Tech

Spotify Mulai Diboikot karena Sang CEO Berinvestasi Pada Perusahaan AI

Helsing adalah perusahaan AI yang akan dipakai di bidang militer

Kezia Kevina Harmoko

Posted on December 1st 2021

(Foto: Drew Angerer/Getty Images)

CEO Spotify yaitu Daniel Ek baru-baru ini mengumumkan bahwa ia menginvestasikan sejumlah uang pada start up teknologi AI bernama Helsing. Namun, keputusan ini justru menuai kontroversi bagi para pengguna Spotify.

Ek menyebut bahwa ia menginvestasikan 100 juta euro (sekitar Rp16,2 triliun) pada Helsing. Selain menjadi CEO Spotify, Ek adalah founder perusahaan investasi Prima Materia. Melalui perusahaan ini Ek melakukan investasi pada Helsing, tetapi jelas dana yang digunakan berasal dari perusahaan terbesar Ek yaitu Spotify. Melalui investasi ini, Ek juga bergabung dalam struktur perusahaan Helsing.

Helsing sendiri adalah perusahaan pertahanan dan keamanan yang menggunakan artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Dilansir dari Mixmag, perusahaan tersebut berencana akan menggunakan AI untuk menghasilkan senjata yang dapat mendukung pasukan militer di medan perang.

Teknologi AI akan dimanfaatkan untuk mengenali pola melalui kamera, melihat gambar termal, data radar, dan informasi lain yang didapatkan oleh sensor. Semua data ini akan dipakai untuk menyajikan kondisi situasi dengan seakurat mungkin.

Sontak keputusan Ek ini dinilai beberapa musisi sebagai keputusan yang membahayakan. AI dalam perang dianggap sangat riskan disalahgunakan dan dapat menimbulkan perang. Beberapa musisi percaya bahwa musik adalah sumber kedamaian dan tidak seharusnya keuntungan dari Spotify digunakan untuk hal-hal yang berpotensi memecah perdamaian.

Produser musik Darren Sangita mengungkapkan pada RA mengenai keputusan investasi tersebut. “Musik dijadikan sebagai senjata. Aku tidak menginginkannya jadi aku sudah membatalkan langgananku dan berencana akan menghapus semua musikku dari Spotify,” ujarnya.

Produser musik b l u e s c r e e n juga menyuarakan ketidaksetujuannya. Ia menyebut bahwa Spotify selama ini memperlakukan musisi secara tidak adil dengan kecilnya royalti yang diberikan. “Perang itu kekacauan. Tidak ada yang etis dari sana. Aku juga kecewa karena  CEO Spotify, seperti biliuner yang lain, menjadi kaya dengan cara mengeksploitasi orang lain,” ungkapnya.

Belum ada pernyataan resmi dari Ek atau Spotify mengenai kontroversi ini, tetapi tagar #BoycottSpotify terus digunakan di Twitter. (*) 

 

Artikel Terkait
Tech
YouTube Uji Coba Pembuat Chapter Otomatis, Biar Gak Perlu Menandai Secara Manual

Tech
Teknologi Kecerdasan Buatan Tiongkok Disebut Lebih Unggul dari AS

Tech
Lebih Akurat! AI Facebook Bisa Terjemahkan 100 Bahasa tanpa Diubah ke Inggris