Current Issues

Omicron Tampaknya Menular Lebih Mudah, Tetapi Mungkin Tidak Sebabkan Sakit Parah

Dwiwa

Posted on December 8th 2021


Pixabay/Engin_Akyurt

Varian virus Corona Omicron telah menjadi kekhawatiran banyak pihak karena diperkirakan lebih menular dibanding varian sebelumnya. Meski begitu, laporan awal menunjukkan jika varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan ini menyebabkan penyakit kurang serius dibanding bentuk virus yang lain.

Dilansir dari The New York Times, para peneliti di kompleks rumah sakit besar di Pretoria melaporkan bahwa pasien mereka dengan virus Corona jauh kurang sakit dibanding yang pernah mereka rawat sebelumnya, dan rumah sakit lain melihat tren yang sama. Bahkan, mereka mengatakan sebagian besar pasien yang terinfeksi dirawat karena alasan lain dan tidak memiliki gejala Covid.

Tetapi para ilmuwan memperingatkan agar tidak terlalu fokus pada berita baik soal tingkat keparahan rendah atau pun kabar buruk seperti bukti awal jika infeksi sebelumnya menawarkan sedikit kekebalan terhadap Omicron.

Karena varian ini masih baru, perlu penelitian lebih lanjut sebelum para ahli bisa mengatakan lebih banyak soal Omicron dengan percaya diri. Selain itu, dampak sebenarnya dari virus Corona tidak selalu langsung terasa, di mana rawat inap dan kematian sering muncul belakangan.

Dr Emili Gurley, peneliti kesehatan masyarakat di John Hopkins Bloomberg School of Public Health mengatakan tentang tanda-tanda jika varian ini kurang parah. Meski begitu, dia masih belum yakin jika itu bisa disimpulkan saat ini.

Varian baru ini telah menyebar dengan cepat dan telah terdeteksi di lebih dari 30 negara di enam benua sejauh ini. Pejabat kesehatan dan peneliti mengatakan itu bisa menjadi bentuk virus yang paling menular dan akan segera menggantikan varian Delta yang kini dominan.

Di Eropa, seperti di Afrika Selatan, ada indikasi awal yang menunjukkan jika kasus Omicron mungkin cukup ringan, meskipun lebih mudah menular.

Sebuah laporan yang dirilis akhir pekan lalu dari para dokter di Steve Biko Academic dan Tshwane District Hospital Complex di Pretoria, ibu kota administratif Afrika Selatan, menawarkan harapan terkuat sejauh ini tentang Omicron, meskipun penulisnya, Dr Fareed Abdullah memberi alasan untuk berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.

Abdullah, direktur Kantor Penelitian HIV/AIDS dan Tuberkulosis di Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan, mengamati 42 pasien dengan virus corona yang ada di rumah sakit pada Kamis. Dia menemukan bahwa 29 diantaranya, 70 persen bisa menghirup udara biasa. Dari 13 orang yang menggunakan oksigen tambahan, empat memilikinya karena alasan yang tidak terkait Covid.

Hanya satu dari 42 yang harus dirawat di ruang perawatan intensif, sejalan dengan angka yang dirilis minggu lalu oleh Institut Nasional Penyakit Menular, yang menunjukkan bahwa hanya 106 pasien berada dalam perawatan intensif selama dua minggu sebelumnya, meskipun ada lonjakan kasus.

Laporan itu menyebut jika sebagian besar pasien dirawat dengan diagnosis yang tidak terkait Covid-19. Infeksi yang mereka alami adalah temuan insidental pada pasien  dan sebagian besar disebabkan karena kebijakan rumah sakit yang mengharuskan semua pasien diuji. Disebutkan jika dua rumah sakit besar lain di provinsi Gauteng, yang meliputi Pretoria dan Johannesburg, memiliki presentase pasien terinfeksi yang memerlukan oksigen lebih rendah.

“Dari 17 pasien, empat diantaranya menggunakan oksigen,” ujar Abdullah. “Itu tidak seperti bangsal Covid bagi saya, itu seperti bangsal normal,” ujarnya ketika dia berkeliling di bangsal Covid.

Gurley, dari John Hopkins, menekankan bahwa tingkat keparahan tidak hanya tercermin dari varian tetapi juga siapa yang terinfeksi. Dua tahun setelah pandemi, jauh lebih banyak orang memiliki tingkat kekebalan tertentu terhadap virus melalui vaksinasi, infeksi alami, atau keduanya, dan itu bisa diterjemahkan menjadi kasus lebih ringan.

“Kita tidak tahu bagaimana membaca urutan genetik untuk mengatakan dengan tepat bagaimana varian ini akan bermain,” ujarnya. “Kita memiliki lebih banyak informasi sekarang dari Afrika Selatan, yang merupakan populasi tertentu dengan profil kekebalan tertentu yang sudah ada sebelumnya.”

Selain itu, pengamatan Abdullah terhadap 166 pasien dengan virus Corona yang dirawat di kompleks Biko-Tshwane antara 14 November dan 29 November menemukan jika rawat inap mereka turun menjadi 2,8 hari dengan kurang dari 7 persen meninggal. Selama 18 bulan sebelumnya,  rata-rata rawat inap untuk pasien tersebut adalah 8,5 hari dan 17 persen meninggal. Delapan puluh persen dari 166 pasien ini usianya dibawah 50 tahun.

Tetapi mengartikan laporan Abdullah harus dilakukan dengan hati-hati. Sebab jumlah sampelnya kecil, dan temuannya belum ditinjau oleh rekan sejawat. Selain itu, dia tidak tahu berapa banyak pasien dengan Omicron dibandingkan dengan varian virus corona lain.

Abdullah mengakui kekurangan tersebut dan mencatat mungkin ada jeda antara kemunculan pertama kali Omicron dengan peningkatan penyakit serius dan kematian. Tetapi sejauh ini, meskipun ada peningkatan besar dalam kasus, kematian yang terkait Covid belum meningkat di Afrika Selatan.

Artikel Terkait
Current Issues
Varian Omicron Telah Tersebar di Dunia, Sejumlah Negara Batasi Perjalanan

Current Issues
Ilmuwan Prediksi Akan Ada Varian yang Lebih Mengkhawatirkan Setelah Omicron

Current Issues
Dirjen WHO Khawatir Terjadi “Tsunami Kasus” Akibat Varian Omicron dan Delta