Lifestyle

Normalnya, Seberapa Sering Sih Harusnya Kita BAB?

Dwiwa

Posted on December 4th 2021

Pixabay/Alexas_Fotos

Kalian pernah nggak menghitung dalam sehari berapa  kali buang air besar (BAB) alias pup? Ternyata nih, seberapa sering frekuensi BAB ini bisa mengidentifikasi kesehatan pencernaan kita loh.

Dilansir Insider, sebenarnya tidak ada angka pasti untuk semua orang terkait seberapa sering harus BAB. Setiap orang tidak sama.

“Buang air besar dianggap normal umumnya sampai tiga kali sehari dan paling jarang tiga kali seminggu,” ujar Jesse P. Houghton, MD, FACG, Direktur Medis Senior Gastroenterologi di SOMC Gastreoenterology Associates.

Sebuah studi pada 2010 terhadap orang dewasa berumur 18 hingga 70 tahun menemukan 98 persen dari peserta buang air besar tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu. Jika dijabarkan, 77 persen normal, 12 persen keras, dan 10 persen lembek.

Houghton mengatakan bahwa disebutkan jika penting untuk mengingat bahwa beberapa orang akan pup lebih dari tiga kali sehari atau kurang dari tiga kali seminggu dan itu masih normal. Justru ketika kita mulai mengalami perubahan dalam frekuensi BAB mungkin menunjukkan sesuatu sedang terjadi.

Selain itu, kita juga harus memonitor aspek lain dari kebiasaan BAB. Ashkan Farhadi, MD, gastroenterologis di MemorialCare Orange Coast Medical Center, mengatakan jika ada beberapa hal yang bisa mengindikasikan apakah BAB normal atau tidak.

Pertama adalah  seharusnya kita merasa pencernaan kita kosong setiap kali selesai pup. Selain itu juga konsistensi dari kotoran berbentuk, yang artinya BAB padan dan tidak terjadi diare,

Lalu, apa saja sih faktor yang dapat memengaruhi sering tidaknya kita BAB?

 

1. Umur

Konstipasi alias sembelit lebih sering dialami seiring bertambahnya usia. Houghton mengatakan hal ini dikarenakan adanya perlambatan kontraksi usus besar dan penurunan jumlah air dalam usus besar.

 

2. Obat

Mengonsumsi obat-obatan tertentu juga menjadi salah satu alasan utama terjadinya sembelit, kata Farhadi. Beberapa contoh obat-obat ini adalah antideopresan tertentu, antasida tertentu, obat penghilang rasa sakit tertent, dan obat tekanan darah tinggi tertentu.

 

3. Tingkat aktivitas

Jika kita tidak cukup bergera dan jarang berolahraga, kemungkinan sembelit lebih besar, kata Farhadi. Hal ini karena imobilitas dapat memperlambat usus.

 

4. Pola makan

Pola makan memainkan peran besar dalam pergerakan usus  kita. Houghton menjelaskan jika pola makan rendah serat, ini dapat memicu sembelit. Hal ini karena serat membantu menjaga saluran pencernaan kita tetap bergerak.

Di sisi lain, jika kita tiba-tiba mengubah diet dan mulai makan lebih banyak serat, kalian mungkin akan merasakan jika BAB jadi lebih sering dari sebelumnya, ujar Farhadi. Makanan kaya serat ini termasuk gandum, buah-buahan, dan sayuran.

 

5. Stres

Saat kita sedang sangat stres atau mengalami kecemasan, itu bisa berdampak pada BAB. Farhadi mengatakan ini bisa berdampak dua sisi, kalian bisa jadi mengalami sembelit atau justru jadi lebih sering BAB dan bahkan mungkin diare.

 

Nah, agar BAB kalian bisa teratur, beberapa gaya hidup mungkin perlu diubah. Itu termasuk dengan meningkatkan asupan serat, mengonsumsi probiotik, minum air lebih banyak, dan lakukan olahraga setidaknya 30 menit tiga hingga empat kali seminggu.

Selain itu, jika frekuensi dan/atau konsistensi kotoran menyimpang dari apa yang biasanya normal untuk kita selama lebih dari beberapa minggu, kalian mungkin harus menemui dokter.

Houghton juga mengatakan jika kalian perlu memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala seperti sakit perut terus-menerus, ada darah dalam BAB, penurunan berat, atau perubahan drastis dalam kebiasaan BAB. (*)

 

Artikel Terkait
Lifestyle
Pola Makan Seperti Ini Ternyata Bisa Bikin Panjang Umur Loh

Lifestyle
Tips Belanja Bahan Makanan Sehat Buat Kamu yang Mulai Mengubah Gaya Hidup

Interest
Biar Badan Nggak Melar, Begini Cara Jitu Jaga Pola Makan Usai Ramadhan