th 2022

Delapan tahun terakhir telah menjadi tahun-tahun terpanas. Hal itu dikonfirmasi oleh NASA dan National Oceanic Administration (NOAA). Menurut catatan NASA dan NOAA, 2021 menjadi tahun terpanas keenam dalam catatan. Hal itu disebabkan oleh suhu rata-rata global yang cenderung naik.

Di samping rekor baru, ada banyak tanda bahaya sepanjang tahun 2021 yang menunjukkan betapa mengerikannya suhu ekstrem tahun 2021.

"Faktanya adalah bahwa kita sekarang telah pindah ke era baru, ini mungkin dekade terpanas dalam banyak, ratusan, mungkin 1000-an tahun," kata Gavin Schmidt, direktur Institut Studi Luar Angkasa Goddard NASA.

“Ada cukup banyak perubahan sehingga berdampak secara lokal.”

Di Amerika Utara, dampak lokal itu menyebabkan musim panas terburuk, bahkan untuk daerah yang biasanya dingin.

Pada akhir Juni dan awal Juli, Pasifik Barat Laut AS dan Kanada Barat juga mengalami suhu ekstrem memecahkan rekor hingga membuat jalan melengkung dan kabel listrik meleleh.

Di gurun selatan, Death Valley California mencapai suhu 130 derajat Fahrenheit (54,4 derajat Celcius) pada bulan Juli, berpotensi memecahkan rekor dunia untuk suhu terpanas yang pernah tercatat di planet ini.

Eropa juga mengalami panas terik. Suhu 119,8 derajat Fahrenheit (48,8 derajat Celcius) telah terjadi di Sisilia. Kemungkinan itu memecahkan rekor Eropa untuk suhu maksimum.

Menurut penelitian yang diterbitkan minggu ini, panas di lautan dunia juga mencapai rekor pada tahun 2021. Gelombang panas laut kemungkinan dua kali lipat daripada awal 1980-an, dan fenomena itu dapat menghancurkan kehidupan laut serta masyarakat pesisir. Suhu ekstrem dapat membunuh karang, merugikan industri perikanan dan kepiting, bahkan bisa memperburuk kekeringan di darat.

Sementara itu, Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa merilis datanya sendiri tentang catatan suhu global, yang sedikit berbeda dari NASA dan NOAA karena badan-badan tersebut menggunakan metode yang agak berbeda untuk membuat perhitungan mereka.

Copernicus menetapkan bahwa 2021 adalah tahun terpanas kelima dalam catatan. Ini juga menegaskan bahwa dunia telah menghangat lebih dari satu derajat Celcius sejak abad ke-18, akibat gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

Para ahli saat ini gencar mendesak transisi ke energi bersih karena pemanasan global harus tetap jauh di bawah dua derajat Celcius untuk mencegah bencana perubahan iklim, seperti yang diilustrasikan oleh panas ekstrem tahun ini.

Seluruh negara juga sedang berupaya merealisasikan perjanjian iklim baru, yang baru saja disepakati di COP26, termasuk mengurangi penambangan batubara.

“Sayangnya, kita (harus) menuai apa yang telah kita tabur,” ungkap Gavin.(*)

Baca Juga:

Apa Itu COP26 dan Mengapa Hal Tersebut Penting Bagi Seluruh Negara?

Perjanjian Atasi Krisis Iklim Tercapai di COP26, Tetapi Dinilai Kurang Tegas

 

Related Articles
Current Issues
Potret Fenomena Alam ini Tegaskan Bahwa Perubahan Iklim Sangat Nyata!

Current Issues
Studi: 85 Persen Populasi Dunia Diperkirakan Terpengaruh Perubahan Iklim

Current Issues
Jakarta Bakal Larang Penggunaan Plastik Sekali Pakai Juli 2020, Efektifkah?