Interest

Stres Mungkin Musuh Terburuk untuk Jantung Kita

Dwiwa

Posted on January 5th 2022

Pixabay/halit52

Jika berbicara soal penyakit jantung, faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik sangat sering kita dengar. Tetapi tampaknya, ada satu lagi faktor risiko yang berpengaruh, yakni stres.

Dilansir The New York Times, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan pada November di JAMA mengamati 918 pasien yang memiliki penyakit jantung, tetapi stabil, untuk melihat bagaimana tubuh mereka bereaksi terhadap tekanan fisik dan mental,

Para peserta menjalani tes stres fisik dan mental standar untuk melihat apakah jantung mereka mengembangkan iskemia miokard (aliran darah berkurang secara signifikan ke otot-otot jantung, yang dapat menjadi pemicu kejadian kardiovaskuler) selama salah satu atau kedua bentuk stres. Kemudian para peneliti mengikuti mereka empat sampai sembilan tahun.

Hasilnya peserta penelitian yang mengalami iskemia saat menjalani satu atau kedua tes, reaksi negatif terhadap stres mental jumlahnya jauh lebih besar pada jantung dan kehidupan dibanding stres fisik. Mereka lebih mungkin mengalami serangan jantung yang tidak fatal atau kematian karena penyakit kardiovaskuler di tahun-tahun berikutnya.

Temuan baru ini menggarisbawahi hasil studi sebelumnya yang mengevaluasi hubungan antara faktor risiko dan penyakit jantung pada 24.767 pasien dari 52 negara. Ditemukan bahwa pasien yang mengalami tingkat stres psikologis yang tinggi selama setahun sebelum mereka mengikuti penelitian, dua kali lebih mungkin terkena serangan jantung selama rata-rata lima tahun, bahkan ketika faktor risiko tradisional diperhitungkan.

Menurut Dr Michael Osborne, ahi jantung di Massachussetts General Hospital, penelitian yang dikenal sebagai Interheart, menunjukkan bahwa stres psikologis merupakan faktor risiko independen untuk serangan jantung, mirip dengan efek merusak jantung yang diberikan oleh faktor risiko yang lebih umum.

Tetapi bagaimana efek stres pada orang yang jantungnya masih sehat?

Sebuah penelitian baru-baru ini di Skandinavia menemukan bahwa dalam seminggu setelah kematian seorang anak, risiko orang tua terkena serangan jantung lebih dari tiga kali lipat dari yang diperkirakan.

Stres emosional juga bisa menjadi kronis, yang diakibatkan, misalnya, dari ketidakamanan ekonomi yang berkelanjutan, tinggal di daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi atau mengalami depresi atau kecemasan yang tak henti-hentinya. Orang tua yang berduka dalam studi Skandinavia terus mengalami peningkatan risiko jantung bertahun-tahun kemudian.

Bagaimana stres merusak jantung?

Osborne berpartisipasi dengan tim ahli yang dipimpin oleh Dr. Ahmed Tawakol, juga di Massachusetts General, dalam analisis tentang bagaimana tubuh bereaksi terhadap stres psikologis. Dia mengatakan akumulasi bukti tentang bagaimana otak dan tubuh merespon stres psikologis kronis dengan kuat menunjukkan bahwa pengobatan modern telah mengabaikan bahaya yang sangat penting bagi kesehatan jantung.

Semuanya dimulai di pusat ketakutan otak, amigdala, yang bereaksi terhadap stres dengan mengaktifkan apa yang disebut respons fight-or-flight, memicu pelepasan hormon yang seiring waktu dapat meningkatkan kadar lemak tubuh, tekanan darah, dan resistensi insulin.

Mereka menjelaskan rangkaian reaksi terhadap stres menyebabkan peradangan di arteri, mendorong pembekuan darah dan merusak fungsi pembuluh darah, yang semuanya memicu aterosklerosis, penyakit arteri yang mendasari sebagian besar serangan jantung dan stroke.

Tim Tawakol menjelaskan bahwa neuroimaging tingkat lanjut memungkinkan pengukuran langsung dampak stres pada berbagai jaringan tubuh termasuk otak.

Penelitian sebelumnya terhadap 293 orang yang awalnya bebas dari penyakit kardiovaskuler yang menjalani pemindaian seluruh tubuh, termasuk aktivitas otak, memiliki hasil yang nyata. Lima tahun kemudian, individu yang ditemukan memiliki aktivitas tinggi di amigdala terbukti memiliki tingkat peradangan dan aterosklerosis yang lebih tinggi.

Artinya, mereka yang memiliki tingkat stres emosional yang tinggi mengembangkan bukti biologis penyakit kardiovaskuler. Sebaliknya, Osborne mengatakan orang yang tidak mengalami tekanan besar cenderung tidak mengalami efek jantung akibat stres.

Lalu bagaimana cara untuk mengurangi efek buruk stres terhadap jantung? Osborne menyarankan agar orang melakukan latihan fisik biasa, yang dapat membantu mengurangi stres dan peradangan di seluruh tubuh yang dapat ditimbulkannya.

Selain itu, kebiasaan tidur yang baik juga dapat mengurangi risiko kerusakan kardiovaskuler. Terapkan pola waktu tidur dan bangun yang konsisten dan hindari paparan layar yang memancarkan cahaya biru.

Bisa juga dengan melatih tindakan relaksasi seperti meditasi kesadaran, teknik menenangkan yang memperlambat pernapasan, yoga, dan tai chi.

OsborneĀ  mengatakan beberapa obat umum juga dapat membantu. Statin tidak hanya mengurangi kolesterol, tetapi juga melawan peradangan arteri, menghasilkan manfaat kardiovaskular yang lebih besar daripada efek penurun kolesterolnya saja.

Antidepresan, termasuk anestesi ketamin, juga dapat membantu meminimalkan aktivitas amigdala yang berlebihan dan mengurangi stres pada orang dengan depresi. (*)

Related Articles
Lifestyle
4 Tips Simpel Menghadapi Burnout agar Hidup Lebih Ringan

Lifestyle
5 Langkah Cepat Mengatasi Kewalahan karena Banyak Tanggung Jawab

Interest
Lagi Banyak Tekanan dan Stres? Coba Cara Ini untuk Mengatasinya