Tech

EV Diprediksi Makin Booming pada 2022, Sudah Siap Beli?

Jingga Irawan

Posted on January 2nd 2022

Kalian mungkin akan berpikir bahwa EV atau kendaraan listrik sudah mainstream. Karena tren pemberitaan kendaraan listrik meledak pada 2021. Mulai dari mobil listrik, motor listrik hingga traktor listrik. Tesla Model 3 misalnya, baru-baru ini dikabarkan jadi mobil terlaris di Eropa.

Tetapi, jika kalian mengibaratkan penjualan mobil global sebagai kue tart raksasa, EV saat ini merupakan sepotong kecil dari kue itu. Hanya 2 persen dari penjualan global.

Lebih dari 200.000 EV terdaftar di AS pada awal 2021. Jumlahnya sama seperti mobil yang dijual Toyota pada bulan tertentu. Namun di Norwegia, EV diperlakukan sebagai target besar. Salah satu negara skandinavia itu mencatat penjualan EV mencapai 75 persen dari keseluruhan pasar. Jauh lebih banyak dari negara mana pun.

Apakah karena warga Norwegia sangat mengutamakan teknologi atau sadar lingkungan? Bisa jadi keduanya benar. Tetapi alasan sebenarnya, mandat pemerintah negara itu telah membuat harga barang apa pun mahal untuk dibeli. Kecuali EV. Banyak orang Norwegia lebih suka membeli sesuatu dengan bahan bakar bensin, tetapi EV adalah pilihan yang ekonomis.

Mengapa sih kita perlu beralih ke kendaraan listrik?

Setiap produsen mobil besar memiliki program listrik utama. Entah itu pabrik baterai baru atau gedung produksi baru.

California, pasar terbesar di AS, berencana untuk sepenuhnya melarang penjualan mobil bertenaga bensin pada 2035. Banyak kota di seluruh dunia juga bergerak lebih cepat. Seperti Paris, yang melarang mobil berbahan bakar bensin pada 2030.

Namun di luar aturan semua negara, EV menawarkan pengalaman mengemudi dan kepemilikan yang lebih baik dalam banyak situasi. Mobil-mobil ini tak bising. Lebih halus. Lebih andal. Dan nyaris bebas perawatan.

Memang benar, jangkauan terbatas dan opsi pengisian daya berarti EV saat ini tak sefleksibel kendaraan bertenaga bensin. Namun perusahaan berjanji mengembangkan lebih banyak tempat pengisian daya listrik. Jaringan SuperCharger Tesla kini juga terus bertambah banyak.

EV juga lebih hemat. Bisnis yang mengoperasikan taxi atau layanan ride-hailing, bisa melakukan penghematan sangat besar. Beberapa pengadopsi EV merasakan pengurangan biaya sebesar 20 persen. Berkat tak ada lagi bahan bakar dan perawatan yang sedikit.

Dan ya, masih ada keraguan tentang apakah baterai akan menjadi solusi jangka panjang atau apakah mobil yang ditenagai oleh sel bahan bakar hidrogen adalah jalan keluar yang sebenarnya. Tetapi kedua hal itu kemungkinan masih akan menjadi tren beberapa tahun ke depan.

Perlu kalian ketahui bahwa mobil yang ditenagai oleh sel bahan bakar hidrogen itu sendiri sebenarnya juga mobil listrik. Namun mereka mendapatkan elektron dari hidrogen, bukan dari jaringan.

Lalu bagaimana di tahun 2022?

Revolusi EV sudah terjadi. Tetapi banyak orang belum siap untuk terjun. Jaringan pengisian daya jadi masalah utama. Di sisi lain, performa EV juga bergantung pada kondisi tertentu. Mobil akan kehilangan 25 persen jangkauan di musim dingin. Harga pertama pembelian EV juga cenderung lebih mahal sekitar Rp 70-120 juta dibanding mobil berbensin. Tetapi masih ada EV yang bisa dibawa pulang dengan harga terjangkau.

Tetapi banyak ahli memprediksi jika 2022 menjadi tahun besar EV. Lebih dari apa yang terjadi di tahun 2021. Hanya saja beralih ke kendaraan listrik memang butuh waktu yang lama.

Rilis Ford F-150 Lightning 2022 akan menandai titik balik untuk adopsi EV di AS. Di Tiongkok, produsen EV juga semakin banyak. Sehingga warga menjadi punya lebih banyak pilihan dan kendaraan bensin perlahan akan ditinggalkan.

Sementara itu di Asia Tenggara, banyak pabrik komponen EV mulai dibangun. Indonesia saat ini juga mulai mengadopsi transportasi umum bertenaga listrik. Sebuah awal yang bagus untuk mengenalkan EV pada penduduk setempat.

Dampak Penggunaan EV

Apa saja yang berubah jika kita pindah ke EV? Yah, seperti yang sebutkan di atas, itu bisa mengurangi biaya operasional secara signifikan. Terutama jika kalian dapat mengisi daya di rumah.

Jika kalian mengandalkan isi daya di jalan atau sejenisnya, kemungkinan lebih mahal. Tetapi pada akhirnya pemerintah kota dan perusahaan akan lebih bijaksana. Di sekitar London misalnya, Siemens mengubah 1.300 lampu jalan menjadi pengisi daya.

Memiliki EV berarti perjalanan jarak jauh akan lebih terencana. Meskipun ada cara untuk memaksimalkan jangkauan dan meminimalkan waktu, ada kemungkinan besar pemberhentian pasti dilakukan. Dan itu akan memakan waktu lebih dari 30 menit.

Nggak masalah bukan? Istirahat 30 menit setelah 3 atau 4 jam berkendara bukanlah hal yang buruk. Bahkan penelitian menyarankan istirahat 15 menit setiap 2 jam. Apalagi EV saat ini memiliki banyak fitur hiburan keren.

Mobil telah berubah lebih dari 50 tahun terakhir. Tak hanya tentang efisiensi. Mobil juga akan lebih mumpuni dan menyenangkan untuk dikendarai. Siapa pun yang masuk ke kursi pengemudi Tesla dan menginjak pedal gas pasti tahu rasanya lebih baik mengendarai EV daripada mobil berbahan bakar bensin.(*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Tech
Tesla & Samsung Bakal Kerja Sama Produksi Chip Mobil Otonom Generasi Baru

Tech
Siapa yang Bakal Untung Maksimal Ketika Terjadi EV Boom?

Tech
Ford Bakal Memperkenalkan Tujuh EV baru di Eropa