Current Issues

Kasus Omicron di Indonesia Terus Bertambah, Saatnya Memperbarui Masker

Dwiwa

Posted on December 25th 2021

Pemerintah telah mengonfirmasi jumlah kasus virus Corona varian Omicron yang masuk Indonesia bertambah menjadi 19. Hal itu setelah Kementerian Kesehatan pada Jumat (24/12) mencatat tambahan 11 kasus baru Covid-19 varian Omicron berdasarkan hasil whole genome squencing.

Karena varian Omicron ini sangat menular dan telah menyebabkan lonjakan kasus di sejumlah negara, sejumlah ahli telah menyarankan agar orang-orang mulai mempertimbangkan pilihan masker yang digunakan, terutama jika masih memakai jenis kain.

“Masker kain tidak lebih dari sekadar hiasan wajah. Tidak ada tempat untuk itu di era Omicron,” ujar Analis Medis CNN Dr. Leana Wen, dokter kedaruratan dan profesor tamu kebijakan dan manajemen kesehatan di George Washington University Milken Institute School of Public Health, di CNN Newsroom Selasa.

Dalam kesempatan berbeda dia mengatakan jika itu lah yang selama ini disampaikan oleh ilmuwan dan pejabat kesehatan masyarakat selama berbulan-bulan. Dia juga mengatakan setidaknya kita harus memakai masker bedah tiga lapis atau yang juga dikenal sebagai masker sekali pakai dan dapat ditemukan di apotek atau toko grosir. Sedangkan masker kain bisa dipakai di atas masker bedah, bukan sebagai masker tunggal.

Idealnya saat berada di tempat ramai, kita harus menggunakan masker KN95 atau N95. Masker yang lebih pas dan menggunakan bahan tertentu yang lebih baik –seperti serat polipropilen– bertindak sebagai penghalang mekanis dan elektrostatik. Hal ini membuat masker lebih baik dalam mencegah partikel kecil masuk ke hidung atau mulut dan harus dipasang dengan pas di wajah agar berfungsi baik.

Rekomendasi masker yang digunakan untuk melindungi dari Covid-19 juga terus berubah. Pada awalnya masyarakat tidak diperbolehkan menggunakan masker N95 dan masker medis karena diprioritaskan untuk tenaga medis. Masyarakat disarankan untuk menggunakan masker kain dua lapis atau lebih sebagai gantinya.

Tetapi seiring berkembangnya pemahaman tentang Covid-19, rekomendasi soal jenis masker yang disarankan kembali berubah.

“Butuh waktu lebih lama bagi orang untuk memahami sifat infeksi melalui udara – bahwa ini belum tentu merupakan infeksi hibrida, katakanlah dengan influenza, di mana keduanya dapat disebarkan melalui droplet, terhirup sedikit, di permukaan dan menginfeksi dengan cara itu. Tampaknya, penyebab utama infeksi (virus corona) adalah berbagi udara,” ujar Erin Bromage, profesor muda biologi di University of Massachusetts Dartmouth seperti dilansir dari CNN.

Dia menambahkan masker kain dapat menyaring droplet besar, sementara masker yang lebih efektif seperti N95, dapat menyaring droplet besar dan aerosol lebih kecil atau partikel yang berpotensi penuh dengan virus airborne jika ada orang yang terinfeksi.

Masker kain memiliki 75 persen kebocoran ke dalam dan ke luar, yang didefinisikan oleh American Conference of Governmental Industrial Hygienists sebagai presentase partikel yang memasuki penutup wajah dan presentase partikel yang dihembuskan oleh sumber yang keluar dari penutup wajah.

Respirator N95 yang disetujui oleh US National Institute fro Occupational Safety & Health dapat menyaring hingga 95 persen partikel di udara, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC). Sementara masker medis atau sekali pakai sekitar 5 persen hingga 10 persen kurang efektif dibanding respirator N95, bergantung pada kategorisasi ASTM Internasional mereka – dengan peringkat tipe 1, 2, dan 3 pada masker bedah dari paling tidak efektif hingga paling efektif.

Meski penyebab Omicron bisa menginfeksi orang dengan cepat belum diketahui, tetapi Bromage mengatakan ini membuat peran masker berkualitas jadi semakin penting. Jika lebih sedikit virus yang dibutuhkan, atau orang yang terinfeksi mengeluarkan lebih banyak virus, maka peran masker dalam hal ini adalah jika jumlah yang dihirup dapat dikurangi, maka lebih banyak waktu yang didapat.

CDC menjelaskan dalam studi tentang berbagai masker, masker kain dengan banyak lapisan dan jumlah benang yang lebih banyak telah menunjukkan kinerja yang unggul dibanding hanya satu lapis, tetapi masih kurang efektif dibanding masker medus.

Memakai masker kain di atas masker medis, seperti yang disarankan Wen, dapat melindungi kita dan orang lain dengan lebih baik karena membuat masker lebih pas di wajah dan meningkatkan kapasitas penyaringan.

“Jika yang dimiliki hanya masker kain, itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Tetapi kalian tidak terlindungi dengan baik, dan kalian harus tahu bahwa tidak terlindungi dengan baik. Jadi jika pergi ke lingkungan dalam ruangan yang ramai dan yang dimiliki hanya masker kain, jangan pergi,” saran Wen.

Dia menambahkan jika kalian tidak dapat membeli masker medis entah dengan alasan apa pun, pergilah ke lokasi yang mewajibkan masker dan menyediakannya dengan gratis – seperti beberapa stasiun kereta api, toko kelontong atau bisnis lain – dan mintalah masker bedah.(*)

Foto: Pixabay/Surprising_Shots

Artikel Terkait
Current Issues
CDC Sebut Masker Ini Paling Ampuh untuk Mencegah Penyebaran Omicron

Current Issues
Ada Varian Omicron, Apakah Masker Kain Masih Efektif? Ini Kata Ahli

Current Issues
Masker Medis Sekali Pakai Jadi Kunci untuk Membendung Penyebaran Covid-19