Current Issues

Risiko Tertular Omicron Lebih Besar di Bandara Dibanding di Dalam Pesawat

Dwiwa

Posted on December 25th 2021

Perjalanan udara sering dianggap lebih aman dibanding kegiatan dalam ruangan lainnya seperti makan atau berbelanja, karena udara di pesawat sebenarnya disaring dengan sangat baik. Begitu pula yang pernah ditulis oleh The New York Times.

Namun David Powell, seorang dokter dan penasihat medis di Asosiasi Transportasi Udara Internasional, mengatakan kepada Bloomberg bahwa varian baru dapat secara signifikan meningkatkan risiko tertular Covid selama penerbangan, dibandingkan dengan tahap awal pandemi.

"Apa pun risiko yang muncul dengan Delta, kita harus mengasumsikan risikonya akan dua hingga tiga kali lebih besar dengan Omicron, seperti yang telah kita lihat di lingkungan lain," jelas Powell seperti dilansir dari Bestlife.

Menurut Insider, pakar udara mengatakan bahwa risiko terbesar di pesawat itu sendiri adalah duduk di sebelah seseorang yang sakit. Powell menyarankan jika ada seseorang yang dekat dengan kita yang jelas-jelas sakit, beri tahu awak kabin. Pemerintah dan para ahli pun telah mengatakan orang tidak boleh bepergian jika telah terpapar Covid-19, sakit, atau jika dinyatakan positif Covid-19.

Tetapi bahkan selama gelombang Omicron, risiko terkena Covid sebenarnya jauh lebih tinggi di bandara daripada di pesawat. Menurut Powell, sekitar 50 persen aliran udara di pesawat dari luar dan 50 persen disirkulasikan kembali dan disaring dengan HEPA, sehingga aman untuk bernapas. Jenis aliran udara ini tidak ada di bandara.

"Persyaratan untuk aliran udara di pesawat jauh lebih ketat daripada bangunan bandara pada umumnya. Di bandara kita lebih banyak menemui gerakan acak, lebih banyak potensi untuk kontak tatap muka, dan umumnya memiliki aliran udara yang berkurang. Tingkat ventilasi bandara adalah sepersepuluh, mungkin, dari apa yang ada di pesawat," kata Powell.

Menurut Powell, peningkatan transmisi Omicron berarti bahwa tindakan perlindungan lebih penting daripada sebelumnya bagi mereka yang terbang selama liburan. Tetapi tindakan pencegahan itu sendiri sama dengan yang direkomendasikan oleh para ahli virus selama pandemi: menghindari permukaan yang sering disentuh, mencuci tangan bila memungkinkan, mengenakan masker setiap saat, dan menghindari kontak tatap muka dengan penumpang lain.

"Sarannya sama, hanya saja risiko relatif mungkin meningkat, sama seperti risiko relatif pergi ke supermarket atau naik bus dengan Omicron meningkat," kata Powell kepada Bloomberg.

Namun Powell mengatakan bahwa tetap memakai masker di bandara dan selama penerbangan tetap penting, terutama di tengah penyebaran Omicron.

"Secara sederhana, dua orang bermasker memiliki penularan minimal dari satu ke yang lain. Jika salah satu dari kalian melepas masker, maka orang itu berisiko lebih besar untuk menularkan dan sedikit lebih berisiko tertular. Tetapi jika kalian berdua melepasnya maka jelas, tidak ada penghalang di sana dan kalian dapat dengan bebas menularkan satu sama lain," ujarnya.

Meskipun risiko relatif tertular Covid selama penerbangan saat Omicron mendominasi lebih tinggi untuk semua orang, Powell mengatakan bahwa penumpang yang tidak divaksinasi masih memiliki risiko yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang divaksinasi.

"Perlindungan terbesar yang dapat kalian berikan pada diri sendiri adalah dengan divaksinasi dan mendapat booster," katanya.

Meski di Indonesia varian Omicron belum mendominasi seperti di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, tetapi jumlah kasus yang ditemukan terus meningkat. Dari yang tadinya satu kasus diumumkan pada Rabu (15/12), jumlahnya meningkat menjadi 19 pada Jumat (24/12).

Sejauh ini semua kasus varian Omicron berasal dari pelaku perjalanan luar negeri. Karena itu, masyarakat dihimbau agar tidak melakukan perjalanan ke luar negeri jika memang tidak mendesak.(*)

Foto: Pixabay/DaniloBueno

Related Articles
Current Issues
Covid-19 di Indonesia Makin Menggila, Kebiasaan Ini Bikin Kamu Lebih Berisiko

Current Issues
Dipangkas, Kini Pelaku Perjalanan Luar Negeri Hanya Perlu Karantina 7-10 Hari

Current Issues
Ilmuwan Identifikasi Varian Versi Siluman dari Omicron, BA.2, Apa Itu?