Current Issues

Misteri Pandemi: Ilmuwan Kini Fokus Pada Asal-Usul Covid-19 dari Hewan

Dwiwa

Posted on December 12th 2021

Pixabay/Inactive_account_ID_249

Hampir dua tahun pandemi Covid-19 berlangsung, tetapi asal mula virus yang memporak-porandakan dunia ini masih diselimuti misteri. Kebanyakan ilmuwan percaya itu muncul di alam liar dan melompat dari kelelawar ke manusia, baik secara langsung atau melalui hewan lain. Namun ada juga yang berteori bahwa itu kabur dari laboratorium di Tiongkok.

Dilansir dari AP, saat ini semakin banyak ilmuwan mencoba untuk tetap fokus pada apa yang mereka anggap sebagai yang lebih masuk akal “zoonosis”, atau teori hewan ke manusia, dengan harapan apa yang dipelajari akan membantu umat manusia menangkis virus dan varian baru.

“Skenario bocor dari laboratorium mendapat banyak perhatian, kalian tahu, di tempat seperti Twitter, tetapi tidak ada bukti jika virus ini ada di laboratorium,” kata ilmuwan Universitas Utah Stephen Goldstein, yang bersama 20 orang lainnya menulis sebuah artikel dalam jurnal Cell pada Agustus memaparkan bukti berasal dari hewan.

Michael Worobey, ahli biologi evolusioner di Universitas Arizona yang berkontribusi pada artikel tersebut, mengatakan dia selalu berpikir bahwa penularan zoonosis lebih mungkin terjadi dibanding kebocoran laboratorium. Tetapi bersama ilmuwan lain telah menandatangani surat yang mengatakan kedua teori itu mungkin terjadi pada musim semi lalu.

Dia mengatakan, sejak itu penelitiannya sendiri dan penelitian orang lain telah membuatnya lebih percaya diri tentang hipotesis hewan, yang jauh lebih didukung oleh data.

Bulan lalu, Worobey menerbitkan timeline yang menghubungkan kasus manusia pertama yang diketahui dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, Tiongkok, tempat hewan hidup di jual.

“Ide kebocoran laboratorium hampir pasti adalah gangguan besar yang mengalihkan fokus dari apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Tetapi yang lain tidak begitu yakin. Selama musim panas, tinjauan yang diperintahkan oleh Presiden Joe Biden menunjukkan bahwa empat badan intelijen AS percaya dengan keyakinan rendah bahwa virus itu awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Sementara satu lembaga percaya dengan keyakinan sedang bahwa infeksi pertama terkait dengan laboratorium.

Beberapa pendukung hipotesis kebocoran laboratorium berteori bahwa peneliti secara tidak sengaja terpapar karena praktik keselamatan yang tidak memadai saat bekerja dengan sampel dari alam liar, atau mungkin telha membuat virus di laboratorium.

Dari kelelawar ke manusia

Para ilmuwan mengatakan dalam makalah Cell bahwa SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 adalah virus corona kesembilan yang didokumentasikan menginfeksi manusia. Semua virus corona yang sebelumnya berasal dari hewan. Termasuk virus yang menyebabkan SARS 2003 yang juga telah dikaitkan dengan pasar yang menjual hewan hidup di Tiongkok.

Banyak peneliti percaya hewan liar adalah inang perantara untuk SARS-CoV-2, yang berarti mereka terinfeksi virus corona kelelawar yang kemudian berevolusi. Para ilmuwan telah mencari virus corona kelelawar yang terlibat, dan pada September mengidentifikasi tiga virus pada kelelawar di Laos yang lebih mirip dengan SARS-CoV-2 daripada virus lain yang diketahui.

Worobey menduga anjing rakun adalah inang perantara. Mamalia mirip rubah rentan terhadap virus corona dan dijual langsung di pasar Huanan, ujarnya.

Awal tahun ini, sebuah laporan bersama oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Tiongkok menyebut penularan virus dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain sebagai skenario yang paling mungkin dan kebocoran laboratorium sangat tidak mungkin.

Tetapi laporan itu juga menebar keraguan dengan menyebut kasus Covid-19 pertama yang diketahui sebagai akuntan yang tidak memiliki koneksi ke pasar Huanan dan pertama kali menunjukkan gejala pada 8 Desember 2019. Worobey mengatakan para pendukung teori kebocoran laboratorium merujuk pada kasus itu dalam mengklaim virus itu lolos dari fasilitas Institut Virologi Wuhan di dekat tempat tinggal pria tersebut.

Menurut penelitian Worobey, pria itu mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa penyakitnya pada 8 Desember sebenarnya adalah masalah gigi. Gejala Covid-19-nya dimulai pada 16 Desember, tanggal yang dikonfirmasi dalam catatan rumah sakit. Analisis Worobey mengidentifikasi kasus sebelumnya merupakan vendor di pasar Huanan yang terjangkit Covid-19 pada 11 Desember.

Para ahli khawatir bahwa penularan virus dari hewan ke manusia yang sama dapat memicu pandemi baru dan memperburuk yang ini. Ketakutan lain, bagaimanapun, adalah bawah hewan dapat melepaskan varian virus baru.

“Di seluruh dunia, kita mungkin memiliki hewan yang berpotensi menginkubasi varian ini bahkan jika kita mengendalikan (Covid-19) pada manusia,” ujar David O’Connor, pakar virologi di Universitas Wisconsin-Madison. “Kita mungkin tidak akan melakukan program imunisasi jerapah yang besar dalam waktu dekat.”

Para ahli mengatakan pencegahan penyakit zoonosis tidak hanya membutuhkan tindakan keras terhadap penjualan satwa liar ilegal tetapi juga membuat kemajuan dalam masalah besar global yang meningkatkan risiko kontak manusia-hewan, seperti perusakan habitat dan perubahan iklim.

Ilmuwan mengatakan dalam makalah Cell jika kegagalan untuk sepenuhnya menyelidiki asal usul virus dari hewan akan membuat dunia rentan terhadap pandemi di masa depan yang timbul dari aktivitas manusia yang sama yang telah berulang kali menempatkan kita pada jalur tabrakan dengan virus baru.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Tim Baru WHO Mungkin Jadi Kesempatan Terakhir untuk Temukan Asal Usul Covid-19

Current Issues
Tiap Tahun, Ratusan Ribu Orang Mungkin Telah Terinfeksi Virus Corona Kelelawar

Current Issues
Para Ahli di Tim WHO Sebut Pencarian Asal Usul Covid-19 Telah Terhenti