Current Issues

Studi: Yang Sudah Divaksin dan Kena Breakthrough Infection, Tak Seberapa Menular

Dwiwa

Posted on December 3rd 2021

Pixabay/SamuelFrancisJohnson

Orang yang sudah divaksinasi dan mendapatkan breakthrough infection Covid-19 mungkin kurang menulari dibanding mereka yang tidak divaksinasi. Temuan ini didapat dari sebuah studi baru yang dilakukan terhadap pemain, staf dan seisi rumah NBA.

Dilansir Business Insider, data dari penelitian ini dikumpulkan ketika varian virus Corona Alpha dan Delta dominan. Temuan ini pun mendukung teori umum yang berkembang di antara para ahli.

Salah satunya yang diungkapkan oleh Dr Anthony Fauci, ahli penyakit menular ternama Amerika Serikat. Pada musim panas lalu dia mengatakan jika orang yang divaksinasi kurang menularkan virus. Studi sebelumnya juga menemukan jika infeksi pada orang yang sudah divaksinasi lebih singkat, dengan gejala ringan dan membersihkan virus lebih cepat.

Studi baru yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine minggu ini menemukan bahwa orang dengan breakthrough infection mungkin sama menularnya dengan orang yang tidak divaksinasi.

Tetapi para peneliti juga menemukan jika orang dengan breakthrough infection menular untuk waktu yang singkat. Ini tentu mengurangi kesempatan mereka untuk menularkan virus kepada orang lain. Bukti lain juga menunjukkan jika orang yang divaksinasi jauh lebih kecil kemungkinan terinfeksi, terutama setelah menerima booster alias suntikan penguat.

Para peneliti menganalisis 19.941 sampel virus dari 173 orang yang terdaftar dalam program kesehatan kerja NBA dari November 2020 hingga Agustus 2021. Di bawah program tersebut, para pemain NBA menjalani tes rutin untuk Covid-19.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa orang yang divaksinasi jika terpapar akan menular rata-rata selama 5,5 hari, dibandingkan dengan 7,5 hari pada orang yang tidak divaksinasi.

Para peneliti mengatakan mereka tidak menemukan perbedaan pada orang yang menerima vaksin mRNA Pfizer-BioNTech dua dosis maupun mereka yang mendapatkan vaksin satu dosis Johnson & Johnson. Menurut peneliti, vaksin mRNA Moderna tidak dinilai karena ukuran sampel yang kecil.

“Pekerjaan kami memberikan informasi paling rinci hingga saat ini tentang bagaimana konsentrasi virus berubah dalam tubuh selama durasi penuh infeksi SARS-CoV-2,” ujar Stephen Kissler, rekan penulis studi dan rekan peneliti di Harvard T.H. Chan School of Public Health, yang memimpin studi, dalam sebuah pernyataan.

Meski begitu, peneliti menyebut jika hasil penelitian ini tidak mewakili publik. Sebab populasi dalam penelitian ini adalah kelompok yangs angat muda, sehat, dan laki-laki.

Ini juga dilakukan sebelum munculnya Omicron, varian terbaru yang menjadi kekhawatiran. Meskipun belum jelas apakah Omicron lebih menular dari Delta, namun para peneliti perlu melihat seberapa baik vaksin bekerja terhadap varian ini. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Vaksin Covid-19 untuk Anak Dapat Membantu Mencegah Munculnya Varian Baru

Current Issues
Ilmuwan: Infeksi Sebelumnya Hanya Memberi Sedikit Kekebalan Terhadap Varian Baru

Current Issues
WHO Sebut Varian Delta Sebagai Jenis “Terkuat” dan “Memburu” yang Lemah