Tech

Ini 5 Alasan Mengapa Banyak CEO Raksasa Teknologi AS Keturunan India

Jingga Irawan

Posted on November 30th 2021

Parag Agrawal baru saja dinobatkan sebagai CEO Twitter yang baru untuk menggantikan Jack Dorsey. Tetapi, naik jabatannya ini dianggap istimewa. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, raksasa teknologi dan perusahaan multinasional asal Amerika Serikat telah memberi ruang bagi orang-orang India untuk memimpin bisnis digital.

Fenomena ini tak cuma dilihat oleh segelintir orang, CEO dari bisnis unicorn terbesar ketiga di dunia Sprite, Patrick Collison, mengatakan bahwa dirinya senang bisa melihat kesuksesan luar biasa orang India di sektor teknologi.

"Google, Microsoft, Adobe, IBM, Palo Alto Networks, dan sekarang Twitter dijalankan oleh CEO yang tumbuh besar di India. Sungguh luar biasa menyaksikan kesuksesan orang India yang luar biasa di dunia teknologi, ini adalah pengingat yang baik tentang peluang Amerika menawarkan kepada imigran. Selamat, Paraga!" cuit Patrick melalui Twitter.

Bukan hanya Patrick, Elon Musk juga mengamini posting-an Patrick dengan mengatakan bahwa, "AS (dan tentu saja pengguna teknologi di seluruh dunia) mendapat manfaat besar dari bakat India!"

Agrawal telah menyelesaikan PhD dalam program studi ilmu komputer dari Universitas Stanford. Ia bergabung dengan Twitter pada 2011 dan menjabat sebagai chief technology officer sejak Oktober 2017. Saat itu ia bertanggung jawab atas strategi teknis jaringan.

Agrawal bukan orang sembarangan. Kariernya di Twitter bukan pintu masuk ia bekerja di sektor teknologi. Sebelumnya, ia juga sempat berkontribusi di AT&T, Microsoft Corporation, hingga Yahoo. Pria berusia 37 tahun itu diperkirakan memiliki kekayaan bersih USD 1,52 juta.

Meskipun jalannya menuju kursi CEO terlihat luar biasa, Parag Agrawal bukan yang pertama. Tahun lalu, IBM menunjuk Arvind Krishna sebagai CEO berikutnya. Tak lama, WeWork mengkonfirmasi bahwa  perusahaan mereka mempekerjakan Sandeep Mathrani sebagai kepala eksekutif barunya.

Mereka telah bergabung dengan semakin banyak CEO global asal India, menurut media sosial, laporan berita, dan pencarian online Google (yang juga dipimpin oleh orang India).

Beberapa dari mereka adalah seorang imigran India, tetapi tentu ada faktor lain yang mendukung kesuksesan mereka.  Serangkaian faktor eksternal telah berkontribusi pada kebangkitan CEO India, berikut adalah beberapa yang Mainmain rangkum:

Mampu Bertahan Perubahan dan Ketidakpastian

India merupakan negara dengan berpenduduk lebih dari 1 miliar orang, puluhan bahasa, dan infrastruktur yang tak merata. Tetapi dengan wilayah yang luasnya hampir sama dengan Indonesia. Kondisi ini melahirkan penerimaan kekuatan di luar kendali kita dan kebutuhan untuk bertahan. Hal ini mendorong inovasi dan kesabaran dengan proses untuk hidup berdampingan yang dan dalam kondisi yang bermacam-macam.

Kemampuan memprediksi

Kemampuan memprediksi adalah sifat yang diperlukan dalam diri seorang pemimpin. Orang India secara khusus diberkati kemampuan memprediksi yang besar.

Pertimbangkan masa depan mal di Amerika seperti yang diungkapkan oleh Mathrani, veteran real estat yang baru saja ditunjuk untuk menjalankan WeWork.

"Kalian duduk dan berkata 'OK, jika ada 1.100 mal di negara ini, di mana aku melihat industri ini akan berjalan dalam jangka panjang?'" katanya dalam sebuah wawancara dengan CNBC.

"Jika angka itu 800, lalu berapa persen dari 800 itu yang ingin kamu miliki? Jadi cukup jelas bagiku bahwa mal yang lebih baik akan terus berkembang lebih baik dan mal dengan kualitas lebih rendah dari waktu ke waktu akan terus memburuk."

Pendidikan, khususnya STEM.

Imigran India termasuk yang paling berpendidikan tinggi di AS. Menurut Pew Research, 77,5 persen dari mereka memiliki gelar sarjana atau bahkan lebih tinggi pada tahun 2016. Lebih tinggi dari negara asal mana pun, dibandingkan dengan 31,6 persen penduduk asli Amerika.

Di tingkat pascasarjana selama beberapa dekade terakhir, siswa kelahiran asing telah mengisi kursi kosong di mana lebih sedikit orang Amerika yang belajar ilmu komputer dan teknik, meskipun pertumbuhannya melambat.

Orang India Punya Pandangan Unik Tentang Waktu

Menurut tulisan Mitra Kalitra di CNN tentang faktor pendorong kesuksesan orang India hingga menjadi CEO, ketika dia pindah ke India pada tahun 2006, dia menemukan gagasan tentang sinkronisasi waktu dan bagaimana hal itu berlaku di tempat kerja.

Orang Amerika cenderung mengerjakan sesuatu secara berurutan dan fokus pada dua hal: ada kehidupan dan pekerjaan. Definisi yang lebih dalam: "Persepsi waktu berarti cara kita memandang berlalunya waktu, apakah ini bagi kita serangkaian peristiwa yang berlalu (berurutan) atau justru sinkronis, di mana masa lalu, sekarang dan masa depan semuanya saling terkait?"

Teori ini sejalan dengan pendekatan CEO Microsoft Satya Nadella (yang juga orang India), dalam mendefinisikan kembali keseimbangan.

"Apa yang aku coba lakukan adalah menyelaraskan apa yang sangat aku pedulikan, minat mendalamku, dengan pekerjaanku," katanya kepada Australian Financial Review.

“Aku melihat Microsoft sebagai platform bagiku untuk dapat mengejar hasratku sendiri. Dan itu memberiku banyak makna, dan itu, bagiku, adalah bentuk relaksasi yang paling utama."

Keanekaragaman

Tenaga kerja dan kepemimpinan yang beragam sangat penting bagi perusahaan. Sebuah survei oleh Deloitte (juga dijalankan oleh CEO India) menemukan 69 persen karyawan yang percaya manajemen senior beragam telah melihat lingkungan kerja mereka bisa memotivasi dan mendorong untuk maju, dibandingkan 43 persen yang tak menganggap kepemimpinan beragam.

Orang Asia terwakili dengan baik di perusahaan teknologi, tetapi sangat kurang terwakili di tingkat eksekutif, menurut setidaknya satu studi dari lima perusahaan teknologi. Dan penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa keberhasilan orang Amerika keturunan Asia lebih berkaitan karena orang kulit putih Amerika asli memberi mereka kesempatan dan mengakhiri praktik diskriminatif, menyamakan upah mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat.(*)

Related Articles
Tech
BMW Memperkenalkan Mobil yang Bisa Berubah Warna

Tech
Google Bakal Pecat Karyawan yang Tak Mau Divaksin

Tech
Makin Komplit, Aplikasi Gmail Bakal Bisa Buat Telpon dan Panggilan Video