Tech

Kenapa Orang Rela Habiskan Miliaran Uang untuk Beli NFT?

Jingga Irawan

Posted on December 5th 2021

Credit: Cryptopunk

Apa yang bisa meyakinkan kalian bahwa gambar di atas bernilai Rp 131 miliar? Gambar itu adalah NFT generasi pertama, yang menjadi bagian dari koleksi CryptoPunk. Itu merupakan set 10.000 NFT yang dirilis pada 2017, saat sebagian besar dari kalian mungkin masih mencari tahu apa itu bitcoin.

Respons terhadap non-fungible token (NFT) tak banyak berubah sejak Maret tahun ini ketika “barang” digital itu pertama kali booming. Tak sedikit seniman yang menolak keberadaan NFT dan menyebutnya sebagai penipuan yang merusak lingkungan (karena NFT menggunakan teknologi blockchain).

Pemilik pixelated di atas adalah Richerd, seorang pengembang software asal Kanada. Dia mulai membangun perangkat lunak cryptocurrency sekitar 2013, tetapi akhirnya bosan.

Setelah menemukan NFT awal tahun ini, Richerd membeli CryptoPunk #6046 pada 31 Maret seharga Rp 1,3 miliar. Dia menyebut pembelian itu merupakan nominal paling besar yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

Richerd mengklaim bahwa CryptoPunk-nya sangat berharga dan tak akan untuk dijual berapa pun harganya. Keesokan harinya, datang sebuah tawaran sebesar 2.500 ethereum, atau setara dengan Rp 131 miliar. Jika Richerd mengklik "terima,” 2.500 ethereum akan mengalir ke dompetnya. Tapi dia menolak.

"Yah, jelas, sehari sebelumnya aku mengatakan 'aku tak menjualnya dengan harga berapa pun', jadi jika aku menjualnya dengan harga itu, aku akan melawan integritasku sendiri," kata Richerd.

"Selain itu, aku telah menggunakan CryptoPunk ini sebagai foto profilku, sebagai branding diriku. Semua orang tahu itu aku."

Penjelasan Richerd mungkin terdengar nggak masuk akal bagi kalian. Siapa yang menolak Rp 131 miliar untuk melepas gambar pixelated yang bahkan nggak bagus-bagus amat jika dijadikan wallpaper? Namun, jika kalian menghabiskan beberapa bulan meneliti dan mengikuti NFT, angka itu nggak akan mengejutkan bagi kalian. Justru sangat masuk akal.

Mereka adalah Jutawan

Berikut adalah satu fakta singkat yang menjelaskan mengapa NFT dibeli dengan harga yang setara dengan gaji CEO:

Bitcoin diperkirakan telah menghasilkan lebih dari 100.000 jutawan. Tak mengherankan bahwa NFT menjadi fenomena besar tahun ini. Bulan Maret lalu, bitcoin mencapai USD 60.000, naik lebih dari 500 persen dari hanya enam bulan sebelumnya.

Saat kalian melihat judul berita atau tweet tentang sejumlah uang yang nggak masuk akal yang dihabiskan untuk NFT, mudah untuk menjadi bingung tentang betapa absurdnya pembelian itu bagi kalian. Tetapi kalian lupa kalau barang berharga mahal pasti dibeli oleh orang kaya. Dan orang yang sangat kaya rela menghabiskan banyak uang untuk simbol status.

Bored Ape Yacht Club, misalnya. Itu adalah kumpulan 10.000 NFT kera, semua dengan sifat berbeda sehingga lebih langka daripada yang lain. Yang paling langka telah terjual lebih dari Rp 14,5 miliar, tetapi varian umumnya seharga sekitar Rp 3 miliar.

BAYC dimiliki oleh orang-orang seperti Steph Curry dan Jimmy Fallon. Tujuan utama dari gambar tersebut adalah untuk digunakan sebagai foto profil di Discord, tempat sebagian besar bisnis NFT ada, atau di Twitter, Instagram, di mana pun.

Foto Profil Seharga Rp 3 Miliar?!

It’s crazy right? Tetapi coba posisikan bagaimana orang kaya menghabiskan uang? itu nggak terlalu mengejutkan. Kalian bisa dengan mudah save image dengan mengklik kanan dan menyimpan JPEG, jadi mengapa menghabiskan uang untuk itu?

Begini logikanya, kalian mungkin merasa cukup dapat membeli rumah bagus di lingkungan yang aman dengan harga Rp 14,5 miliar. Namun bagi selebritis, lingkungan aman saja tak cukup. Harus ada nilai lebih. Prestise misalnya. Karena itu, mereka tak ragu membeli rumah-rumah mewah senilai Rp 290 miliar.

Orang yang mengatakan, “sayang banget uangnya padahal bisa digunakan untuk beli rumah” tak paham karena mereka belum mencapai ke level pembelian rumah dengan harga Rp 14,5 miliar. 

"Di dunia nyata, bagaimana orang memamerkan kekayaan mereka?" kata Alex Gedevani, seorang analis di perusahaan riset cryptocurrency Delphi Digital. "Bisa untuk membeli mobil atau jam tangan. Lebih keren mana jika dibandingkan aku membeli CryptoPunk dan menggunakannya sebagai gambar profilku?"

Yap! orang akan berpikir: jika dia mampu membeli CryptoPunk dengan harga fantastis, barang mewah lainnya pasti sudah terbeli dengan mudahnya.

Membangun sebuah “simbol status” biasanya karena mereka punya tujuan tertentu. Seorang banker yang memakai Rolex-nya dan CEO yang biasa mengendarai Bentley nggak peduli bahwa orang berpikir salah satu dari harga barang itu berlebihan. Mereka memiliki tujuan lain yang kuat pada orang-orang yang mereka coba pengaruhi. Begitu juga dengan NFT.

Dalam kasus Richerd, ia menjalankan bisnisnya sendiri, Manifold, di mana ia membantu menunjukkan kepada seniman digital seperti Beeple bagaimana mereka dapat menggunakan teknologi blockchain untuk membuat karya seni yang hanya bisa eksis sebagai NFT.

Menjadi bagian dari koleksi NFT yang paling dicari membantu mereka untuk bisnis lain. Dan ketika dia mengatakan bahwa mereknya dibangun berdasarkan kepemilikan Punk-nya, dia nggak bercanda soal hal itu. Sekelompok investor bahkan menamai organisasi mereka dengan namanya.

"Siapa pun yang memiliki CryptoPunk percaya hal-hal tertentu," jelas Richerd. "Entah kalian sudah lama berada di komunitas sehingga kalian percaya pada apa ini, atau kalian telah membayar banyak uang untuk masuk, yang menunjukkan keyakinan."

"Aku ingin menunjukkan keyakinanku. Ini adalah salah satu proyek yang membuat kalian menaruh uang kalian di mana pun mulut kalian berada."

Masalah NFT

NFT terpolarisasi. Ada sekelompok kecil orang yang percaya pada teknologi yang mendasarinya (token membuktikan kepemilikan barang digital), tetapi lebih banyak lagi yang menganggapnya sebagai tipuan. Sama seperti orang yang berjuang untuk melihat nilai apa pun dalam NFT, orang lainnya terkadang bersikap defensif tentang ketidaksempurnaan teknologi. Dan sebetulnya ada banyak masalah dengan NFT.

Pertama adalah nggak dapat diakses dan membingungkan. Ada alasan mengapa pengembang software cenderung berhasil dalam perdagangan crypto dan NFT: Menyiapkan dompet blockchain dan peralatan digital lain yang diperlukan itu sulit. Bahkan hanya membeli dan menjual bisa berbahaya. Kirim uang ke alamat dompet yang salah secara nggak sengaja, bisa membuat uang itu hilang selamanya.

Lalu ada biaya. Harga Rp 14 juta itu mungkin terlalu besar untuk kalian. Tapi jika kalian mencetak NFT baru selama penjualan publik, kalian akan menghabiskan antara Rp 2-5 juta, dan itu masih sangat kecil jika memperhitungkan biaya transaksi.

Sebagian besar NFT dibangun di atas blockchain ethereum, yang terkenal nggak efisien. Semakin banyak orang yang menggunakan ethereum, baik melalui perdagangan altcoin atau membeli NFT, semakin tinggi biayanya. Pada saat yang sama kalian akan menghabiskan sekitar Rp 1,4 juta per transaksi, meskipun dua atau tiga kali lipat jumlah itu biasa terjadi. See? Angka Rp 14 juta sebetulnya nggak terlalu besar.

Ada kemungkinan 100.000 orang untuk membeli koin shiba inu sekaligus, karena ada kuadriliun yang beredar. Tetapi ketika 10.000 orang mencoba membeli NFT, itu menghasilkan lonjakan besar dalam biaya transaksi karena beberapa pengguna saling bersaing untuk mempercepat pembelian mereka.

Ini mungkin hanya berlangsung satu atau dua menit, tetapi banyak kerusakan dapat dilakukan dalam waktu itu. Orang yang menghabiskan lebih dari Rp 140 juta untuk biaya transaksi bukanlah hal yang langka. Orang yang kehilangan Rp 14 juta pada transaksi yang gagal juga tidak.

Tak efisiennya Ethereum juga berkontribusi pada kritik besar lainnya terhadap NFT, karena sejumlah besar energi yang mereka konsumsi. NFT akhirnya juga dianggap buruk bagi lingkungan seperti halnya ethereum, meskipun belum ada penelitian resminya.

Dan terakhir, ada fakta bahwa kebanyakan orang memperdagangkan NFT untuk mendapat untung. Penipuan ada di mana-mana, dan harga berubah-ubah. Sebagian besar orang yang membuat, membeli, dan menjual NFT tak mengetahui atau tak tertarik dengan teknologinya.

Apakah NFT Masih Eksis tahun 2022?

Diperkirakan sekitar 250.000 orang memperdagangkan NFT setiap bulan di OpenSea, pasar NFT terbesar. Dalam jangka pendek, CoinBase akan segera membuka pasar NFT sendiri, di mana 2 juta pengguna berada dalam daftar tunggu. Robinhood memiliki rencana serupa.

Lebih penting lagi, perusahaan raksasa yang sudah menghasilkan uang di luar ruang crypto juga ingin masuk. Niantic, perusahaan di belakang Pokemon Go, baru saja mengumumkan permainan di mana pemain bisa mendapatkan bitcoin. Twitter dan perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook berencana untuk mengintegrasikan NFT ke dalam platform mereka, dan Epic Games mengatakan terbuka untuk melakukannya juga.

Bayangkan sebuah dunia di mana alih-alih membeli skin di Fortnite, kalian membeli NFT untuk skin yang kalian miliki. Artinya, kalian dapat menukarnya dengan pakaian dan senjata di game lain, atau menjualnya setelah kalian selesai menggunakannya.

Richerd menganggap membanjirnya orang yang segera memasuki pasar NFT akan menciptakan keragaman produk digital yang lebih luas yang dijual untuk audiens yang berbeda. Tetangga kalian mungkin tak ingin menghabiskan Rp 2,8 juta, apalagi Rp 3 miliar untuk foto profil, tapi mungkin mereka akan bersedia mengeluarkan Rp 140 ribu untuk skin yang unik, atau produk di Metaverse Facebook.

Tetapi meskipun ruangnya mungkin berubah, dia tetap yakin bahwa CryptoPunk #6046 aman untuk sementara waktu. "Bahkan jika setiap NFT jatuh," katanya, "CryptoPunks akan menjadi yang terakhir” jelas Richerd.(*)

 

Related Articles
Tech
Dukung Keaslian Karya, Photoshop Bakal Punya Opsi Khusus untuk NFT

Tech
Twitter Luncurkan Verifikasi Foto Profil NFT

Tech
Popularitas Crypto Tahun 2021 Bikin Penjahat Online Untung Banyak