Current Issues

Varian Omicron Mungkin Lebih Menular, Tetapi Vaksin Masih Memberi Harapan

Dwiwa

Posted on December 5th 2021

Pixabay/neelam279

Para peneliti masih terus mengumpulkan data, bukti anekdot awal, dan informasi Covid-19 yang ada untuk lebih memahami varian virus Corona baru, Omicron. Dalam kurun waktu kurang dari dua minggu dari upaya global, petunjuk-petunjuk itu memberi para ahli pandangan sekilas tentang ancaman dari varian ini.

Dilansir USA Today, sejauh ini konsensus yang ada menunjukkan jika vaksin kemungkinan akan terus melindungi terhadap penyakit parah, tetapi variannya mungkin terbukti sangat menular, bahkan pada orang yang sudah divaksinasi penuh atau penyintas Covid-19.

Varian baru ini telah memicu ledakan kasus di Afrika Selatan dan telah menyebar ke berbagai belahan dunia termasuk Amerika Serikat hingga Malaysia dan Singapura.

Kasus di Afrika Selatan telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam empat hari meskipun tingkat kekebalannya relatif tinggi. Saat ini, di Afrika Selatan ada sekitar 30 persen populasi telah divaksinasi lengkap dan hampir 40 persen memiliki Covid klinis.

“Ini pertumbuhan eksponensial. Dari seribu, menjadi 3.000 atau 4.000 menjadi 6.000 dan kemarin 11.000 infeksi dilaporkan dalam sehari,” kata Sikhulile Moyo, direktur laboratorium untuk Laboratorium Referensi HIV Harvard Botswana di Gaborone, Botswana, dan rekan peneliti di Departemen Imunologi dan Penyakit Menular di Harvard T.H Chan School of Public Health.

Para peneliti telah berulang kali mmeperingatkan bahwa varian ini sangat baru sehingga sangat sedikit yang bisa mereka katakan secara pasti.

“Ini masih sangat, sangat dini. Kita tidak boleh menafsirkannya secara harfiah, ini baru satu setengah minggu,” kata Moyo yang pertama kali menemukan varian di Botswana.

Moyo menjelaskan jika sementara data masih terus berdatangan, dalam hal penularan mereka melihat ledakan di Afrika Selatan. Peningkatan pesat dalam kasus di Afrika Selatan ditambah dengan laopran peristiwa super spreader telah membantu memvalidasi kekhawatiran awal para ahli bahwa banyaknya  mutasi pada virus akan membantunya menyebar dengan cepat.

“Itu adalah kemampuan yang paling mengkhawatirkan yang kita lihat sekarang,” ujar Dr Roger Shapiro, seorang profesor imunologi di Harvard Medical School yang juga bekerja di Botswana, dalam panggilan konferensi kepada wartawan.

Ini muncul dari bukti anekdot awal, termasuk pesta Natal pada 26 November di Norwegia, di mana dari 120 orang yang divaksinasi penuh, setidaknya sejuah ini 50 telah dipastikan terjangkit varian Omicron.

Pesta itu diadakan di dalam ruangan di sebuah restoran tepi pelabuhan di Oslo, kata seorang kepala pengendalian infeksi kota kepada E24, sebuah surat kabar bisnis Norwegia.

Pesta tersebut diadakan oleh perusahaan energi terbarukan di Norwegia bernama Scatec, yang beroperasi di Afrika Selatan. Kepada pejabat mereka mengatakan jika beberapa di antara yang hadir telah mengunjungi kantor perusahaan di Cape Town baru-baru ini.

Otoritas kesehatan setempat menyebut sejauh ini semua yang terinfeksi memiliki gejala ringan dan tidak ada yang dirawat di rumah sakit.

Laporan tentang individu yang sudah divaksinasi tetapi masih tertular Omicron terdengar meresahkan. Namun para ahli kesehatan umumnya optimis bahwa vaksin akan terus memberikan perlindungan terhadap Omicron.

Bukti yang muncul menunjukkan orang yang divaksinasi atau telah pulih dari Covid-19 dapat terinfeksi dengan Omicron tetapi kecil kemungkinan untuk sakit parah. "Tetapi penyakit parah adalah topik yang sangat sulit untuk dinilai dengan cepat," jelas Moyo.

Laporan awal penyakit ringan memang cocok dengan teori yang muncul – meskipun Omicron mungkin memicu peningkatan infeksi pada orang yang divaksinasi, perlindungan vaksin terhadap penyakit parah kemungkinan masih akan tetap kuat.

Shapiro mengatakan itu karena vaksin memaksimalkan kedua lengan dari sistem kekebalan, seluler dan humoral. Bahkan jika varian Omicron dapat lolos dari respon humoral atau antibodi, respon seluler masih dapa menyerang dan menjaga penyakitnya hanya ringan atau sedang.

Anne von Gottberg dari University of Witwatersrand mengungkapkan hal senada saat pengarahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis. “Kami percaya bahwa vaksin masih akan melindungi dari penyakit parah,” ujarnya.

Sementara itu, terlalu dini untuk memastikan tentang risiko Omicron meskipun terjadi tren lonjakan kasus di sejumlah wilayah. Ahli penyakit menular kenamaan AS Dr Anthony Fauci dalam jumpa pers mengatakan jika perlindungan terbaik tetap dengan vaksinasi.

Fauci menunjukkan slide yang memperlihatkan tingkat antibodi yang semakin tinggi setelah setiap pemberian suntikan. Dia menjelaskan jika saat mendapatkan suntikan ketiga, kita akan meningkatkan antibodi penawar terhadap semua varian. Fauci merujuk pada temuan di mana tingkat antibodi melonjak setelah dosis ketiga suntikan vaksin Pfizer-BioNTech.

Meski begitu dia mengingatkan untuk tidak membuat kesimpulan saat ini. Kejelasan dari varian ini mungkin akan di dapat dua hingga tiga minggu ke depan saat peneliti menumbuhkan virus di laboratorium dan mengujinya terhadap antibodi serta melakukan studi epidemiologi untuk melihat apakah Omicron menyebabkan penyakit parah. Jika demikian, siapa yang paling rentan.

Dr Bruce Walker, profesor imunologi di Harvard Medical School dan Massachusetts Institute of Technology mengatakan dalam skenario terburuk, Omicron atau varian lain akan menjadi lebih mudah menular, lebih efisien dalam membuat salinan dirinya sendiri dan lebih berbahaya.

Sementara dalam skenario terbaik, varian baru mungkin lebih menular, tetapi kurang berbahaya. Bisa dibilang pada dasarnya mengubah diri mereka menjadi vaksin yang tidak berbahaya yang melindungi terhadap infeksi di masa depan. Tetapi untuk saat ini, semua itu masih belum jelas.(*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Varian Omicron Telah Tersebar di Dunia, Sejumlah Negara Batasi Perjalanan

Current Issues
Data Afrika Selatan Tunjukkan Varian Omicron Dapat Menghindari Sebagian Imun

Current Issues
Studi: Salah Satu Mutasi Varian Omicron Mungkin Didapat dari Virus Flu Biasa