Tech

Kenapa Kelangkaan Chip Global Tak Akan Berakhir dalam Waktu Dekat?

Jingga Irawan

Posted on December 27th 2021

Berita kelangkaan chip global tahun ini begitu heboh. Sampai beberapa ada yang disulap menjadi meme. Meskipun banyak guyonan online karena kelangkaan tak kunjung berakhir, krisis chip semikonduktor itu nyata. Dan berdampak serius pada kehidupan kita.  

Harga mobil lebih mahal dan lebih sulit untuk dibuat. Perusahaan gadget harus cepat-cepat memenuhi permintaan konsumen untuk perangkat kerja dan sekolah jarak jauh. Dan produk yang tak terhitung jumlahnya telah ditunda, dengan tanggal rilis yang mesti diundur.

Masalah kelangkaan chip memang mempengaruhi hampir semua orang, terutama bagi para gamer. Setahun setelah peluncuran PlayStation 5, hampir sangat tak mungkin untuk memesannya.

Menurut Glenn O'Donnell dari Forrester Analytics, inti kekurangan chip sebagian besar adalah masalah penawaran dan permintaan konsumen yang sederhana. Pembuat mobil menurunkan pesanan perangkat keras mereka pada awal Pandemi Covid-19, dengan asumsi bahwa konsumen tak akan tertarik untuk membeli kendaraan baru.

Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Permintaan yang luar biasa telah mendorong harga mobil bekas naik secara signifikan. Pembuat chip juga dipaksa mengikuti naiknya permintaan untuk PC, konsol game, dan berbagai macam gadget. Di sisi lain mereka juga menghadapi perlambatan produksi di tengah lockdown Covid-19 dan tindakan pencegahan lainnya.

"Aku ingin mengatakan bahwa keadaan telah membaik, tetapi sebenarnya menjadi sedikit lebih buruk, dan aku nggak kaget," kata Glenn dalam wawancara baru-baru ini dengan Engadget.

April lalu, dia berpendapat bahwa kekurangan chip global akan berlanjut sampai 2022 bahkan 2023. Sekarang, dia jadi lebih yakin bahwa keadaan kita tak membaik sampai saat itu.

Sementara pabrik chip masa depan dari Intel, TSMC, dan Samsung dapat meningkatkan pasokan, masih akan memakan waktu setidaknya dua tahun untuk perusahaan-perusahaan itu mulai beroperasi hingga mereka berdiri. Intel memulai pembangunan di dua pabrik chip Arizona pada bulan September, dan diperkirakan tak akan beroperasi sampai tahun 2024.

Oleh karena itu, orang-orang di dunia perlu membiasakan diri kekurangan chip. Dalam wawancara dengan Nikkei pekan lalu, CEO Intel, Pat Gelsinger juga mengkonfirmasi bahwa dia memperkirakan situasinya akan berlangsung hingga 2023.

"Covid-19 mengganggu rantai pasokan, menyebabkan situasi menjadi buruk," katanya saat berada di Malaysia, tempat perusahaan menginvestasikan USD 7,1 miliar di lini manufaktur dan pengemasan. "Permintaan meledak hingga 20 persen tahun-ke-tahun dan rantai pasokan yang terganggu menciptakan kesenjangan yang sangat besar dan ledakan permintaan itu terus berlanjut."

CEO NVIDIA, Jensen Huang, mengamini pernyataan itu dalam wawancara Yahoo Finance baru-baru ini. Menurutnya, tak ada "peluru ajaib" yang bisa menolong ketika perusahaan sudah berurusan dengan masalah pasokan.

Tetapi, Huang juga menegaskan bahwa kelompok pemasok NVIDIA sendiri adalah multi-sumber dan beragam, sehingga kekurangan tersebut seharusnya tak secara dramatis mempengaruhi pengembangan produk baru. Namun kenyataannya, NVIDIA juga berjuang untuk memenuhi tuntutan gamer bahkan sebelum pandemi.

Huang mengharapkan produksi meningkat kembali pada tahun 2023, dan ia juga percaya dorongan yang pandemi buat agar orang membeli lebih banyak komputer dan perangkat keras game akan terus berlanjut.

"Aku pikir ini adalah kondisi permanen, dan kita akan melihat komputer baru dibangun untuk waktu yang cukup lama," katanya kepada Yahoo.

“Orang-orang sedang membangun kantor rumah, dan kalian bisa melihat semua implikasinya.”

Di AS, ada secercah harapan melalui Innovation and Competition Act (USICA). Aturan itu rencananya juga mencakup pendanaan USD 52 miliar untuk CHIPs for America Act. Di mana dapat memancing lebih banyak produksi semikonduktor.

Tetapi setelah melewati Senat awal tahun ini, undang-undang tersebut terhenti di Dewan Perwakilan Rakyat. Karena anggota Partai Republik mengatakan mereka akan memblokir USICA.

Padahal RUU itu rencananya juga mencakup USD 190 miliar untuk meningkatkan riset dan pengembangan semikonduktor di AS. Semua dilakukan dengan harapan AS menjadi lebih kompetitif  Tiongkok. Yang secara signifikan meningkatkan produksi chipnya selama dekade terakhir.

Konflik manufaktur antara kedua negara mencapai puncaknya tahun ini. Ketika pemerintahan Joe Biden dilaporkan mengecilkan hati Intel untuk meningkatkan produksi chipnya di Tiongkok.

Mengingat banyaknya hambatan dalam cara memperbaiki rantai pasokan chip, ada satu hal yang mungkin harus dilakukan semua orang: Bersiaplah untuk hidup dengan peralatan yang kalian punya lebih lama. Artinya, kalian disarankan untuk tak mengganti gadget lebih dulu. Jika kalian terbiasa mengganti gadget setahun sekali, coba pertahankan menjadi dua tahun lagi.

Glenn mengatakan dia melihat pemasok perusahaan mencoba untuk memproses satu atau dua tahun lagi sebelum mesin bisnis mereka lancar. Untuk para gamer, pasti ada game yang masih bisa dimainkan untuk konsol yang sudah ada, jadi jangan khawatir karena belum bisa membeli PlayStation 5 atau Xbox Series X. (*)

Foto: Pixabay

Related Articles
Tech
Samsung Bangun Pabrik Chip Canggih Baru Senilai Rp 242 Triliun di Texas

Tech
Samsung Stop Pengiriman Produk ke Rusia

Tech
Meski Komponen Sulit, Apple Kembali Jadi No. 1 di Pasar Smartphone Global