Current Issues

Studi: Infeksi Ulang Covid-19 Mayoritas Tidak Parah

Dwiwa

Posted on November 26th 2021

Pixabay/rikirisnandar

Orang yang sudah pernah terinfeksi Covid-19 dan sembuh masih bisa mengalami infeksi ulang di kemudian hari. Kabar baiknya, infeksi ulang Covid-19 ini jarang terjadi dan bahkan lebih jarang lagi mengalami sakit parah.

Dilansir dari CNN, sebuah studi baru yang dilakukan di Qatar menemukan jika peluang orang yang terinfeksi ulang untuk dirawat di rumah sakit atau meninggal adalah 90 persen lebih rendah daripada infeksi Covid-19 pertama.

Studi yang dipublikasikan pada Rabu di New England Journal of Medicine menemukan bahwa hanya ada sedikit infeksi ulang yang dikonfirmasi di antara 353.326 orang yang terkena Covid-19 di Qatar. Infeksi ulang jarang terjadi dan umumnya hanya ringan.

Gelombang infeksi pertama di Qatar terjadi antara Maret dan Juni 2020. Sekitar 40 persen populasi telah terdeteksi memiliki antibodi terhadap Covid-19. Kemudian dua gelombang lain menghantam dari Januari hingga Mei 2020. Ini sebelum varian Delta yang infeksius menyebar luas.

Para ilmuwan dari Weill Medicine-Qatar mencoba menentukan berapa banyak orang yang terinfeksi ulang dengan membandingkan catatan orang yang terkonfirmasi positif lewat tes PCR antara Februari 2020 dan April 2021. Sebanyak 87.547 orang yang sudah mendapat vaksin dikecualikan.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa di antara kasus yang tersisa ada 1.304 infeksi ulang. Waktu rata-rata antara penyakit pertama dan infeksi ulang adalah sekitar 9 bulan.

Di antara mereka yang teirnfeksi ulang, hanya ada empat kasus yang cukup parah hingga perlu di rawat di rumah sakit. Tidak ada kasus cukup parah yang memerlukan perawatan di ICU. Di antara kasus awal, 28 dinyatakan kritis. Sementara itu tidak ada kematian dalam kelompok infeksi ulang, sementara pada infeksi awal ada tujuh kematian.

“Ketika kalian hanya memiliki 1.300 infeksi ulang di antara banyak orang, dan empat kasus penyakit parah, itu sangat luar biasa,” kata John Alcorn, pakar imunologi dan profesor pediatri di University of Pittsburgh yang tidak berafiliasi dengan penelitian ini.

Studi itu memiliki keterbatasan. Ini dilakukan di Qatar, jadi tidak jelas apakah virus akan berperilaku sama di tempat lain. Penelitian ini dilakukan ketika varian Alpha dan Beta menjadi penyebab dari banyak infeksi ulang.

Ada 621 kasus yang belum ditentukan dan 213 dari virus “tipe liar”. Tidak disebutkan varian Delta yang kini mendominasi di berbagai negara. Itu bisa berdampak pada jumlah infeksi ulang.

Studi sebelumnya telah menunjukkan jika kekebalan alami menurunkan risiko infeksi. Sebuah studi yang dilakukan di Denmark yang diterbitkan pada Maret menemukan bahwa kebanyakan orang yang terinfeksi Covid-19 tampaknya memiliki perlindungan dari infeksi ulang yang tetap stabil selama lebih dari enam bulan. Tetapi pemeriksaan demografi dari siapa yang terinfeksi menunjukkan bahwa kebanyakan orang berusia 65 tahun ke atas. Studi ini tidak menjelaskan berapa lama perlindungan berlangsung, dan studi Qatar yang baru juga tidak.

Penelitian yang dilakukan oleh Alcorn sendiri tentang kekebalan alami menunjukkan bahwa tingkat antibodi juga bervariasi secara signifikan dari orang ke orang. Para ilmuwa masih belum mengetahui tingkat antibodi yang melindungi. Tetapi dalam beberapa kasus, tingkat setelah indeksi mungkin tidak cukup untuk mencegah seseorang jatuh sakit lagi.

“Perlu ditentukan apakah perlindungan terhadap penyakit parah pada infeksi ulang berlangsung untuk waktu yang lebih lama, analoginya seperti kekebalan yang berkembang terhadap virus corona ‘pilek biasa’ musiman lainnya, yang memperoleh kekebalan jangka pendek terhadap reinfeksi ringan tetapi memiliki kekebalan jangka panjang terhadap penyakit lebih parah saat terinfeksi ulang,” jelas penelitian tersebut.

“Jika ini juga terjadi pada SARS-CoV-2, virus (atau setidaknya varian yang dipelajari hingga saat ini) dapat mengadopsi pola infeksi yang lebih jinak ketika menjadi endemik.” (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Bukan Hanya Delta, Para Ilmuwan Juga Waspada Varian Gamma

Current Issues
WHO Sebut Varian Delta Sebagai Jenis “Terkuat” dan “Memburu” yang Lemah

Current Issues
Sudah Tersebar di 85 Negara, WHO: Varian Delta Paling Cepat Menular dan Menyebar