Tech

Dapat Trauma Psikologis, Mantan Moderator Konten Gugat TikTok

Jingga Irawan

Posted on December 30th 2021

Banyak dari Gen Z mungkin ingin menjadi pekerja digital. Yang setiap hari berurusan dengan konten, teknologi, hingga media sosial. Salah satu posisi pekerjaan yang paling diimpikan remaja sekarang adalah moderator konten. Pasalnya, jadi moderator konten ‘dianggap’ mudah karena tugasnya hanya menonton dan menyaring video.

Tetapi, baru-baru ini, seorang mantan moderator TikTok menggugat perusahaan tersebut. Mengklaim perusahaan itu gagal melindungi kesehatan mentalnya setelah terus-menerus terpapar konten video traumatis.

Candie Frazier mengatakan dia meninjau video yang menampilkan "kekerasan ekstrem dan grafis" hingga 12 jam sehari. Hingga menderita "trauma psikologis yang signifikan,” termasuk kecemasan, depresi, dan post-traumatic stress disorder (PTSD). Di sisi lain, TikTok mengatakan pihaknya berusaha untuk mempromosikan "lingkungan kerja yang baik.”

September lglu, TikTok mengumumkan 1 miliar orang menggunakan aplikasi setiap bulan. Sekarang memiliki lebih banyak hits daripada Google. Begitu menurut Cloudflare, sebuah perusahaan keamanan TI.

Untuk melindungi penggunanya, platform media sosial menggunakan ribuan moderator konten internal dan kontrak untuk menyaring video dan akun yang melanggar aturannya. Termasuk TikTok.

Candie menggugat TikTok dan perusahaan induknya, raksasa teknologi Tiongkok, Bytedance. Dia mengklaim bahwa dalam perannya sebagai moderator menonton konten grafis, termasuk video kekerasan seksual, kanibalisme, genosida, penembakan massal, pelecehan seksual anak, dan mutilasi hewan.

Candie, yang bekerja untuk kontraktor pihak ketiga, Telus International, mengatakan bahwa dia diminta untuk meninjau ratusan video setiap hari. Menurut gugatan yang diajukan ke pengadilan federal di California, ia menderita trauma karena materi yang harus dia tinjau.

Gugatan itu mengklaim bahwa meskipun dia bukan karyawan TikTok, raksasa media sosial itu "mengendalikan cara di mana moderasi konten terjadi.”

Candie juga mengungkapkan bahwa untuk menangani volume konten, dia diminta untuk meninjau, dan harus menonton sebanyak 10 video secara bersamaan.

Dalam gugatan itu diklaim bahwa selama shift 12 jam moderator diizinkan istirahat 15 menit setelah empat jam pertama kerja, dan kemudian istirahat 15 menit setiap dua jam berikutnya. Selain itu, ada istirahat makan siang selama satu jam.

Gugatan itu menuduh TikTok gagal memenuhi standar industri yang dirancang untuk mengurangi dampak moderasi konten. Perusahaan tersebut juga melanggar undang-undang perburuhan California dengan tak menyediakan lingkungan kerja yang aman.

TikTok Akan Beri Dukungan Mental

TikTok mengatakan tak akan mengomentari kasus yang sedang berlangsung, tetapi perusahaan itu mengaku pihaknya berusaha untuk mempromosikan lingkungan kerja yang peduli bagi karyawan dan kontraktornya.

"Tim keselamatan kami bermitra dengan perusahaan pihak ketiga dalam pekerjaan penting untuk membantu melindungi platform dan komunitas TikTok, dan kami terus memperluas berbagai layanan kesehatan sehingga moderator merasa didukung secara mental dan emosional,” kata perusahaan.

TikTok percaya bahwa tindakannya untuk melindungi moderator sejalan dengan praktik terbaik industri. Tahun lalu, TikTok termasuk di antara koalisi raksasa media sosial yang membuat pedoman untuk melindungi karyawan yang harus menyaring gambar pelecehan seks anak.

Telus International, yang bukan terdakwa dalam kasus tersebut, mengatakan pihaknya memiliki program kesehatan mental yang kuat. Mereka mengatakan kepada Washington Post, karyawannya dapat menyampaikan kekhawatiran melalui komunikasi internal.

Pada 2020, raksasa media sosial lainnya, Facebook, setuju untuk membayar USD 52 juta sebagai kompensasi kepada moderator yang telah terkena PTSD sebagai akibat dari pekerjaan mereka.(*)

Foto: BBC

Related Articles
Tech
TikTok Bikin Platform Pengembangan AR Sendiri, TikTok Effect House

Tech
Facebook Rilis Aplikasi BARS, Mirip TikTok tapi Khusus buat Rapper

Tech
TikTok Luncurkan Creator Next, Bisa Jadi Ladang Cuan Bagi Kreator