Interest

Milenial Versus Baby Boomers, Mana yang Paling Bahagia di Tempat Kerja?

Jingga Irawan

Posted on November 22nd 2021

Gambar: Shutterstock

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern dunia kerja, ada empat generasi yang kerja bareng. Meskipun mungkin kelihatannya nggak banyak perbedaan, kecuali usia, ternyata ada berbagai macam pemikiran soal “kerja” di antara generasi-generasi tersebut.

Dilansir Forbes, GoodHire menyurvei 4.000 orang Amerika Serikat termasuk Generasi Baby Boomer, Milenial, Gen-X, dan Gen-Z, Mereka diminta menjelaskan perasaan sebenarnya tentang apa arti pekerjaan dan mencari tahu apakah mereka bahagia dan bermakna saat bekerja.

Asumsi sederhana untuk studi ini sebagian didasarkan pada tema-tema yang sekarang mendominasi pasar kerja. Misalnya pekerjaan jarak jauh (WFH), peningkatan otonomi, fleksibilitas harian, PHK, dan penurunan gaji, semuanya menyebabkan perubahan pola pikir bagi tenaga kerja.

Orang-orang yang mulai bosan dengan kehidupan pekerjaan mulai merenungkan kebahagiaan dalam pekerjaan itu sendiri. Pengunduran diri besar-besaran adalah salah satu hasilnya.

Jutaan pekerja menyuarakan ketidakbahagiaan di tempat kerja dan menghubungkan ketidakbahagiaan di tempat kerja dengan masalah pribadi mereka. Dengan konteks tersebut, penelitian ini menanyakan setiap generasi apakah mereka benar-benar bahagia di tempat kerja mereka.

Gen-Z (1996-2010)

Survei menemukan 22 persen gen-Z nggak bahagia atau membenci pekerjaan, membuat mereka menjadi generasi yang paling nggak bahagia, waduh!

Gen-Z adalah yang paling sedikit, dengan hanya 41 persen, yang menemukan makna dan tujuan yang besar. gen-Z juga disebut sebagai generasi yang paling tak puas dengan keseimbangan kehidupan kerja, atau biasa kita sebut work-life balance.

Milenial (1980-1995)

Sementara itu, survei menemukan 57 persen Milenial sangat bahagia di tempat kerja, sehingga menjadikan mereka generasi paling bahagia. Bahkan, 60 persen milenial menemukan makna dan tujuan besar di tempat kerja, nggak salah lagi jika mereka generasi yang paling berprestasi.

Milenial juga dipercaya masih memimpin dalam mencari pekerjaan baru 12 bulan ke depan, dengan 46 persen dari mereka berencana untuk melakukannya. Tetapi, 68 persen milenial lebih bahagia bekerja dari jarak jauh.

Gen-X (1965-1979)

Sedikit lebih dari angka 50 persen, Gen-X mengatakan bahwa mereka bahagia. Tetapi mereka punya kesamaan dengan dua generasi di bawahnya. Gen-X, milenial, dan gen-Z paling nggak suka oleh perilaku bos atau manajer mereka, sementara baby boomer paling bermasalah dengan perolehan gaji.

Baby boomer (1946-1964)

Hanya 30 persen baby boomers yang benar-benar puas dengan gaji mereka, diikuti gen-Z (32 persen), gen-X (42 persen) dan milenial (47 persen). Baby boomers adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk mencari pekerjaan baru tahun depan. Berbeda dengan milenial, generasi ini paling nggak senang dengan pekerjaan jarak jauh (37 persen). Tetapi, baby boomers punya kesamaan dengan gen-Z, Hanya 41 responden dari keduanya yang mengaku sangat senang bekerja.

Penyebab Kebahagiaan dan Ketidakpuasan

Awalnya, mungkin sulit untuk percaya bahwa milenial adalah yang paling bahagia di tempat kerja. Kebanyakan dari mereka menanggung beban pengeluaran keluarga, memulai karir mereka dalam krisis keuangan dan banyak yang kariernya jatuh karena pandemi Covid-19. Tetapi, milenial biasanya memiliki sumber kebahagiaan lainnya, misalnya tujuan untuk mulai berkeluarga. Hal inilah yang bisa berdampak positif bagi dunia kerja mereka.

Sementara, gen-X dibayangi baby boomer dan milenial. Usia tertua dari generasi ini, sekitar pertengahan hingga akhir 50-an, mulai berpikir untuk pensiun. Namun untuk yang lebih muda, mereka memiliki pengalaman yang cukup dalam angkatan kerja dan sekarang berada di posisi menengah atau tinggi, sehingga memiliki pendapatan yang cukup.

Para gen-X juga juga memiliki kelebihan di waktu, terutama karena mereka hidup lebih lama, sehingga bisa terus berkembang dalam karier mereka atau fokus ke sesuatu yang baru dan berbeda.

Dan Gen-Z dinilai memiliki awal yang buruk di dunia kerja, mereka lahir di era globalisasi yang kejam, melalui krisis keuangan, menyaksikan fenomena sosial seperti Black Lives Matter, melihat pertarungan politik dan peperangan, media sosial yang menekan kesehatan mental dan terjebak pandemi Covid-19.

Belum lagi, bayang-bayang program magang tanpa dibayar. Tantangan-tantangan ini bisa membuat mereka merasa seolah-olah tempat kerja itu menyebalkan, tetapi bisa juga memotivasi mereka untuk maju menghadapinya.

So, hasilnya dengan jelas menunjukkan bahwa para pemimpin bisnis harus lebih fokus melihat berbagai opini di antara karyawan mereka. Secara keseluruhan, semua generasi memiliki pandangan berbeda. Sehingga, eksekutif perusahaan perlu melihat survei semacam ini.

HRD dan manajer harusnya perlu bertanya kepada karyawan mereka bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya, secara aktif mendengarkan jawaban mereka dan mengambil tindakan yang tepat.

Jika mereka mengabaikan kebutuhan dan keinginan pekerja, karyawan terbaik dan paling bisa diandalkan akan keluar dari industri tersebut. Mereka tentu tak akan dapat menggantikannya, karena tersebar kabar bahwa gen Z dan milenial juga bisa lebih mementingkan kebahagiaan di luar. (*)

Related Articles
Interest
Dear Gen Z, Pendapatanmu Bakal Kalahkan Milenial 10 Tahun Lagi Nih...

Current Issues
Jangan Sembrono, Covid-19 Juga Bisa Berdampak Serius untuk Kaum Muda

Current Issues
Survei: Stres Akibat Pandemi Bikin Orang Sulit Membuat Keputusan Dasar