Esports

Terlibat Match Fixing, Valve Banned Omega Esports di Scene DOTA 2

Dika Afandi N

Posted on November 24th 2021

Foto: Omega Esports

Salah satu tim DOTA 2 asal Filipina yaitu Omega Esports baru saja terlibat match fixing atau pengaturan skor. Valve sebagai developer DOTA 2 akhirnya menindak tegas Omega Esports. Mereka di-banned dari seluruh event resmi Valve dan kehilangan tempat division 1 South East Asia (SEA). Posisi Omega Esports pun digantikan oleh tim asal Indonesia yakni BOOM Esports yang menempati posisi ke-7 pada regional league musim lalu.

Kabar tersebut hadir dari official akun Twitter DOTA 2 Pro Circuit (DPC) South East Asia pada Selasa (23/11) malam. Tak hanya timnya saja yang terkena, namun para pemain dari Omega Esports juga terkena imbasnya. Mereka adalah “Hiro”, “Prince”, “Piolz”, “Zenki”, “Van”, dan “CTY”.

Di sisi lain “Ramz” dan “Forev” yang baru saja bergabung seminggu lalu, untungnya tidak terlibat kasus tersebut. Tak pelak, mereka tetap diperbolehkan berkompetisi dengan tim lain. Team Execration (Filipina) yang baru saja merekrut “Van” sebagai offlaner, akhirnya diperbolehkan mengisi slot pemain kosong. Kabar tersebut juga disampaikan oleh akun Twitter milik DPC SEA.

Sedangkan untuk pengganti posisi BOOM Esports di divisi 2, Valve akan menghelat kualifikasi tertutup pada 26 November. Kualifikasi tersebut akan menggunakan format single elimination dengan peserta berjumlah tiga tim saja. Tim yang Tim yang kalah di semifinal kualifikasi terbuka kedua akan bertarung melawan runner up dari kualifikasi terbuka kedua. Pemenangnya akan mendapat slot ke divisi II SEA Regional League.

Hal tersebut tentunya banyak pro dan kontra. Sebab, saat ini kualifikasi kedua telah bergulir. Imbasnya “Ramz” dan “Forev” pun tak bisa mengikuti panasnya DPC SEA. Fans juga berharap agar Valve membuka kualifikasi terbua ketiga untuk kedua pemain yang bernasib malang tersebut.

“Ramz” sendiri merupakan pemain asal Indonesia. Ia pernah membela Evos Esports dan terakhir kali ia memperkuat BOOM Esports di kejuaraan BTS Pro Series Season 6: Asia Tenggara. Kasus match fixing ternyata masih marak dilakukan oleh tim profesional di kancah Internasional scene esports DOTA 2. Semoga ke depan bisa lebih profesional karena sistem kompetisinya sudah semakin baik dan memperhatikan juga tim-tim tier 2. (*)

Related Articles
Esports
Jelang DPC SEA, BOOM Esports Gaet “Tino”

Esports
DPC SEA: Bungkam Fnatic, BOOM Esports Naik Posisi 3 Klasemen Sementara

Esports
Gagal Lolos ke One Esports Singapore Major 2021, BOOM Esports Resmi Depak “Drew”