Current Issues

Ahli: Omicron Mungkin Cepat Berlalu dan Hanya Ancaman Kecil Bagi yang Divaksin

Dwiwa

Posted on December 29th 2021

Pixabay/Alexandra_Koch

Penularan varian Omicron yang jauh lebih mudah dibanding varian lain memang membuat banyak pihak khawatir. Tetapi di akhir tahun ini, ada dua kabar baik soal Omicron. Pertama, Omicron mungkin tidak akan lama dan orang yang divaksinasi lengkap tidak perlu khawatir selama memiliki sistem imun sehat.

Dilansir USA Today, karena Omicron sangat menular, ahli medis mengatakan puncaknya tidak akan bertahan lama.

Di Afrika Selatan, varian ini telah membludak sejak pertama diidentifikasi bulan lalu dan kasusnya terus menurun dalam beberapa waktu terakhir. Menurut analisis USA Today dari data Universitas John Hopkins, pada pekan yang berakhir pada 26 Desember, jumlah kasus baru yang didiagnosis telah turun hampir 36 persen dari puncaknya pada minggu sebelumnya.

Kabar baik lainnya datang untuk orang-orang yang sudah divaksin. Meskipun dosis penuh vaksin Covid-19 tidak memberikan perlindungan terhadap Omicron seperti pada varian sebelumnya, vaksinasi dan booster tampaknya membuat perbedaan besar pada orang dengan sistem imun yang sehat.

Dr. Craig Spencer, dokter ruang gawat darurat di New York City menulis di Twitter jika mereka yang mendapat tiga suntikan yang kemudian terinfeksi tampaknya hanya mengalami sakit tenggorokan yang parah dan kelelahan serta nyeri otot selama beberapa hari. Sementara orang yang hanya mendapat dua suntikan mengalami gejala yang lebih buruk.

“Lebih lelah. Lebih demam. Lebih banyak batuk, sedikit lebih menyedihkan secara keseluruhan,” tulisnya

Dia menambahkan jika mereka yang baru mendapat satu suntikan bernasib lebih buruk. Mereka merasa tidak enak badan selama beberapa hari. Meski bukan hal yang baik, tetapi itu tidak mengencam jiwa.

Spencer, yang bekerja di New York-Presbyterian/Columbia University Medical Center, mengatakan hampir smeua orang yang harus dirawat di rumah sakit akibat Covid-19 tidak divaksinasi.

“Semuanya dengan sesak napas berat. Semua yangoksigennya menurun ketika berjalan. Semua orang membutuhkan oksigen untuk bernapas secara teratur,” jelasnya.

Dokter di rumah sakit lain menguatkan pernyataannya. Orang yang divaksinasi hanya memiliki gejala lebih sedikit dan mengalami sakit dalam waktu singkat, menurut beberapa dokter lain. Satu-satunya pengecualian hanya untuk merea yang sistem kekebalannya lemah, mungkin karena pengobatan atau usia tua.

“Orang-orang yang kekebalannya terganggu dan orang-orang yang sangat lemah harus lebih hati-hati,” ujar Dr Rajesh Gandhi, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Umum Massachusetts. “Itu adalah kelompok penting yang meskipun sudah divaksinasi tetapi belum terlindung sepenuhnya.”

Dia menambahkan jika Omicron juga membuat semakin sulit untuk membantu orang-orang tidak ke rumah sakit. Dua dari tiga antibodi monoklonal yang secara rutin diberikan kepada orang berisiko tinggi untuk penyakit parah tidak lagi bekerja melawan Omicron, sementara yang ketiga, sotrovimab, kekurangan pasokan.

Gandhi mengatakan dua pil antivirus, Paxlovid dan molnupiravir, yang sudah disahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) minggu lalu, jauh lebih mudah diberikan dan dapat membuat perbedaan besar dalam pandemi. Tetapi itu belum tersedia secara luas.

Walaupun para ahli memperkirakan varian ini kurang berbahaya dari varian sebelumnya, tetapi karena sangat menular, kemungkinan masih akan banyak orang yang dirawat di rumah sakit. Namun meski begitu, dengan munculnya obat-obat baru, setidaknya ada sedikit cahaya di ujung terowongan yang panjang. (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Pakar Penyakit Menular AS: Tak Perlu Booster Khusus Varian untuk Melawan Omicron

Current Issues
Varian Omicron Mungkin Lebih Menular, Tetapi Vaksin Masih Memberi Harapan

Current Issues
Studi: Vaksinasi Covid-19 dan Breakthrough Infection Timbulkan “Kekebalan Super"