Interest

Perubahan Ukuran Kemasan Makanan Bisa Bikin Kita Jadi Lebih Banyak Makan Loh!

Dwiwa

Posted on December 30th 2021

Pixabay/Prawny

Jumlah kasus obesitas di Indonesia terus mengalami kenaikan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan jika tren masalah obesitas Indonesia telah meningkat dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018. Ini membuat mereka lebih berisiko terkena penyakit kronis.

Dan sebuah studi baru mengungkap fakta yang mungkin tidak banyak disadari oleh kita. Dilansir Eat This, Not That!, studi yang baru-baru ini diterbitkan di American Journal of Public Health (AJPH) menunjukkan peningkatan obesitas sejalan dengan peningkatan ukuran makanan kemasan dan makanan cepat saji di Amerika – antara dua dan lima kali ukuran porsi normal yang pertama kali dikenalkan.

“Porsi kemasan yang lebih besar menyebabkan makan berlebihan karena orang kurang memperhatikan ukuran porsi mereka dan lebih fokus pada apa yang mereka makan,” ujar Lisa Young, PhD, RDN, peneliti utama untuk laporan di AJPH tersebut. “Penelitian juga menunjukkan bahwa kita makan lebih banyak ketika disajikan dengan lebih banyak makanan – bahkan jika kita tidak lapar dan tidak menyukai makanan itu.”

Laporan yang dipublikasikan pada 8 Desember oleh Young dan Marion Nestle, PhD, MPH ini fokus pada porsi lebih besar untuk makanan ultra-proses dan menyerukan kebijakan dan dan penerapan yang akan mendorong ukuran porsi yang tepat.

Studi yang dilakukan di Amerika Serikat ini menyoroti kebijakan AS yang mendukung produksi porsi yang lebih ebsar melalui subsidi bahan dasar yang mendorong produksi berlebih dan harga rendah. Makanan di AS relatif murah dibanding dengan biaya manufaktur dan layanan, dan porsi yang lebih besar dapat menghasilkan pendapatan tambahan dengan biaya murah.

“Bagi konsumen, porsi yang besar mungkin tampak seperti tawar-menawar, tetapi itu mengandung leibh banyak kalori dan menyebabkan makan berlebihan,” jelas studi tersebut.

Untuk bisa membayangkannya, Coca-Cola besar di Burger King di Inggris mengandung 262 kalori sementara di AS ukuran yang besar mengandung sekitar 510 kalori.

Hal lain yang juga disoroti dalam laporan ini adalah tentang faktor sosial ekonomi yang terkait dengan penambahan berat badan, yang umumnya terlihat di komunitas masyarakat miskin, pendidikan tidak memadai, diskriminasi ras dan gender, pengangguran, dan kurang perawatan kesehatan.

Terlalu sering mengonsumsi jenis makanan tersebut terjadi di komunitas ini (akibat kurang sumber daya, penghasilan rendah, kurang makanan, dll), membuat hal tersebut menjadi masalah kesehatan utama bagi kesehatan masyarakat. Laporan itu menyebut mengurangi ukuran porsi yang disajikan bisa menjadi strategi yang berguna untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah agar kita tidak terjebak dalam makan berlebih akibat ukuran kemasan yang berubah? Young memiliki beberapa tips yang bisa kalian coba.

Pertama, belilah makanan dengan ukuran satu porsi. Alih-alih mengambil sekantong besar keripik, pilihlah sekantong kecil yang memang dibuat untuk satu orang.

“Sementara dengan kantong besar berarti kita mungkin makan beberapa porsi sekaligus, kita pasti tidak mau repot membuka banyak kantong kecil,” jelas Young. Dia juga menambahkan jika membeli sekantong besar akan lebih ramah untuk kantong, tetapi kalian perlu membaginya ke porsi kecil untuk dimakan nanti bisa menjadi solusi lain yang mudah.

Cara lainnya adalah dengan menambahkan lebih banyak buah dan sayuran ke dalam makanan.

“Kalian tidak perlu khawatir seberapa banyak makan makanan ini. Serta akan membantumu merasa kenyang sehingga membuat kalian berhenti makan saat merasa perut merasa puas. Dan fokuslah pada nutrisi positif dan antioksidan yang dimakan. Tidak ada yang menjadi gemuk karena terlalu banyak makan wortel,” ujar Young.

Jika produk segar sulit didapat, para ahli memastika jika makan buah atau sayur beku bisa menjadi solusi praktis. Sekaleng sayuran rendah sodium juga bisa membantu menyediakan makanan bergizi.

Terakhir, Young menyarankan untuk selalu menggunakan gelas ukur saat memasak di rumah.

“Meskipun kalian tidak perlu menimbang smeua yang dimakan, saat menuangkan sereal, misalnya, masukkan satu porsi sajian ke dalam gelas ukur alih-alih menuangkan sereal langsung ke mangkuk besar,” jelas Young. (*) 

 

Related Articles
Lifestyle
Tidak Ada Makanan “Buruk”, Begitu Klaim Panduan dari American Heart Association

Lifestyle
Penelitian Selama 17 Tahun ini Harusnya Bikin Kalian Takut Konsumsi Fast Food

Lifestyle
Hindari 5 Makanan Ini Saat Akan Naik Pesawat, Bisa Bikin Kacau...