Lifestyle

Survei: Hampir Setengah Umat Manusia Makan Terlalu Banyak atau Terlalu Sedikit

Dwiwa

Posted on November 25th 2021


Pixabay/Wow_Pho

Sebuah survei global tentang pola makan manusia telah menemukan jika hampir separuh penduduk di Bumi kekurangan atau kelebihan makanan. Selain itu pilihan nutrisi kita memiliki dampak serius tidak hanya bagi kesehatan kita, tetapi juga kesehatan planet.

Dilansir dari CBS News, 2021 Global Nutrition Report, sebuah survei independen yang dilakukan setiap tahun sejak 2013, memperkirakan bahwa sekitar setengah dari populasi global kekurangan berat badan, kelebihan berat badan, atau obesitas.

Data menunjukkan bahwa seperempat dari semua kematian di kalangan orang dewasa disebabkan oleh pola makan yang buruk. Selain itu, dunia tidak berada di jalur yang tepat untuk memenuhi lima dari enam target nutrisi global yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan itu juga menunjukkan jika kebiasaan makan kita ikut berperan merusak lingkungan. Produksi makanan saat ini menghasilkan lebih dari sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca secara global. Pola makan daging menjadi yang paling banyak bertanggung jawab atas bagian terbesar dari emisi tersebut.

Global Nutrition Report (GNR), mengatakan bahwa satu porsi daging merah bertanggung jawab atas sekitar 100 kali emisi dari satu porsi makanan nabati. Sementara konsumsi daging merah terus meningkat.

Negara-negara berpenghasilan tinggi memiliki dampak yang tidak proporsional secara global. Mereka memiliki asupan makanan tertinggi dengan biaya yang signifikan untuk kesehatan dan lingkungan. Negara-negara kaya juga memiliki proporsi kematian idni tertinggi yang dikaitkan dengan risiko diet: 31 persen di Amerika Utara dan Eropa.

Menurut GNR, jika semua penduduk dunia makan seperti yang dilakukan orang Amerika Utara, emisi gas rumah kaca akan melonjak hingga lebih dari 600 persen dari tingkat yang diperlukan untuk membatasi pemanasan global hingga di abwah 2 derajat Celcius.

Sebagai perbandingan, jika dunia mengadopsi pola makan khas negara-negara Afrika atau Asia, dampak dari pola makan manusia hanya akan meningkatkan pemanasan hingga 60-75 persen di atas tingkat berkelanjutan.

Penelitian lain mengungkap jika tampaknya ada pemisahan gender dalam cara kita makan. Sebuah studi yang dilakukan di Inggris telah menemukan bahwa emisi yang terkait dengan diet pria adalah 41 persen lebih tinggi dibanding dengan diet wanita, terutama karena asupan daging yang lebih besar.

Pilihan yang lebih sehat di toko kelontong sering dianggap mahal, tetapi penelitian lain, yang dipimpin oleh Dr. Marco Springmann di Universitas Oxford, menentang persepsi itu, setidaknya di tempat-tempat kaya seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Penelitian yang dilakukan Springmann yang diterbitkan akhir bulan lalu di The Lancet menunjukkan jika orang-orang di negara berpenghasilan tinggi kemungkinan akan menghemat uang mereka dengan beralih ke pola makan nabati. Sedangkan perubahan ini akan membuat orang-orang di negara berpenghasilan menengah ke bawah mengeluarkan lebih banyak uang daripada mempertahankan kebiasaan makan mereka saat ini.

“Ketika ilmuwan seperti saya menganjurkan makan yang sehat dan ramah lingkungan, sering dikatakan bahwa kami sedang duduk di menara gading sambil mempromosikan sesuatu yang secara finansial di luar jangkauan kebanyakan orang,” jelas Springmann kepada The Guardian. “Studi ini menunjukkan bahwa justru sebaliknya. Diet ini bisa lebih baik u ntuk saldo bank serta kesehatan kalian dan kesehatan planet ini.’

Penelitian menunjukkan bahwa selain manfaat kesehatan pribadi, pola makan yang lebih baik juga akan membantu planet ini.

Data Inggris menunjukkan bahwa orang yang asupan lemak jenuh, karbohidrat, dan natriumnya sesuai dengan tingkat yang direkomendaskan WHO bertanggung jawab atas emisi gas rumah kacayang jauh lebih sedikit daripada orang yang melebihi tingkat yang direkomendasikan. Dan penyesuaian yang relatif lebih mudah untuk pilihan belanja dapat membantu mengatasi ketidakseimbangan.

“Kita semua ingin melakukan bagian kita untuk membantu menyelamatkan planet ini. Mencari tahu cara mengubah pola makan kita adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk itu,” kata penulis dari studi skala kecil di Inggris tersebut.

“Ada konsep luas seperti mengurangi asupan daging, terutama daging merah, tetapi pekerjaan kami juga menunjukkan bahwa keuntungan besar dapat dibuat dari perubahan kecil, seperti mengurangi makanan manis, atau mungkin hanya mengganti merek.”

Menurut GNR, investasi untuk meningkatkan nutrisi di tingkat nasional, menciptakan peluang bisnis baru di bidang pertanian regeneratif. Selain itu mencegah sampah makanan dapat menghasilkan perkiraan keuntungan bagi masyarakat global kita sekitar USD 5,7 triliun per tahun pada 2030.

“Kami tidak pernah lebih dilengkapi dengan bukti dan alat yang kami butuhkan untuk melakukan apa yang diperlukan untuk populasi dan planet yang bergizi baik dan berkembang,” laporan itu menyimpulkan.

Related Articles
Lifestyle
Jangan Remehkan, Ini Dampak Buruk yang Bisa Kalian Dapat Jika Obesitas

Lifestyle
Stop Kebiasaan Buruk Ini Jika Kalian Tidak Ingin Obesitas

Lifestyle
Catat! 3 Kebiasaan Ini Bakal Bikin Masa Remajamu Tetap Sehat