Entertainment

‘The Matrix Resurrections’ Punya Cara Keren Tampilkan Dunia Game ke Film

Artikel ini menganding SPOILER!

Jingga Irawan

Posted on December 24th 2021

Credit: WarnerBros.

Film dan TV sangat sulit menggambarkan video game. Mereka cenderung menghadirkan game sebagai judul arcade generik atau sebagai virtual reality berfitur lengkap yang mustahil. Keduanya tak menangkap pengalaman khas memainkannya.

Tapi The Matrix Resurrections, sebuah film yang semuanya tentang virtual reality, telah berhasil membawa dunia digital menjadi sangat keren.

The Verge membagikan beberapa poin plot spesifik dari The Matrix Resurrections, yang tayang perdana kemarin di bioskop dan di HBO Max. Meskipun mendapat banyak kritik, masih banyak pengamat film mengaku menikmatinya. SPOILER ALERT!!!

The Matrix Resurrections dibuka dengan protagonis Neo yang hidup di dalam iterasi baru dari Matrix, sebuah realitas simulasi yang dirancang oleh mesin untuk membuat manusia tawanan tetap patuh.

Dalam putaran awal, kita mengetahui bahwa The Matrix sendiri sekarang ada di dalam Matrix. Tetapi bukan sebagai sebuah film. Sebaliknya, Neo (hidup sebagai Thomas Anderson, seperti di film pertama) adalah desainer game terkenal yang menciptakan trilogi video game terkenal di dunia dengan plot, karakter, slogan, dan elemen gaya yang sama dengan tiga film Matrix pertama.

Tetapi meskipun sebagian besar film dikhususkan untuk membahas game-game ini, film ini masih jauh dari spesifik. Kita tahu bahwa film pertama memenangkan penghargaan pada tahun 1999, grafiknya cukup detail sehingga Trinity yang terperangkap Matrix dapat mengenali rekan dalam game-nya dua dekade kemudian, dan itu tersirat memiliki semacam narasi linier dengan karakter utama.

Ketika karakter merujuk adegan dari game, sutradara Lana Wachowski memanfaatkan cuplikan film Matrix lama untuk mengilustrasikannya. Itu bisa menjadi cutscene live-action, tetapi tak pernah secara eksplisit dijelaskan.

Resurrections mungkin sengaja membuat detail permainan tak jelas karena mereka adalah bagian simbolis dari cerita tentang seni secara umum dan pengalaman keluarga Wachowski secara khusus. Tapi sengaja atau tidak, itu adalah pilihan yang menarik dalam film fiksi ini. Itu momen yang jarang kita dapat membayangkan di Matrix. Momen yang berpotensi tak realistis tetapi dengan cara yang sangat realistis.

Di dunia kita, ruang virtual digambarkan sebagai simbol yang luar biasa, bukan kenyataan yang bisa digapai. Pengembang memanipulasi aturan yang seharusnya objektif untuk menciptakan ketegangan perasaan yang nyata.

Game naratif prestise, genre yang tampaknya digunakan oleh Neo, sesuai dengan apa yang disebut oleh desainer game Robert Yang sebagai “gameisme utama. Sesuatu yang tak logis, tak lagi diperhatikan orang, karena mereka fokus pada kemajuan dan pencapaian. Misalnya, pemain dapat berlari dengan menembak (bahkan dalam headset VR) tanpa bertanya-tanya mengapa mereka tak memiliki tubuh yang utuh.

Matrix asli menggambarkan simulasinya sebagai ruang hiper-realistis yang dapat diretas untuk mengungkap ketidaknyataannya. Tapi The Matrix Resurrections mengisyaratkan dunia jalan pintas yang cepat dan dengan cara yang kotor. Sejauh ini, memang tak pernah ada film Matrix yang benar-benar dapat dimainkan. Tetapi film itu bisa menghasilkan kesan sesaat dari game paling menakjubkan yang pernah kalian lihat.

Cuplikan film bukan murni perangkat metatekstual untuk penonton. Itu merupakan sebuah kiasan bagaimana orang-orang di dalam Matrix mengingat pengalaman, seperti cara kita mengingat game favorit kita sendiri yang memiliki grafik yang lebih baik atau kontrol yang lebih intuitif.

Itu akan mencerminkan semua prinsip yang ditunjukkan oleh penjahat Resurrections. Sebuah program yang dijuluki The Analyst, berdasarkan Matrix-nya. Itu adalah tempat di mana, sampai batas tertentu, orang mengerti bahwa mereka dibodohi oleh game dan tak peduli.

Mereka menyukai kenyamanan mengingat cerita lama dengan mengorbankan sesuatu yang baru atau nyata. Bahkan ketika sebenarnya tak ada apa-apa di sana (dalam game). The Matrix Resurrections tak melakukan pekerjaan yang baik dalam mengembangkan banyak temanya. Tapi film itu memiliki perpaduan gaya dan cerita yang sempurna.(*)

Artikel Terkait
Entertainment
Keanu Reeves Melompat dari Gedung 20 Kali Saat Syuting The Matrix Resurrections

Entertainment
Keanu Reeves Sebut Gabung Marvel Universe Merupakan Suatu Kehormatan

Hobi
Keanu Reeves Membuat Komik, dan Dia Sendiri Karakter Utamanya