Current Issues

Stres Akibat Covid-19 Dapat Berdampak Pada Kebugaran Fisik

Dwiwa

Posted on January 2nd 2022

Covid-19 telah membuat banyak orang mengalami kecemasan, ketakutan, dan kesedihan yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental. Padahal, kesehatan mental dan fisik saling terkait. Dan, menurut ahli, kadang stres dapat memanifestasikan diri secara fisik.

Jadi, jika kalian tiba-tiba mengalami migrain, terlambat haid, rambut rontok, atau mengalami ketidakteraturan lain dalam kehidupan sehari-hari, mereka memperkirakan itu mungkin karena stres pandemi.

“Anggap saja seperti erosi. Itu hanya menyebabkan kerusakan sepanjang waktu,” ujar Craig Sawchuk, psikolog di Mayo Clinic seperti dilansir dari ABC News.

Meski begitu mungkin ada penyebab lain yang mendasari masalah ini. Penyakit yang dialami selama seseorang stres tidak boleh semata-mata dikaitkan dengan stres. Mayo Clinic merekomendasikan agar gejalanya dievaluasi oleh profesional medis.

Menurut ahli psikologi, ketika orang berada di bawah tekanan mental, ada respons melawan atau melarikan diri dari sistem saraf pusat.

Sawchuk mengatakan tubuh menggunakan energi dalam jumlah besar untuk menghadapi ancaman apa pun. Itulah sebabnya orang dapat merasakan dorongan adrenalin, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, pernapasan lebih berat, dan otot yang tegang.

Kory Floyd, profesor komunikasi dan psikologi di University of Arizona mengatakan itu karena sejumlah energi dibutuhkan untuk mengatasi apa yang menyebabkan stres, organ vital, otot, dan sistem mencuri sumber daya tersebut dari sistem non-esensial lainnya dalam tubuh.

“Ketika kita menarik sumber daya dari sistem tersebut, mereka tidak berfungsi secara optimal, itulah sebabnya kita berakhir dengan sakit perut atau mengalami kesulitan untuk hamil, sakit kepala atau sulit tidur," kata Floyd.

Ketika stres akut berlangsung dalam jangka waktu lama –seperti pandemi yang sudah hampir dua tahun– dapat menyebabkan masalah bagi sistem tubuh yang kurang penting dan mengganggu fungsinya.

“Ini hampir seperti tombol volume sistem saraf simpatik baru saja diputar. Ini menyebabkan sistem lainnya mati, seperti pencernaan dan reproduksi. Di sinilah kalian mengalami hal seperti telat haid, kurang bergairah untuk berhubungan badan, rambut rontok, dan masalah lain terkait kulit karena kita tidak masuk ke mode pemulihan,” ujar Sawchuk.

Stres mulai sangat memengaruhi orang secara fisik. Ahli mengatakan ini mungkin terlihat berbeda pada setiap individu, tetapi beberapa gejala lebih umum daripada yang lain.

Sawchuk mengatakan tubuh bisa menghasilkan banyak gejala. Jika dilihat secara individu, cara mereka mengekspresikan kesulitan atau pengalaman stres berbeda-beda. Bagi sebagian orang, itu mungkin muncul di kulit mereka (misalnya jerawat atau psoriasis) dan bagi yang lain hanya seperti kelelahan.

Stres kronis juga dapat menyebabkan masalah pencernaan dan masalah terkait perut. Siklus menstruasi yang terlewat –yang bukan disebabkan kehamilan– juga bisa menjadi tanda bahwa stres mulai mengganggu sistem reproduksi seseorang.

Sebuah studi di Journal of Dermatological Treatment menemukan bahwa kasus alopecia areata, kelaianan auotoimun yang menyebabkan rambut rontok,  yang terkait stres jangka pendek meningkat sejak pandemi dimulai. Peneliti memperkirakan jumlahnya akan terus meningkat.

Penyakit dermatologis terkait psikiatri lainnya juga diperkirakan akan meningkat, termasuk psoriasis dan gatal-gatal kronis. Sakit dan nyeri di tubuh, terutama ketegangan di rahang dan leher juga bisa disebabkan oleh stres.

Cindy Ackrill, editor di American Institute of Stress, mengatakan tidak ada salahnya mengambil langkah-langkah untuk mengurangi stres dan mendapatkan kesehatan mental yang lebih baik. Dia menambahkan masalah ini tidak akan membaik dalam sekejap mata, dan ada cara sederhana untuk memulai proses menuju penyembuhan.

“Hal pertama adalah memperhatikan apa yang cenderung membuat kalian bersemangat dan apa yang menenangkan. Kalian dapat mulai menyeimbangkannya lagi – apa yang menguras energi, apa yang memberi energi kembali – sehingga kalian dapat menyusun strategi untuk menyatukannya kembali saat merasa stres,” ujar Ackrill.

Para ahli mengatakan membiarkan masalah terkait stres tidak ditangani dapat menyebakan masalah kesehatan jangka panjang yang serius. Jika kalian mungkin menunjukkan gejala stres kronis atau intens, cari bantuan.

“Cari perubahan sekecil apapun yang bisa kalian buat. Tidur lima menit lebih awal, menghabiskan lima menit menelpon teman. Cari perubahan kecil yang bisa kalian lakukan yang tidak terasa seperti banyak pekerjaan,” saran Acrill.

Dia menambahkan saat ini kita hidup di dunia yang sangat penuh tekanan dan kita semua sedang dalam perjalanan bersama untuk mencari tahu bagaimana melakukannya.(*)

Pixabay/Engin_Akyurt

Related Articles
Current Issues
Peneliti: Tingkat Kecemasan dan Depresi di Kalangan Mahasiswa Terus Melonjak

Current Issues
Studi: Pasien Covid-19 Mungkin Lebih Berisiko Terkena Masalah Kesehatan Mental

Current Issues
CDC: Warga AS di Bawah 30 Tahun Paling Banyak Cemas dan Depresi Selama Pandemi