Tech

Mengenal Web3, Akan Menggantikan Internet atau Hanya Scam?

Jingga Irawan

Posted on December 24th 2021

Apa itu Web3? Definisi Web3 tergantung pada siapa yang menggambarkannya. Ada yang mengatakan bahwa itu merupakan tahap selanjutnya untuk kemajuan internet. Tetapi ada juga yang percaya bahwa Web3 hanya akal-akalan pengusaha besar yang ingin menumbangkan raksasa teknologi yang kita kenal saat ini.

Ide utama di balik 'versi ketiga' internet, menurut para pendukungnya, adalah menggabungkan berbagai teknologi blockchain, cryptocurrency, NFT, dan sebagainya untuk membuat web yang tak terlalu bergantung pada lima perusahaan teknologi besar. Pendukung Web3 ingin melihat internet berada di tangan pengguna. Bukan dikelola oleh perusahaan tertentu yang semena-mena terhadap konten.

Mantan CEO Twitter, Jack Dorsey, dan CEO Tesla, Elon Musk adalah sebagian kecil di antara orang-orang yang mengkritik Web3. Mereka berpendapat bahwa langkah itu hanyalah upaya perusahaan teknologi lain untuk mengambil kendali.

Sama seperti istilah keren internet lainnya, 'metaverse' dan bahkan ‘artificial intelligence’, Web3 juga melejit di sekitar kalangan tertentu tanpa ada suatu kebenaran. Tetapi sudah menghabiskan miliaran dollar untuk mewujudkannya.

Apa yang terjadi dengan Web2 dan Web1?

Web1, atau 'internet lama', dimulai pada tahun 1991 dan mengacu pada waktu ketika sebagian besar ruang online adalah tempat orang mengonsumsi konten. Halaman web statis seperti situs Space Jam, yang dirancang dengan sederhana menurut standar saat ini, memberikan informasi kepada pengguna dengan sedikit interaksi.

Web2 dimulai sekitar tahun 2004 dan lebih mirip internet yang kita kenal sekarang. Di mana Web2 mengutamakan interaksi antara pengguna dan platform. Situs media sosial seperti Facebook dan Twitter, serta Google, bangkit untuk mengatur informasi web dan memusatkannya di bawah kendali mereka.

Sementara itu, Apple membantu jalan hubungan kita dengan web melalui iPhone (dan para penirunya berikutnya) dan Amazon Web Services dilengkapi dengan semua.

Apa itu Web3?

Web3 merupakan istilah yang awalnya diciptakan pada tahun 2014 tetapi baru belakangan ini menjadi terkenal, yang didasarkan pada teknologi blockchain. Blockchain adalah buku besar digital yang digunakan untuk melacak pergerakan objek digital seperti cryptocurrency.

Cryptocurrency, secara teori, melewati otoritas pusat seperti bank. Web3 juga, secara teori, akan melewati otoritas pusat. Sebenarnya, Twitter telah mengusulkan versi layanan terdesentraliasi juga, di mana bagian yang berbeda akan memiliki kebijakan moderasi yang berbeda dari apa yang kita anggap sekarang sebagai situs web Twitter 'utama'.

Bisakah Web3 benar-benar memindah kekuasaan web dari perusahaan ke pengguna?

Persaingan melawan perusahaan teknologi besar kemungkinan akan membuat internet menjadi lebih baik jika ada Web3. Dalam ide itu, web yang dikelola pengguna sendiri tanpa campur tangan perusahaan teknologi dianggap sebagai nilai tambah.

Hubungan langsung ke konsumen untuk para artis, musisi, dan pencipta lain juga akan lebih baik. Kasus yang baru-baru terjadi misalnya, Spotify, telah dikritik karena dinilai tak membayar cukup untuk artis. Masalah serupa juga terjadi di Instagram dan Reddit, yang keduanya merupakan pusat karya seni tanpa atribusi atau pembayaran kepada artis.

Bagi beberapa seniman, NFT adalah cara untuk menghasilkan uang dari seni digital. Royalti dapat dimasukkan ke dalam karya seni secara langsung, sehingga setiap kali karya seni terjual, pencipta menerima apresiasi berupa uang.

“Ini memberi kekuatan kepada penciptanya,” kata Chris Torres, pencipta Nyan Cat yang baru-baru ini menjual gambar tersebut sebagai NFT.

“Kreator awalnya memilikinya, dan kemudian mereka dapat menjualnya dan langsung memonetisasi dan mendapat pengakuan atas karya mereka.”

Tetapi Web3 jauh dari tujuan itu. Dan kebutuhannya juga dipertanyakan. Musisi dapat dibayar secara adil melalui penjualan media fisik, dan artis melalui komisi. Blockchain pada dasarnya tak diperlukan. Kecuali dunia ini sudah menerapkan layanan digital sebagai budaya. Atau setidaknya diakses secara gratis.

"Web3, sampai batas tertentu, adalah meme atau merek pemasaran di sekitar berbagai aktivitas blockchain dan cryptocurrency, yang sudah terjadi,” kata Kevin Werbach, profesor Wharton dan pakar blockchain.

“Seperti gelombang blockchain perusahaan beberapa tahun yang lalu, Web3 sedang dihipnotis lebih jauh untuk promosi daripada yang sebenarnya. Banyak orang memperdagangkan crypto dan membeli NFT, tetapi itu tak berarti mereka mengadopsi alternatif terdistribusi untuk platform teknologi utama.”

NFT adalah contoh yang baik ketika cita-cita para pendukung Web3 menjadi kenyataan. Token ini pada dasarnya adalah tanda terima digital untuk karya seni online. Pengguna tak memiliki karya seni itu sendiri. Hanya tanda terima.

Pembeli NFT harus mencatat dengan baik untuk mempertahankan pembelian mereka, seperti halaman dari OpenSea, salah satu pasar NFT terbesar. Alih-alih diserahkan pada pengguna, kepemilikan NFT dikelola bukan oleh pengguna. Tetapi oleh otoritas desentralisasi yang baru.

Kritik terhadap Web3 sangat keras. “Pada intinya Web3 adalah kampanye pemasaran hampa yang mencoba membingkai ulang asosiasi negatif publik terhadap aset crypto menjadi narasi palsu tentang kejuasaan perusahaan teknologi lama,” tulis seorang insinyur dan blogger Stephen Diehl.

Apa risiko dari Web3?

Masa depan Web3 tergantung pada tingkat perkembangan yang dibuat oleh perusahaan teknologi, termasuk peningkatan digitalisasi kehidupan kita atau bahkan metaverse. Di mana dunia virtual dengan ekonominya sendiri dan barang digital ada secara paralel dengan dunia nyata.

Blockchain, NFT, dan teknologi lainnya dapat mengantarkan orang kaya dalam dunia digital. Saat ini real estat digital sedang dijual. Padahal itu masih abstrak. Dan belum tentu ada. Inilah yang juga ditakuti oleh banyak kritikus Web3. Alih-alih membuat internet berada di tangan pengguna, itu cuma rencana pebisnis untuk memindah kekuasaan teknologi ke komplotan eksekutif baru.

Meta, ketika mempromosikan metaverse, mengatakan bahwa “sama seperti internet, metaverse ada apakah Facebook ada atau tak ada. Dan itu tak akan dibangun dalam semalam,” juga tak akan dibangun oleh satu perusahaan. Tetapi raksasa teknologi bernilai miliaran dolar itu, yang disingkirkan dari perangkat keras Web2 oleh Apple dan Google, jelas ingin menempatkan dirinya sebagai pusat dari apa yang mereka yakini sebagai masa depan internet.

“Perangkat lunak yang kami buat, bagi orang-orang untuk bekerja atau berkumpul dan membangun dunia yang berbeda ini, akan mencakup apa saja. Jadi perusahaan lain membangun platform VR atau AR, perangkat lunak kami akan ada di mana-mana. Sama seperti Facebook atau Instagram hari ini,” kata Mark Zuckerberg.

“Sama seperti NFT, Web3 dan platform metaverse adalah perkembangan alami berikutnya dalam cara kita berinteraksi, berhubungan, dan berkomunikasi satu sama lain,” dia juga berkomentar.

Apa yang dilakukan Web3 dan teknologi spekulatif lainnya seperti NFT, cryptocurrency, dan metaverse saat ini adalah memfasilitasi cara yang bagus bagi pemodal untuk menjadi kaya, dengan cara yang sama seperti membeli saham yang mengembang menghasilkan uang pembeli.

Lebih dari USD 27 miliar telah diinvestasikan dalam teknologi. Meskipun demikian, masih sulit untuk memprediksi dengan tepat seperti apa internet selama beberapa dekade saat Web3 akan lahir.(*)

 

Related Articles
Tech
Belum Bisa Beli Ferrari? Siap-Siap Beli NFT-nya Dulu Saja...

Tech
4 Tren Ini Akan Membawa Pengguna Media Sosial Beralih ke Web3, Apa Saja?

Tech
Kenapa Orang Rela Habiskan Miliaran Uang untuk Beli NFT?