Current Issues

Jangan Terjebak dengan Covid-19 “Ringan”, Gejalanya Tak Seenteng Kedengarannya

Dwiwa

Posted on January 8th 2022

Varian Omicron telah menyebabkan banyak lonjakan kasus di berbagai negara. Namun menurut para ahli, meski varian ini lebih menular, tetapi cenderung menyebabkan infeksi Covid-19 “ringan”. Eits, jangan senang dulu. Sebab jika tertular, sakit yang dirasakan mungkin tidak terasa sepele seperti kedengarannya.

Misalnya seperti yang dialami oleh Michelle Cordes, ahli gizi di sebuah rumah sakit di Chicago. Meski sudah divaksin, mendapat booster, dan menjalankan protokol kesehatan, dia masih tertular Covid-19.

Awalnya, dia merasa tidak enak badan pada 30 Desember dan mengira itu hanya pilek atau alergi terhadap kucing yang dibawa putrinya. Tetapi saat melakukan tes di rumah, hasilnya positif Covid-19. Begitu juga dengan suami, putra, dan ayah mertuanya dinyatakan positif.

“Kami semua batuk. Kami semua mengalami post-nasal drip (hidung meler). Tenggorokanku gatal dan aku dan suami sama-sama berkeringat di malam hari selama empat malam berturut-turut,” ujar Cordes seperti dilansir dari CNN.

“Ringan” mungkin cocok menggambarkan apa yang dialami Cordes dibanding apa yang dia lihat pada pasiennya di rumah sakit. Meski begitu, Cordes mengatakan jika penyakitnya juga tidak terasa seperti flu ringan.

Apa yang dirasakan ketika terpapar Covid-19 sebenarnya sangat bervariasi. Studi menunjukkan jika penyakit yang disebabkan oleh Omicron umumnya lebih ringan daripada varian Delta, dan beberapa orang tidak mengalami gejala atau hanya pilek singkat.

Namun tetap saja, ini bisa menyebabkan penyakit serius, terutama pada orang yang tidak divaksinasi. Di Indonesia, total ada 4.265.187 orang terkonfirmasi dengan 5.494 kasus aktif dan 144.121 meninggal dunia, berdasarkan data resmi pemerintah di covid19.go.id pada Sabtu (8/1).

National Institute of Health mendefinisikan Covid-19 “ringan” mencakup gejala yang umum pada orang-orang dalam beberapa waktu terakhir, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, dan kelelahan.

“Penggunaan kata ‘ringan’ tidak dimaksudkan untuk menyepelekan pengalaman kalian,” ujar Dr. Shira Doron, epidemiologis rumah sakit dan dokter penyakit menular di Tufts Medical Center di Boston.

Bahkan orang dengan penyakit ringan dapat mengembangkan apa yang disebut long Covid, di mana gejala bertahan selama enam bulan atau lebih. Doron berpikir istilah “ringan” yang diplih para ahli mungkin perlu dikaji ulang.

“Ketika kami atau ketika CDC atau NIH mengatakan ‘ringan’, kami benar-benar mengartikannya itu tidak membuat kalian cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit. Tetapi ketika terkena penyakit mirip flu yang membuat terbaring di kasur, itu tidak ringan bagi kalian,” ujar Doron.

Dia menjelaskan ketika tubuh mengalami gejala ini, itu adalah normal dan tubuh sedang bekerja untuk menetralkan virus.

“Ini bagus, tetapi tidak terasa enak. Gejala itu tidak berbahaya dan kalian tidak perlu mencari perawatan medis,” katanya. Covid ringan juga tidak perlu untuk pergi ke IGD, terutama ketika sistem kesehatan mulai kewalahan.

Hal merugikan lain dari menyebut penyakit ini “ringan” adalah beberapa orang mungkin akan menyepelekan Covid-19.

“Ada banyak kelelahan Covid – dan itu terkait dengan keinginan untuk kembali normal, atau sedekat mungkin dengan hal-hal normal – sehingga orang mungkin meremehkan gejala mereka dan memilih untuk tidak menjalani tes Covid atau influenza,” kata Dr. William Schaffner, profesor penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center.

Dia menambahkan, bahkan dengan gejala ringan, orang harus dites Covid-19 sehingga mereka bisa mewaspadai seandainya gejala memburuk dan perlu perawatan medis. Tes juga akan memberi tahu mereka untuk melakukan isolasi mandiri agar tidak menularkan ke orang lain.

“Kasus kalian mungkin ringan, tetapi kalian bisa menularkan ke Bibi Susie, yang menderita diabetes, dan mungkin akan mengalami sakit yang jauh lebih parah,” katanya.

Dan meskipun Omicron mungkin menyebabkan lebih banyak kasus penyakit ringan daripada varian sebelumnya, orang tidak boleh menggunakannya sebagai alasan untuk mengabaikan vaksin, booster atau bahkan protokol kesehatan. Semua itu penting tidak hanya untuk melindungi diri sendiri tetapi juga orang disekitar kita yang lebih rentan, misalnya lansia atau orang dengan gangguan imun.(*)

Pixabay/athree23

Artikel Terkait
Current Issues
Kabar Baik, Studi Ungkap Kemungkinan Omicron Sebabkan Long Covid Lebih Rendah

Current Issues
Ahli: Omicron Mungkin Cepat Berlalu dan Hanya Ancaman Kecil Bagi yang Divaksin

Current Issues
Studi: Tanpa Booster, Vaksin Mungkin Kurang Efektif Lawan Varian Omicron