Interest

GFCP Ajak Anak Muda Dolly Berkarya melalui Dolly Kita Colabs

Dika Afandi N

Posted on November 30th 2021

Menulis jadi satu di antara banyaknya lokakarya Dolly Kita Colabs yang digelar Global Future Cities Programme untuk anak muda Dolly. (GFCP for Mainmain)

 

Prostitusi di Dolly dan sekitarnya memang telah ditutup. Namun, bukan berarti kesempatan anak-anak mudanya untuk berkarya tertutup juga. Melalui program Dolly Kita Colabs, Global Future Cities Programme (GFCP) bekerja sama dengan Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Surabaya, menggelar beragam lokakarya untuk anak-anak muda.

"Setelah lokalisasi ditutup, terjadi kekosongan identitas dan kesulitan ekonomi. Kesulitan ekonomi ini juga berdampak secara tidak langsung terhadap orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, kami ingin menghidupkan Dolly dengan wajah baru," kata Bintang Putra, anggota tim community engagement GFCP. 

Ada banyak jenis lokakarya yang rencananya bakal diadakan sampai Maret 2022. Mulai dari menulis, fotografi, film, musik, hingga seni. Mentor-mentornya pun kebanyakan anak muda, seperti Ivan Darski, fotografer yang karya-karyanya masuk ke media nasional maupun internasional seperti VICE dan Al Jazeera. Ada pula Wimar Herdanto, sutradara film Terra Machine, yang ditayangkan di Singapore International Film Festival, Jogja-Netpac Asian Film Festival dan Criterion Filmtheater Amsterdam.

GFCP merupakan program yang difasilitasi oleh UN Habitat dan didanai Pemerintah Inggris. Dolly Kita Colabs, adalah satu bagian dari program besar mereka. Yakni, riset mendalam soal Putat Jaya, mulai dari tata wilayah, transportasi, sosial, ekonomi, hingga budaya.

Tujuan Dolly Kita Colabs, adalah mewujudkan kolaborasi bermakna antara pelaku kreatif dan penduduk, untuk memperkasakan Putat Jaya sebagai tempat, individu dan masyarakat. Maka dari itu, tiap lokakarya diikuti dengan praktik lapangan dan terus melibatkan warga Putat Jaya. Termasuk dalam lokakarya menulis. 

 

Peserta lokakarya menulis berkeliling Putat Jaya untuk mengunjungi bekas rumah bordil, pabrik sepatu, hingga makam Mbah Kafiludin. (GFCP for Mainmain)

 

Sang mentor, Delya Oktovie Apsari, mengajak anak-anak untuk menulis kreatif dan praktik liputan di area Putat Jaya.

"Sebagai jurnalis, saya memang ingin menemukan kisah-kisah dari sudut pandang yang baru. Tetapi, lebih daripada itu, saya ingin peserta workshop membuat sendiri cerita mereka, dan menghasilkan narasi independen," ujarnya.

Dalam lokakarya yang digelar selama tujuh hari tersebut, Delya menemukan antusiasme luar biasa sekaligus karya-karya tulisan yang unik. 

"Tulisan mereka itu jujur dan imajinatif," kata penerima Academic Excellence Scholarship dari Bournemouth University, Inggris tersebut.

Ia pun mencontohkan seperti tulisan Okta Viona Ramadhani, siswi Pesantren Jauharotul Hikmah. Dalam cerpen berjudul Antara Pintu dan Dinding, Viona membayangkan obrolan antara pintu dan dinding di rumah bordil.

Karya-karya hasil seluruh lokakarya, nantinya akan dipamerkan untuk publik di awal tahun 2022. (*)

 

Related Articles
Interest
Yuk, Intip Keseruan Kelas Menulis Bareng Kak Windy Ariestanty!

Interest
Siapa Tandingan Asus Zenfone Max Pro M1?

Interest
Apple Siap Rekrut 1000 Karyawan Magang Selama Pandemi Covid-19