Current Issues

Pfizer Sebut Pil Covid-19 Hampir 90 Persen Lindungi dari Rawat Inap dan Kematian

Dwiwa

Posted on December 15th 2021

Pixabay/jorono

Pfizer Inc (PFE.N) pada Selasa mengatakan pil antivirus Covid-19 buatannya menunjukkan kemanjuran hampir 90 persen dalam mencegah rawat inap dan kematian pada pasien berisiko tinggi. Data laboratorium baru-baru ini juga menunjukkan obat tersebut tetap efektif melawan varian Omicron yang menyebar cepat.

Reuters melaporkan jika produsen obat AS tersebut mengatakan bulan lalu obat oral mereka sekitar 89 persen efektif dalam mencegah rawat inap atau kematian bila dibandingkan dengan plasebo. Ini merupakan hasil sementara dari sekitar 1.200 orang termasuk tambahan 1.000 orang.

Tidak seorang pun dalam uji coba yang menerima pengobatan Pfizer meninggal, dibandingkan dengan 12 kematian di antara penerima plasebo.

Pil Pfizer diminum bersama dengan antivirus ritonavir setiap 12 jam selama lima hari dimulai segera setelah timbulnya gejala. Jika mendapatkan izin, perawatan ini akan diberi nama Paxlovid.

“Ini adalah ahsil yang menakjubkan,” ujar Chief Scientific Officer Pfizer Mikael Dolsten dalam sebuah wawancara. “Kita berbicara tentang jumlah nyawa yang diselamatkan dan rawat inap yang dicegah. Dan tentu saja, jika kalian menggunakannya segera setelah infeksi, kita cenderung mengurangi penularan secara dramatis.”

Pfizer juga merilis data awal dari studi kedua yang menunjukkan bahwa pengobatan mengurangi raawat inap sekitar 70 persen dalam uji coba yang lebih kecil pada orang dewasa berisiko standar, termasuk beberapa orang yang berisiko tinggi meski sudah divaksinasi.

Pfizer mengatakan hasil tersebut menunjukkan tren positif, tetapi tidak signifikan secara statistik. Mereka menindaklanjuti hasil tersebut dan berencana untuk merilis data dari 20 persen dari peserta akhir dalam uji coba yang melibatkan 1.100 pasien. Uji coba tidak menunjukkan bahwa obat tersebut mengurangi gejala Covid-19 pada kelompok populasi.

Selain Pfizer, Merck & Co juga sudah lebih dulu mengembangkan pil antivirus yang diberi nama molnupiravir. Namun dalam uji klinis pasien berisiko tinggi, obat antivirus ini memperlihatkan efektivitas dalam mengurangi rawat inap dan kematian hanya sekitar 30 persen.

Beberapa ilmuwan juga mengungkapkan kekhawatiran tentang potensi cacat lahir dari obat Merck, serta kekhawatiran itu akan menyebabkan virus bermutasi.

Sementara produk yang dikembangkan Pfizer bekerja secara berbeda. Ini merupakan bagian dair kelas obat yang disebut inhibitor protease yang saat ini digunakan untuk mengobati HIV, hepatitis C, dan virus lainnya.

Dolsten mengatakan pengujian laboratorium baru-baru ini menunjukkan bahwa aktivitas terhadap protease varian Omicron sama baiknya dengan variant of concern SARS-Cov-2 lainnya. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Molnupiravir Dapat Izin BPOM, Bagaimana Efektivitasnya Melawan Omicron?

Current Issues
CDC Sebut Covid-19 Mungkin Akan Jadi Virus Musiman Seperti Flu

Current Issues
Vaksin Jadi Angin Segar Penerbangan Internasional, Tetapi Bukan Segalanya